BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Performa positif yang tercatat sepanjang Triwulan I berhasil
dipertahankan dan terus berlanjut hingga Mei 2026. Lewat pertumbuhan ekonomi yang solid serta penyaluran anggaran yang kian efektif, Kalimantan Selatan (Kalsel) mampu menjaga momentum
pertumbuhan di tengah dinamika perekonomian nasional.
“Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan sukses mencapai 5,67 persen (yoy) pada Triwulan I 2026
(atau 5,67 persenc-to-c),” ujar Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo di acara Publikasi ALCo, Kamis (25/6/2026).
Hadir diacara tersebut Plh. Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Selatan Suaidy, Kepala Bidang Piutang Negara, Kanwil DJKN Kalimantan Selatan dan Tengah Panca Irvan Sujianto serta Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, Kanwil DJP Kalimantan Selatan dan Tengah Rimedi Tarigan.
Ditambahkan Catur, dari sisi pengelolaan fiskal hingga 31 Mei 2026, realisasi Belanja Negara telah mencapai sebesar Rp11,92 triliun (Rp11.922,37 miliar) atau 39,79 perse dari pagu.
“Porsi terbesar dari serapan tersebut masih dialokasikan untuk penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai Rp8,33 triliun (Rp8.328,26 miliar),” ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, konsolidasi kinerja APBD pada periode ini juga mencatatkan surplus sebesar Rp984,86 miliar, yang menandakan masih adanya ruang fiskal yang sehat untuk terus mendukung pembangunan di Kalimantan Selatan.
Dikesempatan itu, Catur menjelaskan. perekonomian Kalsel terus menunjukkan resiliensi yang solid memasuki
pertengahan kuartal II 2026. Neraca Perdagangan Kalsel pada Mei 2026 mencatatkan surplus
sebesar US$922,44 juta. Surplus ini mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,19 persen (yoy) dan 14,45 persen (mtm).
“Kinerja perdagangan luar negeri yang impresif ini ditopang oleh nilai ekspor pada Mei 2026
yang mencapai US$1.108,56 juta atau tumbuh 7,7 persen(yoy). Peningkatan nilai ekspor tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan volume ekspor komoditas batubara yang menjadi penopang
utama ekspor Kalsel dengan kontribusi mencapai lebih dari 50 persen,” ucapnya.
Di sisi lain, nilai impor juga
mengalami peningkatan sebesar 16,1 persen (yoy) menjadi US$186,12 juta. Kenaikan dari sisi impor ini disebabkan oleh naiknya nilai impor komoditas terbesar di Kalsel yaitu minyak petroleum.
Dari sisi pergerakan harga, jelas dia, Kalimantan Selatan mengalami inflasi pada Mei 2026 sebesar 4,22 persen (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,98. Angka ini berada di atas level inflasi nasional yang mengalami inflasi sebesar 3,08 persen (yoy).
Secara bulanan (mtm), terjadi inflasi sebesar 0,20 persen di Kalsel, yang sedikit lebih rendah sementara nasional mengalami inflasi sebesar 0,28 persen. Kabupaten Tanah Laut tercatat sebagai wilayah dengan inflasi (yoy) tertinggi di regional
sebesar 5,03 persen dengan IHK sebesar 112,32, dan terendah terjadi di Kotabaru sebesar 3,53 persen dengan IHK sebesar 112,34.
Tekanan inflasi tahunan (yoy) didominasi oleh komoditas emas perhiasan, beras, minyak
goreng, ikan nila, dan sigaret kretek mesin. Secara bulanan (mtm), inflasi utamanya disumbang oleh beras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, dan emas perhiasan.
Namun, dorongan
inflasi bulanan ini sebagian berhasil diredam oleh penyumbang deflasi (mtm) seperti daging ayam ras, ikan nila, telur ayam ras, ikan gabus, dan udang basah.
Sebagai langkah pengendalian inflasi, TPID di wilayah Kalsel terus memperkuat sinergi.
“Operasi pasar atau gerakan pasar murah komoditas pangan strategis telah dilaksanakan sebanyak 355 kali sampai Mei dan telah disalurkan beras SPHP di Kalsel sebesar 5,47 ribu ton,” pungkasnya. (ful/KPO-3)















