Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Beauty Influencer, Sang Pembentuk Standar Kecantikan Masa Kini

×

Beauty Influencer, Sang Pembentuk Standar Kecantikan Masa Kini

Sebarkan artikel ini
influencer

Penulis :
Jihan Aisya Nugroho
Universitas Dian Nuswantoro
Semarang

jihan

Banyak orang mengandalkan media sosial sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi dan hiburan sehari-hari. Dengan kemajuan di era digital dan makin banyaknya orang menggunakan platform media sosial, peran media dalam mempengaruhi masyarakat menjadi semakin kuat. Akibatnya, industri kreatif yang berbasis digital terus didorong untuk menghasilkan berbagai konten yang menarik, baik untuk keperluan pemasaran, politik, bisnis, pendidikan, hingga hal-hal lain. Industri ini juga sukses menciptakan banyak content creator atau influencer yang terkenal dan memiliki dampak besar. Semua informasi dan pesan itu diproses dengan cermat, lalu disebarkan lewat media interaktif, terutama media sosial, sehingga bisa benar-benar mempengaruhi orang banyak.

Kalimantan Post

Sosok Beauty Influencer

Secara keseluruhan, influencer merupakan individu yang terkenal di media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan yang lain, dengan followers yang jumlahnya sangat banyak. Mereka sering membuat konten baik berupa tulisan, foto, gambar, ataupun video yang fokusnya ke gaya hidup dengan tujuan utama untuk mempengaruhi audiens. Salah satu jenis konten yang sangat laku adalah tentang kecantikan. Individu yang membuat dan mempopulerkan tren kecantikan lewat konten digital disebut beauty influencer. Mereka sering muncul di feed media sosial dengan berbagai macam konten, mulai dari tutorial dandan atau makeup, review produk skincare, tips merawat kulit, cara menghilangkan jerawat, dan berbagai tips kecantikan lainnya.

Beauty Influencer sering dijadikan idola oleh para wanita untuk memperbaiki penampilan dan kecantikan mereka. Hal ini juga membuat khalayak mengikuti standar kecantikan yang mereka tampilkan, seperti memiliki kulit mulus, putih, wajah yang glowing, make up flawless, dan sebagainya (Basir et al., 2022). Pengaruhnya juga membuat khalayak tertarik untuk membeli atau memakai produk kecantikan yang mereka endorse. Oleh karena itu, banyak sekali brand kecantikan besar yang tertarik menjalin kerja sama dengan beauty influencer melalui endorsement. Selain dapat membangun standar kecantikan di kalangan wanita, mereka juga mendapatkan keuntungan yang besar dari interaksi bersama audiensnya.

Bagaimana Cara Beauty Influencer Membentuk Standar Kecantikan?

Fenomena pembentukan standar kecantikan masa kini oleh influencer dapat dijelaskan melalui Teori Lasswell yang mengungkapkan lima tahap komunikasi efektif. Pertama, Who (siapa penyampai komunikasi?). Pada tahap ini, beauty influencer berperan sebagai komunikator melalui konten digital berupa postingan gambar, foto dan video tentang topik kecantikan. Beberapa beauty influencer ternama di Indonesia adalah Tasya Farasya (7,3 juta followers), Nanda Arsyinta (3,7 juta followers), Jharna Bhagwani (3 juta followers), Rachel Goddard (1 juta followers), dll.

Baca Juga :  Kaleidoskop Bencana 2025 Kalsel

Kedua, Say What (apa pesan yang disampaikan?). Beauty influencer sering membagikan konten yang berisi tentang tutorial berdandan untuk berbagai aktivitas, seperti untuk pernikahan, daily activity, seni rias, cosplay, dll dengan berbagai teknik atau metode makeup. Selain itu, beauty influencer juga membagikan konten produk perawatan dan riasan kulit (khususnya wajah), seperti sunscreen, moisturizer, serum, toner, lip cream, cushion, foundation, dll. Penampilan wajah para beauty influencer yang cenderung berwajah cantik (hidung mancung, mata estetik, gigi rapi, alis rapi, bibir pink, dll), berkulit mulus, putih dan glowing, juga memberikan pesan terkait standar kecantikan kepada khalayak (Hapsari & Sukardani, 2018). Hal ini didorong oleh identitas konten kecantikan yang sangat mengutamakan aspek visual sehingga para beauty influencer berupaya menampilkan visual fisik yang mendekati sempurna atau bahkan terkadang tidak realistis.

Ketiga, In Which Channel (saluran/media apa yang digunakan?). Sosial media seperti Instagram, TikTok dan Youtube sering digunakan oleh beauty influencer untuk mengunggah konten-konten kecantikannya. Hal ini karena ketiga platform tersebut lebih mudah dan sering diakses oleh khalayak karena menawarkan konten-konten interaktif, khususnya berupa video pendek. Penggunaan saluran/media populer berperan besar dalam memperluas jangkauan dan keterlibatan khalayak terhadap konten yang diunggah.

