Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Olahraga

“Blunder” Pemain Diaspora Bermain di Super League dan Menanti Evaluasi PSSI Atas Kegagalan di Piala AFF

×

“Blunder” Pemain Diaspora Bermain di Super League dan Menanti Evaluasi PSSI Atas Kegagalan di Piala AFF

Sebarkan artikel ini
IMG 20260808 WA0052
Kekecewaan suporter Timnas Indonesia diluapkan secara langsung kepada pelatih John Herdman dan para pemain di Stadion Jalan Besar, Singapura, Jumat (7/8/2026) malam. (Kalimantanpost.com/Instagram timnasgaruda.ina)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Beberapa pemain keturunan Indonesia yang abroad di klub Eropa ingin ‘pulang kampung’, bermain di Liga 1 Indonesia sempat mendapat penolakan dari pecinta sepakbola di Tanah Air. Fans Timnas khawatir, setelah bermain di ‘Liga Dagelan’ permainan Jordi Amat dan kawan-kawan ikut ‘tertular’ gaya permainan bola-bola panjang, fisik menurun, motivasi bermain berkurang dan emosian.

Kekhawatiran itu berdasarkan beberapa pemain abroad seperti Marc Klok, Egy Maulana Vikri, Ezra Walian, Witan Sulaiman kehilangan sentuhan bermainnya usai bermain di Liga 1.

Kalimantan Post

Namun, penolakan pecinta sepakbola Indonesia itu tak digubris. Apalagi pemain keturunan ini mendapat ‘lampu hujau’, diizinkan PSSI bermain di Super League dengan harapan bisa diturunkan saat bertarung di Piala AFF 2026 sekaligus bisa meraih juara.

Satu-persatu pemain Abroad seperti Jordi Amat, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra dan Cyrus Margono bergabung ke Persija Jakarta. Tak mau kalah, Persib Bandung merekrut Thom Haye, Eliano Reijnders, Ragnar Oratmangoen, Dion Markx dan Sandy Walsh.

Begitu juga Dewa United mendatangkan Ivar Jenner dan Rafael Struick, sedangkan Bali United merekrut Jens Raven dan Tim Geypen.

Kepulangan pemain diaspora ini dimaksudkan untuk mengangkat pamor dan peringkat Super League serta bisa bersaing di kompetisi antara klub Asia.

Selain itu, PSSI berharap pemain keturunan yang bermain di Liga 1 akan lebih mudah memanggilnya untuk tampil di Piala AFF sekaligus bisa meraih juara.

Namun, semua itu hanya tinggal harapan. Pemain abroad setelah bermain di Super League malah insting bermainnya malah menurun, fisiknya tidak ada dan ikut terbawa irama permainan tampil santai, bermain bola-bola panjang dan mudah terpancing emosi.

Kebiasaan bermain selama satu musim di Liga terbawa ke permainan internasional. Itu terlihat saat mengikuti ASEAN Cup 2026, tidak ada lagi gaya permainan cepat, agresif, bola dari kaki ke kaki serta umpan-umpan terukur.

Baca Juga :  Indonesia Versus Vietnam, Pertarungan Hidup Mati dan tak Boleh Lagi Berekspremen

Lebih parah lagi, fisik pemain keturunan turun drastis terutama memasuki babak kedua, sehingga mengganggu irama permainan Timnas Indonesia.

Lalu, lawan-lawannya seperti Vietnam, Singapura, Malaysia dan Thailand menganggap kualitas keturunan ini hanya sekelas tim Asia Tenggara. Dan itu sudah terbukti.

“Blunder” pemain diaspora bermain di Liga 1 sudah dilihat diawal laga Piala AFF Grup A. Sempat mengalahkan Kamboja 4-1, tapi di laga kedua melawan Timor Leste sempat kesulitan mencetak gol walau pun lawan bermain 10 orang.

Puncaknya saat melawan Vietnam, tanpa ditunjang fisik yang bagus, walau pun punya dasar skill yang baik dan pemainnya berpengalaman di Liga Inggris, Belgia, Belanda hingga Spanyol tak bisa berbuat banyak.

Vietnam yang hanya mengandalkan counter attack yang cepat dan mematikan mampu membobol gawang Nadeo tiga kali dan Indonesia menyerah 0-3.

Kekalahan itu membuat mental pemain Indonesia down dan bermain imbang 1-1 melawan Singapura, sehingga tersingkir di babak awal.

Padahal saat ini Timnas Indonesia skuadnya full naturalisasi, pelatih kelas piala dunia dan tim paling mahal, tapi tidak lolos.

Mau alasan apalagi dengan kegagalan AFF ini? Menyalahkan wasit? Intinya, dengan 11 pemain keturunan dan mantan pemain abroad disebabkan game play tak jelas.

Pecinta sepakbola di Tanah Air sudah pasti berharap pemain keturunan yang masih muda kembali abroad seperti Ivar Jenner, Tim Geypen, Rafael Struick serta Mitchell Baker.

Bila tetap bermain di Liga Super, kariernya bakal habis dan keinginan Timnas Indonesia bermain di Piala Dunia 2030 hanya mimpi.

Klub Liga 1 juga diharapkan jangan lagi menggoda pemain Timnas Indonesia yang abroad di Eropa seperti Justin Hubner, Ole Romeny, Joey Pelupessy serta Elkan Baggott, Nathan Tjoe-A-On
dan Dean James.

Baca Juga :  Voli Putri Indonesia Comeback Kalahkan Vietnam 3-2, Thailand Hajar Filipina 3-0 di SEA V Cup 2026

Kalau pemain sekelas Kevin Diks, Calvin Verdonk, Mees Hilgers, Maarten Paes, Emil Audero dan sang kapten Jay Idzes, klub Liga 1 tak kuat membayarnya karena harganya cukup mahal

Pasalnya, tujuan awal naturalisasi pemain diaspora tersebut agar para pemain tetap bermain di Eropa dengan asmofir kompetisi yang begitu tinggi, latihan disiplin ketat, sehingga skill, teknik dan fisik tetap terjaga saat membela Timnas Indonesia mengikuti turnamen internasional seperti Piala Asia maupun kualifikasi Piala Dunia.

Sejak program Naturalisasi di mulai pada tahun 2022, kehadiran pemain diaspora mampu mendongkrak prestasi Timnas sepakbola Indonesia dari peringkat 170-an terus naik hingga 118 di tahun 2026.

Begitu juga, Timnas Indonesia pun mampu melangkah ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan mampu mengalahkan tim tangguh Arab Saudi, China, Qatar dan lain-lain.

Kegagalan di Piala AFF ini menjadi indikasi Timnas bakal kembali merosot? Kita tunggu bagaimana evaluasi PSSI dan kebijakannya tentang pemain diaspora di masa mendatang. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan