KUNJUNGAN Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Kamis (10/9), berlangsung sangat singkat. Belasan menit berada di lingkungan sekolah, Gibran meninjau kelas, melihat kegiatan ekstrakurikuler, berdialog dengan siswa, berfoto bersama, hingga menandatangani lukisan dirinya yang dibuat para pelajar.
Singkatnya waktu kunjungan tentu bukan ukuran utama dari perhatian pemerintah terhadap Sekolah Rakyat. Namun, kehadiran seorang Wakil Presiden semestinya menjadi momentum untuk melihat lebih jauh bagaimana program tersebut berjalan di lapangan. Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi bagian dari upaya negara membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.
Karena itu, kunjungan singkat tersebut idealnya tidak berhenti pada agenda seremonial. Apa yang dilihat Wapres di kelas dan lingkungan sekolah harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Apakah fasilitas sudah memadai? Apakah tenaga pendidik cukup? Bagaimana kualitas pembelajaran, pola pengasuhan, hingga pemenuhan kebutuhan siswa selama mengikuti program?
Sekolah Rakyat membawa harapan besar. Program ini jangan sampai hanya kuat pada gagasan dan pencitraan, tetapi lemah dalam pelaksanaan. Anak-anak yang belajar di dalamnya berhak memperoleh pendidikan berkualitas, lingkungan yang aman dan nyaman, serta pendampingan yang mampu membangun kemandirian dan masa depan mereka.
Kunjungan Gibran ke Kalsel juga tidak hanya menyentuh sektor pendidikan. Sebelumnya, ia meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan di Guntung Damar, Banjarbaru, sebelum melanjutkan agenda ke Rumah Sakit Idaman Banjarbaru.
Dua persoalan tersebut—karhutla dan pendidikan—sama-sama membutuhkan kehadiran negara yang tidak sesaat. Karhutla memerlukan pencegahan dan penanganan berkelanjutan. Begitu pula Sekolah Rakyat membutuhkan kebijakan yang konsisten, anggaran yang memadai, dan pengawasan yang serius.
Belasan menit mungkin cukup untuk melihat, menyapa, dan memberi semangat. Tetapi pekerjaan membangun pendidikan yang berkualitas membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Karena itu, yang paling penting dari kunjungan Wapres bukan berapa lama ia berada di sekolah, melainkan apa yang kemudian dilakukan pemerintah setelah ia meninggalkan sekolah tersebut.
Jangan sampai kunjungan berakhir ketika rombongan meninggalkan halaman sekolah. Justru setelah itu, pekerjaan sesungguhnya harus dimulai.













