BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Aroma rempah dan kepulan asap dari tungku memasak menyelimuti kawasan Jalan Seberang Mesjid, Jumat (26/06/2026).
Sejak usai Salat Jumat, puluhan warga berkumpul untuk melaksanakan tradisi memasak Bubur Asyura dalam rangka memperingati 10 Muharram.
Kegiatan yang telah diwariskan secara turun-temurun itu kembali menjadi ajang mempererat kebersamaan masyarakat.
Sejumlah warga tampak saling berbagi tugas. Kaum ibu sibuk menyiapkan berbagai bahan masakan, sementara kaum bapak bergotong royong mengaduk bubur yang dimasak menggunakan kuali berukuran besar. Suasana penuh keakraban begitu terasa, diselingi canda dan tawa warga yang bekerja bersama hingga bubur matang.
Ketua RT setempat, Ningsih, mengatakan tradisi Bubur Asyura bukan sekadar kegiatan memasak bersama, tetapi menjadi warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Jalan Seberang Mesjid. Menurutnya, setiap tahun warga selalu antusias terlibat, mulai dari persiapan hingga pembagian bubur kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, tahun ini tradisi Bubur Asyura kembali bisa kami laksanakan dengan lancar, warga sangat kompak, semuanya ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing, inilah yang selalu kami jaga, bukan hanya tradisinya, tetapi juga rasa kebersamaan di lingkungan,” ujar Ningsih.
Ia menambahkan, seluruh bahan yang digunakan berasal dari swadaya masyarakat. Semangat saling berbagi dan bergotong royong menjadi modal utama sehingga tradisi tersebut tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Setelah selesai dimasak, bubur kemudian dibagikan kepada warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Salah seorang warga, Amet, mengaku selalu menantikan momen memasak Bubur Asyura setiap tahunnya. Menurutnya, tradisi ini memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar memasak makanan, karena menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan memperkuat hubungan antarsesama.
“Dari dulu saya selalu ikut kegiatan ini, rasanya senang bisa berkumpul dengan tetangga, bekerja sama dari awal sampai bubur selesai dimasak, semoga tradisi seperti ini tetap dipertahankan karena menjadi salah satu cara menjaga kekompakan warga,” ujar Amet.
Menjelang sore, ratusan porsi Bubur Asyura mulai dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak siang. Bagi warga Jalan Seberang Mesjid, tradisi tersebut bukan hanya bagian dari peringatan 10 Muharram, melainkan simbol kebersamaan, kepedulian, dan semangat gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (nug/KPO-4)