Keempat, To Whom (untuk siapa pesan disampaikan?). Dalam tahap ini, pesan pada konten kecantikan disampaikan untuk mayoritas perempuan. Khalayak laki-laki juga dapat terpengaruh, namun jumlahnya cenderung lebih sedikit dibandingkan perempuan. Para komunikan biasanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja, wanita dewasa, siswa, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, perias, dll. Secara keseluruhan, target audiens dari beauty influencer adalah para wanita yang ingin meningkatkan penampilan, mempercantik diri atau sering disebut sebagai kelompok beauty enthusiast.

Kelima, With What Effect (dampak/perubahan apa yang dihasilkan?). Tahap ini adalah tahap inti dalam Teori Lasswell, dimana komunikasi digunakan untuk mempengaruhi audiens, baik dalam segi sikap, keputusan, maupun pandangan melalui pesan yang diterima (Kurniawan, 2018). Dalam konteks beauty influencer, perannya secara tidak langsung mempengaruhi pandangan khalayak (khususnya audiens) terhadap standar kecantikan. Pengaruh untuk membeli produk-produk kecantikan hanyalah perantara, sedangkan hasil akhirnya adalah membentuk standar kecantikan melalui visualisasi konten yang dibuat oleh beauty influencer.

Standar Kecantikan yang Tidak Ada Habisnya

Pembentukan standar kecantikan melalui beauty influencer seringkali dipandang sebagai patokan ideal agar dapat disebut sebagai sosok yang “cantik”. Namun fenomena ini ternyata sudah berlangsung sejak lama dimana media terdahulu, seperti film, majalah, koran, televisi, dll sering menetapkan standar kecantikan yang tidak realistis dan sulit dicapai (Pitaloka, 2025). Hal ini berdampak pada keinginan sebagian besar wanita untuk meniru standar kecantikan yang ada dengan menghalalkan berbagai cara, baik melalui prosedur legal (membeli produk atau perawatan kecantikan berstandar) maupun dengan cara ilegal (menggunakan produk yang dapat membahayakan kesehatan). Selanjutnya, standar kecantikan yang dibentuk oleh media mendorong pandangan bahwa nilai dari seorang wanita hanya bertumpu pada penampilan fisik dan memunculkan perasaan yang tidak pernah puas (Pitaloka, 2025). Hanya saja, perbedaan mendasar antara masa terdahulu dan masa kini terletak pada kemudahan dalam menjadi sosok panutan atau acuan dalam standar kecantikan. Jika sebelumnya standar kecantikan hanya bisa dibentuk oleh public figure yang sangat terkenal, namun saat ini memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk melakukan hal tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa beauty influencer dalam konteks ini tidak terbatas pada kalangan artis atau individu dengan banyak followers, melainkan individu yang mampu membuat konten dan melakukan komunikasi efektif untuk membentuk standar kecantikan tertentu kepada audiens.

Baca Juga :  KEYAKINAN

Besarnya pengaruh beauty influencer dalam membentuk standar kecantikan yang cenderung tidak realistis memerlukan antisipasi dari berbagai pihak. Audiens sebaiknya bersikap bijak dan tidak sepenuhnya terpengaruh oleh standar kecantikan yang ada. Konten beauty influencer hendaknya dijadikan sebagai referensi untuk menyelesaikan permasalahan kecantikan secara sehat. Selain itu, pemilihan produk atau treatment sebaiknya disesuaikan dengan kondisi wajah atau tubuh tanpa harus berambisi mengubahnya secara ekstrem. Selanjutnya, pemerintah perlu senantiasa mengawasi arus konten kencantikan dan penggunaan produk kecantikan yang dipromosikan oleh beauty influencer. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya pihak atau masyarakat yang dirugikan.

Referensi :

Basir, N. S. D., Tsalatsa, S. L., & Kresna, M. T. (2022). Persepsi wanita dalam menentukan standar kecantikan di tiktok dan instagram. In Prosiding Seminar Nasional Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS) (Vol. 1, pp.566-575).

https://proceeding.unesa.ac.id/index.php/sniis/article/download/112/97.

Hapsari, A. B., & Sukardani, P. S. (2018). Representasi Konsep Kecantikan Perempuan di Era Millennials Melalui Beauty Influencer Pada Media Sosial Instagram. The Commercium, 1(2).

https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/Commercium/article/download/26570/24337.

Kurniawan, D. (2018). Komunikasi model laswell dan stimulus-organism-response dalam mewujudkan pembelajaran menyenangkan. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 2(1), 60-68.

http://journal.univetbantara.ac.id/index.php/komdik/article/view/65.

Pitaloka, K. V. (2025). Media Influence on Unrealistic Beauty Standards and Their Effect on Body Image. Cakra Communico: Journal of Communication Science, 2(1), 11-17.

https://journal-fis.um.ac.id/index.php/cc/article/view/281.
Iklan
Iklan