Banjarmasin, KP — Udahlah, enggak perlu kuliah tinggi-tinggi, toh, kamu kan perempuan bakalan di dapur dan di rumah ngurus suami. Begitu pula dengan Lelakinya,masa anak cowok nangis, lemah dan sebagainnya.Anak Lelaki harus kuat, gagah dan sebagainya.
Kalimat sindiran seperti ini rasanya tak asing ditelinga kita bahkan banyak hal lainnya di kehidupan seperti mimpi, karier, mengurus keluarga, dan lain sebagainya, juga sering ‘dinyinyirin’ orang, termasuk keluarga.
Apakah memang seperti itu ? tentunya tidak. Sebagai seorang Laki-laki atau Perempuan bebas melakukan apa saja, termasuk meraih impian yang kita mau.
Namun terkadang sejak dulu orangtua, keluarga, dan lingkungan suka menanamkan toxic Masculinity dan toxic femininity . Sebuah konsep peran gender yang menempatkan laki lakitak boleh menangis, kuat dan perempuan harus di dapur dan di rumah.
Sayangnya, toxic ini ternyata bisa menghambat perkembangan terlebih diusia sedang berkembang.
Menurut Dr Nina Permatasari narasumber dalam seminar Nasional yang dilaksanakan secara webinar dengan tema “Menghadapi Lingkungan dan Diri sendiri Terhadap Toxic Masculinity dan Toxic femininity yang digelar FKIP ULM Sabtu (18/12/2021).
“Toksik femininitas ini beracun merugikan baik untuk dirinya dan oranglain. Orang tua ke anak perempuan sering bilang ‘kamu harus bisa masak’. Padahal, anak minatnya memang bukan ke masak, dan penting untuk anak memiliki ketertarikan atau minat lain yang tidak sebatas gender semata. Jadi, bukan karena dia perempuan, dia harus bisa masak,” katanya
Padahal seorang anak baik itu perempuan atau laki-laki punya hak yang sama untuk eksplor diri mereka.
Dengan begitu, kita pun akan tumbuh menjadi sosok yang kreatif, percaya diri, dan bahagia. Tentu saja setara yang sangat penting untuk masa depan kita.
“Penempatan peran feminin dan maskulin yang salah ini dampaknya bisa sampai dewasa lho. Sekarang, karena perempuan banyak tuntutannya, perempuan jadi lebih tangguh dibandingkan laki-laki. Laki-laki banyak dimanjakan sehingga dia kurang bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah,”ucapnya Dosen ULM Bimbingan Konseling tersebut.
Lanjutnya, toxsic peran gender ini tak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Seseorang yang tumbuh dengan toxsic femininitas dan maskulinitas cenderung bisa melakukan tindakan kekerasan baik sesama gender maupun lawan jenis.
Kalau sesama gender, perlakuan itu bisa dilihat dari seringnya banyak perempuan menyindir temannya sendiri. Misalnya, teman kita makeup tidak benar, tentu kita akan bilang. “Ih, kok, alisnya miring.”
“Bisa jadi toxsic ini membuat seorang perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki. Misalnya, dia melakukan sesuatu yang menggunakan gaya tarik seks. ‘lo enggak akan dikasih jatah, kalau misalnya lo begini-begini’. Walaupun pasangan sedang lelah, atau apa tetap didesek untuk melakukan sesuatu. Jadinya kan merugikan untuk laki-laki itu,” jelas Nina.
Begitu juga dengan laki-laki yang ditumbuh dengan pandangan toksik makskulinitas. Di mana laki-laki terbiasa ditanamkan untuk terus menunjukkan kekuasaan, dan kekuatannya.
Nina tak menampik bahwa adanya kekerasan sampai tindakan pemerkosaan juga bisa diakibatkan dari peran gender yang salah.
Misalnya, laki-laki merasa dia bebas untuk berhubungan seks dengan siapa saja, karena didoktrinnya begitu. Sehingga, dia merasa kuat dan bebas untuk melakukan hubungan intim dengan perempuan asing, yang belum tentu setuju dengan tindakannya.
“Kalau toxsic femininitas bisa melakukan kekerasan terhadap laki-laki. Begitu juga dengan maskulinitas. Dia merasa, saya kuat , saya berhak untuk melakukan hubungan intim dengan dia. Jadi memang, peran gender berlebihan bisa menjadikan dia pelaku kekerasan,” ujarnya.
Sebab itu, Nina memang mengimbau kita untuk mulai mengenal diri sendiri serta berhenti mendidik anak untuk mengambil tanggung jawab sesuai gender-nya.
Untuk itu peran bimbingan sejak dini sangat perlu dilakukan agar mereka mereka memahami perannya. Dalam Webinar tersebut diikuti sebanyak 450 peserta yang terdidiri dari mahasiswa dan para Guru. (Fin/KPO-1















