Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Post-Lebaran Blues: Pergeseran Makna Lebaran antara Kearifan Lokal dan Tekanan Sosial Modern

×

Post-Lebaran Blues: Pergeseran Makna Lebaran antara Kearifan Lokal dan Tekanan Sosial Modern

Sebarkan artikel ini
postlebaran 1

Penulis:

Dr. Rico, S.Pd., M.I.Kom
Peneliti & Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNISKA MAB Banjarmasin

Kalimantan Post

Assoc. Prof. Dr. Didi Susanto, S.Sos., M.I.Kom., M.Pd
Peneliti & Dosen Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Pascasarjana UNISKA MAB Banjarmasin

Lebaran dalam masyarakat Indonesia tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan keagamaan, melainkan juga sebagai peristiwa budaya yang sarat makna sosial. Tradisi silaturahmi, mudik, hingga saling memaafkan merupakan praktik komunikasi yang telah mengakar kuat dan diwariskan lintas generasi. Dalam momen ini, interaksi yang terjadi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai kolektif seperti kebersamaan, empati, dan penerimaan.

Dalam perspektif komunikasi budaya, Lebaran menjadi ruang di mana individu membangun dan memperkuat relasi sosial. Setiap percakapan, kunjungan, hingga simbol-simbol yang ditampilkan seperti hidangan atau pakaian mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar bentuk lahiriah. Ia menjadi medium untuk menegaskan identitas, mempererat hubungan, sekaligus menjaga harmoni sosial.

Kearifan lokal memainkan peran penting dalam membentuk makna tersebut. Nilai gotong royong, kesederhanaan, dan kebersamaan tanpa syarat menjadi fondasi yang menjaga Lebaran tetap sebagai ruang yang inklusif. Dalam konteks ini, komunikasi yang terjadi cenderung bersifat hangat dan tidak menghakimi, memungkinkan setiap individu merasa diterima tanpa tekanan.

Filsuf Jürgen Habermas menyebut bahwa komunikasi ideal adalah komunikasi yang berorientasi pada saling pengertian, bukan sekadar pertukaran informasi. Dalam kerangka ini, silaturahmi pada masa lalu dapat dipahami sebagai praktik komunikasi yang mendekati ideal tersebut—di mana relasi dibangun atas dasar empati dan kesetaraan.

Perubahan sosial yang terjadi seiring perkembangan zaman membawa dinamika baru dalam praktik komunikasi Lebaran. Modernitas menghadirkan perubahan dalam cara individu memaknai tradisi, termasuk dalam pola interaksi sosial yang semakin kompleks. Nilai-nilai yang sebelumnya menjadi fondasi mulai mengalami pergeseran, seiring dengan meningkatnya pengaruh gaya hidup modern dan orientasi pada pencapaian individu. Akibatnya, Lebaran yang semula menjadi ruang pemulihan hubungan sosial perlahan juga menjadi ruang di mana individu merasa perlu “menampilkan diri”. Interaksi yang terjadi tidak selalu lagi bebas dari penilaian, melainkan mulai diwarnai oleh ekspektasi sosial yang tidak tertulis. Dalam situasi inilah, makna Lebaran mulai bergeser dari ruang kebersamaan menuju ruang yang lebih ambivalen antara kehangatan dan tekanan.

Baca Juga :  Bulik Kampung, Tradisi Bahari Raya Urang Banjar

Setelah euforia Lebaran berlalu, banyak individu mengalami kondisi emosional yang tidak selalu nyaman. Perasaan lelah, cemas, hingga kehilangan semangat untuk kembali ke rutinitas menjadi hal yang cukup umum. Fenomena ini dikenal sebagai post-Lebaran blues, yang sering kali dipahami hanya sebagai dampak kelelahan fisik. Padahal, di balik itu terdapat tekanan sosial yang lebih kompleks.

Salah satu faktor utama yang memperkuat tekanan tersebut adalah perubahan dalam pola komunikasi sosial. Dalam tradisi silaturahmi, pertanyaan-pertanyaan yang muncul sering kali tidak lagi sekadar basa-basi, tetapi mengandung ekspektasi tertentu. Pertanyaan tentang pekerjaan, status pernikahan, hingga kondisi ekonomi dapat memunculkan perasaan tertekan, terutama ketika individu merasa belum memenuhi standar sosial yang diharapkan.

