Iklan
Iklan
Iklan
HEADLINE

Kegelisahan Perempuan dan Penyadaran Esensi Utama Demokrasi

×

Kegelisahan Perempuan dan Penyadaran Esensi Utama Demokrasi

Sebarkan artikel ini
DIREKTUR AKSARA perempuan Siti Mauliana, SIP, MA memandang adannya penyusnan kembali demokrasi berkeadilan untuk kaum perempuan. (Ist)

Banjarmasin, KP – Dosen Fisip (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yang juga Direktur AKSARA perempuan Siti Mauliana, SIP, MA memandang adannya penyusunan kembali demokrasi berkeadilan untuk kaum perempuan.

Hal itu ditegasakan dalam Diskusi terbatas dengan tema “menyusun ulang demokrasi berkeadilan untuk perempuan” yang dihadiri oleh komunitas dan aktivis perempuan di Kalimantan selatan (Narasi Perempuan, Aksara Perempuan, LK3, Komunitas Perempuan Interfaith, Jurnalis Perempuan), Selasa (3/4).

Android

Diakui memang temu gagasan akan kegelisahan perempuan ini bertujuan untuk mendorong perbincangan hingga penyadaran publik mengenai esensi utama Demokrasi yang mendorong kesetaraan dan keadilan.

Namun pada realitasnya diaplikasikan ada ke timpangan.

Bahkan kegiatan berlangsung di salah satu sudut kafe “Genji” yang lekat tempat berkumpulnya anak-anak muda inilah deliberasi akan gagasan dan kegelisahan mengenai politik perempuan diperbincangkan.

Bahkan, munculnya survei yang secara massif diproduksi di ruang publik namun tanpa sadar seolah telah menegasikan kehadiran perempuan.

Survei seakan menebalkan bahwa politik adalah arena milik para lelaki, bahkan berbagai media sibuk memberitakan hingga eksistensi perempuan semakin terpinggirkan dalam konstelasi politik elektoral di Kalimantan Selatan.

Bahkan, selaku penggagas diskusi ini turut merasa miris dengan klaim survei “elektabilitas”, yang terlalu dini disaat perempuan masih merangkak untuk memperkenalkan dirinya dan berjuang untuk meyakinkan para pengampu kekuasaan untuk dapat memasuki gerbang penjaringan bakal calon untuk Pilkada 2024.

Sayangnya, vonis bahwa perempuan telah terekslusi dalam angka-angka dari pilihan masyarakat semakin menambah curam jurang yang harus mereka hadapi.

Hal ini tentu tidak sejalan dengan sejarah atau rekam jejak tokoh-tokoh perempuan di Tanah Banjar, terdapat sederet nama yang memiliki peran strategis yang berkontribusi besar dalam bidang politik dan pemerintahan di Bumi Lambung Mangkurat.

Baca Juga:  Bupati Banjar Pantau Kesiapan Haul ke-19 Guru Sekumpul

Seperti Putri Mayang Sari, Nyai Kumala Sari, Ratu Zaleha, hingga Ny Gusti Nursehan Djohansyah tokoh perempuan di era revolusi fisik yang kini namanya diabadikan pada Gedung Wanita Provinsi Kalsel.

Sayangnya, catatan sejarah perjuangan perempuan ini mulai terlupa dan tergantikan dengan doktrin-doktrin patriarki yang berwujud dalam prasangka-prasangkasinis.

Siti Mauliana, meyakini bahwa inilah saat yang tepat bagi wajah demokrasi kita untuk berbenah secara serius, dengan mengedepankan keadilan sosial sebagaimana cita-cita bangsa.

Jika politik praktis terus saja meagungkan doktrin dan dominasi para laki-laki, maka bersiap-siaplahlah demokrasi kita untuk menggali lubang kuburannya sendiri.

Sebagaimana para ahli demokrasi menyimpulkanbahwa lembaga-lembaga demokrasi harus dikonsep ulang untuk menerima semua orang yang secara sistematis terpinggirkan.

Ada 3 langkah penting yang kami yakini menjadi krusial untuk menjadi bekal bagi perempuan memasuki panggung kontestasi kepala daerah.

Yaitu Komitmen Partai Politik untuk membuka ruang bagi Perempuan menjadi calon Kepala Daerah, Dukungan para elit politik dan ekonomi sebagai aliansi berpengaruh bagi perempuan dan Solidaritas Komunitas dan Aktivis Perempuan untuk mendorong kepemimpinan yang Multigender. (*/nau/K-2)

Iklan
Iklan