Banjarmasin, KP – Tahun 2022 ini menjadi target Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina untuk menghapus sepenuhnya keberadaan jamban apung di Kota Banjarmasin.
Bukan tanpa alasan, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin sendiri menginginkan agar angka Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kota Banjarmasin bisa ditingkatkan.
Perlu diketahui, STBM sendiri merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higenis dan sanitasi, melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicu.
Program STBM memiliki indikator outcome dan output. Indikator outcome STBM diantaranya yakni menurunkan terjadinya penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.
Sedangkan indikator output STBM, sebagian diantaranya yakni setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar yang sehat.
Sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat. Atau setiap rumah tangga, mampu mengelola limbahnya dengan benar.
“Kita mesti menaikan angka Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Agar tercapai, setidak ada 2.000 jamban yang harus dihilangkan,” ucap saat ditemui awak media di Balai Kota belum lama tadi.
Ibnu menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan, yakni dengan melalui Program Jamban Sehat yang digagas Forum Kota Sehat.
Menurut orang nomor satu di Bumi Kayuh Baimbai ini, pihaknya meyakini hal itu bisa terwujud. Meskipun dinilainya cukup berat dalam proses pelaksanaannya.
Pemko sebenarnya sudah menjalankan program itu selama dua tahun lalu. Dan tahun ini adalah tahun ketiga.
Dari hasil pemetaan kini, setidaknya tersisa ada sebanyak 20 dari total 52 kelurahan yang sanitasinya perlu diperhatikan.
Salah satu solusinya, jamban-jamban yang berada di pinggir sungai itu diganti dengan biofilter atau dengan program water closet (wc) komunal yang dibangun di beberapa tempat.
Demikian juga dengan wc yang ada di perkumiman warga. Apabila ternyata wc yang berada di kawasan permukiman itu dinilai tak layak.
“Kami berharap, program ini bisa didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Di samping nanti juga ada program serupa dari Dinas Perkim, PUPR, juga bantuan CSR untuk menata sanitasi di Kota Banjarmasin. Mudah-mudahan tidak ada lagi jamban yang ada di pinggir sungai,” harapnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Forum Kota Sehat Banjarmasin, Fathurrahman. Ia menginginkan adanya perubahan. Dari jamban-jamban yang tidak sehat, menjadi jamban yang sehat.
“Jamban yang tidak sehat, khususnya jamban yang ada di sungai, menyebabkan E-Coli semakin tinggi,” bebernya.
“Karena berdasarkan riset yang ada, E-Coli di Sungai Martapura kita ini sudah 100 persen lebih dari baku mutu,” tambah pria yang akrab disapa Fathur itu.
Karena itulah, kondisi saat ini lantas menjadi masalah di Kota dengan julukan Seribu Sungai ini. Mengingat menurutnya, sehat itu diawali dari lingkungan yang sehat.
“Lalu ada juga jamban di rumah, tapi pembuangannya justru tidak diatur. Langsung masuk ke selokan atau sungai dan sebagainya. Ada pula yang masuk sepiteng. Tapi, sepitengnya tidak standar, itu juga tidak sehat,” imbuhnya.
Untuk itu, ia mengharapkan, dari 20 kelurahan, di tahun ini masalah yang menyangkut sanitasi itu bisa dihilangkan sepenuhnya.
“Kami akan berupaya membantu semaksimal mungkin. Ambil contoh, misalnya di satu rukun tetangga (RT) itu ada lima jamban yang tidak sehat, akan kita lihat apakah bisa dengan dibantu dengan membuatkan wc komunal,” ungkapnya.
“Atau kami lihat, bisakah dengan hanya melakukan sedikit perombakan dan sebagainya, agar jamban milik warga itu benar-benar dapat dikatakan sehat,” lanjutnya
“Dari 20 kelurahan itu, tidak hanya jamban yang di sungai saja. Ada juga di darat atau permukiman, tapi pembuangannya langsung ke bawah rumah. Tidak ditampung dalam sepiteng dan lain sebagainya,” tekannya.
Lebih jauh, Fathurrahman juga menjelaskan bahwa saat ini pihaknya juga sedang mendesain bio filter yang lebih ramah di kantong masyarakat untuk membuat septic tank yang ramah lingkungan.
Mengingat saat ini, harga bio filter di pasaran itu berkisar antara Rp5 juta sampai Rp7 juta itu per unit. Yang satu unitnya, bisa untuk dua buah rumah.
“Kami targetkan, tahun 2022 bisa terealisasi. Karena sehat itu sebenarnya dimulai dari belakang dapur. Makanan sehat, sanitasi sehat,” pungkasnya. (Kin/K-3)















