BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Gaung perayaan Hari Jadi (Harjad) Kota Banjarmasin yang kini menginjak usia ke-500 tahun semakin terasa istimewa.
Jika pada rangkaian liputan peringatan ke-499 tahun lalu sorotan lebih banyak mengarah pada agenda instansi pemerintahan dan birokrasi, momentum setengah milenium kali ini justru diwarnai oleh kepolosan dan keceriaan ribuan anak usia dini. Bertempat di SD IT Ukhuwah Banjarmasin pada Sabtu (29/08/2026), tak kurang dari 1.000 siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Banjarmasin tumpah ruah unjuk kebolehan dalam ajang massal menghias dan mewarnai kipas.
Pemandangan menggemaskan dari ribuan bocah yang sibuk mencampur paduan warna ini tak luput dari pengawasan dan apresiasi langsung Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Hj. Neli Listriani.
Kehadiran figur sentral dalam pendidikan anak usia dini di Banjarmasin ini bukan sekadar pemanis acara, melainkan bentuk dukungan penuh terhadap metode stimulasi edukatif yang menyenangkan.
Menurutnya, media kipas tangan yang dilukis ini merupakan kanvas terbuka bagi anak untuk menyalurkan imajinasi mereka tanpa terikat aturan yang kaku.
Di hadapan ratusan guru pendamping dan orang tua yang memadati lokasi, Hj. Neli melontarkan pandangan yang sangat menyentuh terkait pendekatan psikologis anak.
“Dalam kacamata dunia anak, tidak ada yang namanya coretan jelek atau pemilihan warna yang salah arah, tujuan utama kita hari ini bukan mencari hasil karya yang sempurna, melainkan memupuk rasa percaya diri anak untuk berani tampil, merangsang jiwa seninya, dan yang terpenting, menciptakan rasa bahagia dalam proses belajar mereka,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjabarkan betapa krusialnya fase keemasan atau golden age pada rentang prasekolah. Masa ini ibarat meletakkan fondasi pertama dalam membangun kecerdasan intelektual, pembentukan karakter, hingga kecakapan motorik anak.
Oleh sebab itu, Hj. Neli mendesak seluruh elemen pendidik agar senantiasa menciptakan ekosistem belajar yang bebas dari tekanan, berkonsep ramah anak, serta aman untuk mengeksplorasi potensi diri mereka.
Tak hanya menyuntikkan motivasi bagi anak-anak, ajang kolosal ini juga dimanfaatkan Hj. Neli untuk mengapresiasi tingginya dedikasi para orang tua di Banjarmasin.
Ia menyadari bahwa pencapaian kualitas pendidikan usia dini mustahil terwujud tanpa intervensi dan kepedulian aktif dari lingkungan keluarga.
Kehadiran para orang tua yang rela meluangkan waktu mendampingi buah hatinya menjadi sinyal positif bahwa kesadaran akan pentingnya pendidikan prasekolah di kota ini terus menguat.
Memanfaatkan momentum emas tersebut, Hj. Neli tak lupa menabuh genderang kampanye untuk menyukseskan program prioritas pemerintah daerah.
“Saya sangat memohon dukungan dari bapak dan ibu sekalian untuk mengawal program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah, mari kita pastikan setiap anak di kota ini setidaknya mengenyam atmosfer pendidikan di bangku PAUD atau TK selama satu tahun penuh sebelum mereka melangkah ke kerasnya bangku Sekolah Dasar,” tegasnya.
Pada akhirnya, gelaran yang melibatkan seribu bibit unggul ini diharapkan tak menguap begitu saja sebagai pemanis rangkaian perayaan lima abad berdirinya Kota Seribu Sungai.
Lebih dari itu, keceriaan yang memancar di SD IT Ukhuwah hari ini menjadi simbol optimisme bersama; bahwa persiapan melahirkan generasi emas Banjarmasin di masa depan mutlak harus dipupuk dan dikawal dengan penuh kasih sayang sejak usia dini. (nug/KPO-4)















