Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

MEREDAM MALAIKAT IZRAIL

×

MEREDAM MALAIKAT IZRAIL

Sebarkan artikel ini

Oleh : H. SUPRIATNO

Di dalam kitab Duratun Nasihin diceritakan bahwa malaikat Izrail tidak bisa mencabut ruh seorang mu’min dari berbagai arah anggota tubuh tempat keluarnya ruh yang meliputi mulut, tangan, kaki, telinga dan mata, karena anggota tubuhnya tersebut berhujjah dengan amalan-amalan sunnah yang selalu dia lakukan.

Saat malaikat Izrail datang dari arah mulut untuk mencabut ruhnya. Namun keluarlah dzikir seraya berkat kepada malaikat Izrail bahwa, “tidak ada jalan bagimu hai malaikat Izrail untuk mencabut ruh dari arah ini”, karena dia senantiasa berdzikir kepada Tuhannya. Kemudian malaikat Izrail kembali kepada Tuhannya dan melaporkan bahwa orang mu’min tersebut mengatakan begini dan begini. Selanjutnya Allah berfirman dalam hadis qudsy, “Cabutlah dari arah lain hai malaikat Izrail”. Malaikat Izrail datang dari arah tangan, maka keluarlah dari tangan sedekah dan usapan kepala anak yatim, dan tangan mengatakan sama seperti yang dikatakan oleh mulut. Malaikat Izrail datang dari arah kaki dan kaki berkata, bahwa orang ini berjalan denganKu menuju tempat shalat berjamah dan majlis-majlis ilmu, selanjutnya kaki mengatakan seperti yang dikatakan mulut dan tangan. Selanjutnya malaikat Izrail dari arah telinga, telingapun berkata bahwa dia selalu mendengarkan ayat-ayat Al-Quran dan dzikir. Demikan juga dengan mata bahwa dia s
elalu melihat mushaf-mushaf dan kitab-kitab. Kedua anggota tubuh ini, yakni mata dan telinga mengatakan sama seperti yang dikatakan mulut, tangan dan kaki.

Akhirnya malaikat Izrail melapor kepada Allah, “Ya Allah, bagaimana aku bisa mencabut ruhnya, lalu Allah berfirman, “Tulislah namaKu di telapak tanganmu lalu perlihatkanlah kepada orang mu’min itu”, maka orang mukmin itu melihat nama Allah, lalu mencintainya, akhirnya keluarlah ruh orang mukmin melalui mulutnya dengan rahmat-Ku tanpa merasakan pedih dan sakitnya mati yang berlebihan. Ternyata hubungan antara amaliyah dengan anggota tubuh tidak bisa dilepaskan dengan makna keberadaan Allah. Hujjatul Islam Imam Al Ghazali di dalam risalahnya bidayatul Hidayah menukil hadis qudsyi Nabi SAW, Allah SWT berfirman, “Tidak ada suatu cara yang lebih sesuai untuk hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan seumpama mereka melakukan ibadah yang Aku fardhukan atas mereka. Dan senantiasa seorang hamba mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan menambah amalan-amalan yang sunnah, sehingga Aku mencintainya, maka apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah pendengaran yang ia mendengar dengannya dan Akulah penglihatan yang ia meli
hat dengannya dan Akulah lidahnya yang ia berkata dengannya dan Akulah tangannya yang ia memegang dengannya dan Akulah kakinya yang ia berjalan dengannya”. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Baca Juga:  Membangkitkan Kesadaran Umat untuk Bertransaksi Syariah

Berdasarkan hadis qudsy tersebut dapat dipahami bahwa amalan-amalan fardhu merupakan amalan standar yang berlaku bagi orang Islam yang mukallaf atau memenuhi persyaratan. Artinya kalau amalan yang fardhu, seperti shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, naik haji, membayar zakat. Dalam konteks syar’i amalan fardhu selama memenuhi persyaratan untuk itu dikerjakan berpahala dan ditinggalkan berdosa. Pemberlakuan hukum seperti ini bersifat umum tidak perduli siapapun orangnya, mau orangnya alim atau orang awam biasa. Kendatipun demikian kwalitas nilai pahala tetap berbeda antara hamba yang satu dengan yang lainnya, karena dipengaruhi oleh salah satu diantaranya adalah keikhlasan dalam melaksanakannya.

Berbeda dengan amalan-amalan sunnah. Amalan sunnah, ditinggalkan tidak berdosa, tetapi dikerjakan berpahala. Oleh karena itu untuk mendapatkan pahala yang lebih, tentunya amalan-amalan sunnah menjadi prioritas untuk dikerjakan, mengingat posisinya sebagai penentu. Bagi seorang yang tidak sekadar ingin mendekatan diri kepada Allah. Akan tetapi ingin menjadi hamba Allah as saabiquun al muqarrabuun yang lebih dicintai Allah, maka amalan-amalan sunnah menjadi lebih penting untuk dikerjakan. Ketika amalan-amalan sunnah sudah tidak terpisahkan dari anggota tubuh seorang hamba Allah tanpa meninggalkan amalan-amalan yang difardhukan, maka malaikat Izrail tidak bisa semaunya mencabut ruh dari jasad.

Semoga Allah menguatkan iman untuk melaksanakan amal-amal yang di fardukan atas kita, dan melaksanakan amalan-amalan sunnah, sehingga terposisi sebagai hamba yang as saabiquun al muqarrabuun yang dicintai Allah. Aamiin

Iklan
Iklan