Oleh : Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah , LC, MA
Bulan yang penuh berkah yakni Ramadhan kini sudah berada di penghujung akhir mengingatkan kembali bahwa kesuksesan seorang muslim di bulan Ramadhan adalah dilihat dari penutupnya.
Wahai orang-orang yang beriman, Allah memanggil kita. Allah menyeru kita, berulang-ulang kali Allah panggil kita dalam kitabNya, tapi adakah telinga yang mau mendengar? Hati yang mau sadar dan mencerna panggilan Allah? Allah mengatakan:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa.”
Sering kita mendengar ucapan itu. Tapi sudahkah kita berubah menjadi orang yang bertakwa?
Bukan hanya status yang dirubah, tapi hati yang penuh dengan ketaqwaan, mematuhi perintah Allah, menjauhi laranganNya, mensyukuri nikmat yang Allah berikan yang tidak melupakannya. Dan Allah mengatakan:
“Janganlah kalian mati kecuali dalam kondisi Islam.”
Ramadhan hampir pergi dari kita!
Baru beberapa hari yang lalu kita mendengar ucapan-ucapan tahniah, ucapan-ucapan selamat di pinggir jalan, di kantor, di manapun kita melihat, Marhaban Ya Ramadhan. Tapi Subhanallah, kiranya sudah 27 hari kita berpuasa. Dia pergi meninggalkan kita begitu cepatnya.
Coba kita lihat baginda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apa yang sebenarnya beliau lakukan di 10 hari terakhir? Puncak dari Ramadhan.
Istrinya, ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, dia menceritakan bagaimana suaminya. Ini bukan cerita orang, bukan sebuah pencitraan yang ditampakkan di depan manusia. Bukan! Ini teman tidurnya yang bercerita.
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada sepuluh hari yang akhir sangat bersungguh-sungguh, sesuatu yang tidak beliau lakukan pada hari-hari yang lain.” (HR. Muslim)
Apakah kita sudah mempersiapkan diri atau kita sudah mulai lemas? Semangat kita mulai kendur, tidak seperti di awal Ramadhan. Beliau ‘Alaihish Shalatu was Salam tidak hanya beribadah untuk dirinya sendiri. Beliau memikirkan keluarganya. Beliau bangunkan istrinya, beliau bangunkan putrinya, beliau bangunkan menantunya, sambil beliau mengencangkn sarungnya, meninggalkan istri-istrinya.
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki sepuluh terakhir, maka beliau menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan sarungnya” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia yang termulia, yang telah diampuni dosa-dosa dia, yang lalu dan yang akan datang, beliau membangunkan keluarganya. Beliau bangunkan istrinya untuk turut beribadah. Beliau datang ke rumahnya Fatimah, beliau datang ke rumahnya Ali bin Abi Thalib, beliau membangunkan keduanya mengatakan:
“Apakah kalian berdua tidak mau shalat?” (HR. Bukhari)
Ini waktunya berlomba-lomba! Belum selesai Ramadhan ini. Beliau kencangkan sarungnya, beliau bersungguh-sungguh semangat. Sebagian kita, di sepuluh hari terakhir dia kendurkan sarungnya, dia sibuk dengan makan, dia sibuk dengan membuat kue, kegiatan-kegiatan yang seharusnya dia tunda.
Beliau hidupkan malam dengan apa?
Dalam setahun ada 356 hari. Sepuluh hari Ramadhan berpisah dari rumahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kita masih ada sisa-sisa hari yang perlu kita perjuangkan. Di situ ada satu malam yang kata Allah ‘Azza wa Jalla
“Lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr[97]: 3)
Kita bisa melihat bagaimana semangatnya orang bekerja tatkala dijanjikan gaji berlipat ganda. Kita lihat karyawan-karyawan yang dijanjikan apabila engkau tetap di kantor selama sepuluh hari ketika libur, maka akan aku lipat gandakan sepuluh bulan gaji, aku lipatkan seratus bulan gaji, aku lipatkan seribu bulan. Bagaimana kalau ini Rabbul ‘Alamin yang menawarkan kepada kita? Satu malam
Kalau kiranya Antum di malam-malam 10 hari terakhir kurang semangat, jangan lupa di malam 23, jangan lupa di malam 25, jangan lupa di malam 27, harapan semakin besar dan kita perlu mempersiapkan diri dari sekarang.
Kebanyakan orang mempersiapkan diri untuk lebaran, mempersiapkan diri untuk mudik, dia beli tiket berbulan-bulan sebelum acara tersebut. Tapi untuk Lailatul Qadar, apa yang sudah kita persiapkan? Apa yang sudah kita pesan di malam itu?
Allah ‘Azza wa Jalla tahu dengan kelemahan kita. Tatkala engkau tidak bisa beribadah dengan sempurna, minta pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan itu konsekuensi kita sebagai hamba Allah tatkala kita mengatakan:
Di malam-malam 10 hari terakhir, kalau kita lewat di masjid-masjid, kita akan melihat rumah Allah mulai sepi dari pengunjungnya. Shaf itu semakin maju. Tapi kalau kita melewati tempat yang paling dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kalau kita melewati pasar di 10 hari terakhir, kita melihat umat Islam berbondong-bondong. Sejak selesai berbuka mereka meninggalkan rumahnya untuk ke tempat setan memasang benderanya di sana. Kata Rasul Shallallahu ‘alahi wasalam
“Tempat yang paling dicintai Allah di muka bumi ini adalah masjid-masjidNya.” (HR. Muslim)
Masjid adalah rumah Allah ‘Azza wa Jalla.
“Dan yang paling dibenci adalah pasar.” (HR. Muslim)
Tapi kenapa kita melihat saudara-saudara kita berlomba-lomba tak kenal waktu? Dia keluarkan hartanya, dia habiskan waktunya di malam-malam Allah berbagi Lailatul Qadar? Apa masalahnya jama’ah? Apakah dakwah kita belum sampai kepada mereka? Atau karena memang manusia seperti kata Allah:
“Karena kalian lebih mementingkan kehidupan dunia. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.“(QS. Al-A’la[87]: 16-17)
Akhirat lebih baik dari rumahmu dan isinya, lebih baik dari kota ini dan isinya, lebih baik dari bumi ini dan isinya.
Kita semua tahu dua rakaat sebelum subuh. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasalam
“Dua rakaat (sebelum) Subuh lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim)
Tapi memang kebanyakan manusi:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum[30]: 7)
Ilmu mereka cuma dunia, masa pensiun dia, rumah tempat istirahat dia, mobil kendaraan dia, pandai untuk mencari dunia, dia bisa membuat gedung yang tinggi, dia membuat jembatan yang kuat dan kokoh, tapi membuat jembatan menuju surga Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah dia pikirkan.
Maka kita perlu terus berdakwah, terus mengajak. Dan jangan lupa ajak diri kita untuk menghidupkan malam-malam 10 terakhir ini. Semoga Allah memberikan karuniaNya kepada kita, Lailatul Qadar.
Barakallah Fiikum