Tekanan ini semakin diperkuat oleh kehadiran media sosial. Lebaran kini tidak hanya dirayakan dalam ruang keluarga, tetapi juga ditampilkan dalam ruang digital. Unggahan tentang kebahagiaan, keberhasilan, dan kemewahan menciptakan standar sosial yang cenderung seragam. Dalam situasi ini, individu tidak hanya membandingkan diri dengan lingkungan terdekat, tetapi juga dengan representasi kehidupan orang lain yang sering kali telah dikurasi.

Filsuf Jean Baudrillard pernah mengingatkan bahwa dalam masyarakat modern, kita sering kali tidak lagi hidup dalam realitas, melainkan dalam representasi. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Dalam konteks Lebaran, representasi kebahagiaan di media sosial dapat menciptakan ilusi yang justru memperbesar jarak antara realitas dan ekspektasi. Individu tidak hanya mengalami kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional. Ada tekanan untuk tampil baik, untuk terlihat berhasil, bahkan untuk “terlihat bahagia”. Dalam situasi ini, komunikasi tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang kehangatan, tetapi juga menjadi arena di mana individu secara tidak sadar dinilai dan membandingkan diri.

Fenomena post-Lebaran blues pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari dinamika ini. Ia merupakan refleksi dari ketegangan antara realitas pribadi dengan standar sosial yang terus berkembang. Ketika individu merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, muncul perasaan lelah, cemas, bahkan kehilangan makna dari perayaan yang baru saja dilalui.

Menghadapi fenomena post-Lebaran blues, penting bagi kita untuk tidak hanya melihatnya sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai refleksi dari perubahan sosial yang lebih luas. Dalam konteks ini, kearifan lokal dapat menjadi pijakan untuk mengembalikan makna Lebaran ke esensinya.

Baca Juga :  Idul Fitri dan Halal Bihalal

Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan empati merupakan kekuatan budaya yang selama ini menjaga harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia. Kearifan lokal tidak menuntut individu untuk tampil sempurna, melainkan untuk hadir secara utuh dalam relasi sosial. Dalam kerangka ini, Lebaran seharusnya menjadi ruang di mana setiap orang merasa diterima, bukan dibandingkan.

Filsuf Martin Buber menekankan pentingnya hubungan yang autentik antar manusia—relasi yang tidak didasarkan pada penilaian, tetapi pada pengakuan terhadap keberadaan orang lain sebagai sesama. Jika nilai ini dihidupkan kembali dalam praktik silaturahmi, maka komunikasi selama Lebaran dapat kembali menjadi ruang yang menenangkan.

Kesadaran dalam bermedia sosial juga menjadi kunci penting. Masyarakat perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan di ruang digital tidak selalu mencerminkan realitas secara utuh. Dengan demikian, individu dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi dan tidak mudah terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat.

Komunikasi dalam keluarga perlu diarahkan pada bentuk yang lebih empatik. Pertanyaan yang berpotensi menimbulkan tekanan dapat digantikan dengan percakapan yang lebih suportif. Hal-hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi atau memberikan dukungan emosional dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar.

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa jauh kita pergi atau seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita Kembali, kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Post-Lebaran blues dapat menjadi pengingat bahwa ada yang perlu diperbaiki, bukan hanya dalam diri individu, tetapi juga dalam cara kita berkomunikasi sebagai masyarakat. Mungkin yang perlu kita pulihkan bukan hanya energi setelah Lebaran, tetapi juga makna Lebaran itu sendiri. Ketika kearifan lokal kembali dihidupkan dalam praktik sosial yang lebih manusiawi, Lebaran tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan kembali menjadi ruang kebahagiaan yang tulus bagi semua.

“Ketika tradisi kehilangan makna, yang tersisa hanyalah perayaan tanpa rasa. Maka, pulihkanlah makna agar kebersamaan kembali menjadi kebahagiaan, bukan tekanan. (Rico & Susanto, 2026)”

Iklan
Iklan