Banjarmasin, KP – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, punya jiwa sosial tinggi dan dermawan. Semua orang memiliki kesempatan untuk berbagi kepada sesama, tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Baik yang berkecukupan maupun yang hidup kekurangan, dapat berbagi dengan sesama.
Salah satunya, Ibu Fahria (56 tahun), warga Jalan Hikmah Banua, Kelurahan Pemurus Luar, Kota Banjarmasin. Wanita paruh baya ini sudah melakoni peran sebagai tulang punggung keluarga, sejak sang suami Rahmansyah (62 tahun) mengidap penyakit jantung yang memaksanya berhenti bekerja sebagai buruh.
Sehari-hari, Fahria berjualan nasi bungkus, yang setiap pagi ia jajakan dengan menggunakan gerobak. Kendati penghasilan yang didapat tak menentu, tak membuat Ibu Fahria berkecil hati.
“Kalau jualan nasi bungkus habis, Alhamdulillah. Cukup untuk makan sehari-hari, sekalian uangnya untuk bapak agar bisa berobat,” kata Fahria mengawali cerita, saat ditemui di rumahnya, Senin (14/3/2022) lalu.
Kendati hidup serba kekurangan, ternyata tak menyurutkan semangat Ibu Fahria untuk berbagi kepada sesama.
Menurut Fahria, nasi bungkus yang tak terjual habis lantas ia bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan maupun ke sejumlah panti asuhan. Fahria mengaku tak khawatir, karena rezeki dapat dicari kapanpun.
Fahria mengatakan, ia sudah berbagi makanan kepada sesama sudah cukup lama. Bahkan, sebelum sang suami jatuh sakit, Fahria kerap kali berbagi kepada saudara yang membutuhkan.
Lantas, apa yang mendasari Fahria mau berbagi kepada sesama di tengah kehidupan ekonominya yang serba kekurangan?
“Karena ibu pikir, ibu bersama suami ini sudah berusia tua. Memberi kepada sesama dengan uang tunai sudah tidak bisa. Sehingga, makanan saja yang kita bagikan. Untuk bekal nanti di akhirat,” papar Fahria.
Kendati tengah berjuang menafkahi keluarga, terutama sang suami yang tengah sakit, Fahria tak patah arang untuk berbagi kepada sesama, kendati hanya dengan makanan. Fahria mengakui, banyak hikmah yang didapat.
“Pikiran menjadi tenang, tak ada gundah gulana. Soal rezeki bisa dicari. Karena jika kita berbagi kepada sesama, hati pun menjadi bahagia. Mungkin keadaan kita seperti ini, tapi masih banyak saudara kita yang kehidupannya jauh di bawah kita,” tuntas Fahria.
Melihat perjuangan Fahria untuk menghidupi sang suami yang mengalami sakit, mendorong tim Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan (ACT Kalsel) untuk turut serta membantu Fahria. Dengan tujuan, agar Fahria terus bersemangat untuk mencukupi kebutuhan ekonominya dan berbagi kepada sesama.
Menurut Staf Program ACT Kalsel Ratih Ayu, tim ACT Kalsel memberikan bantuan biaya hidup untuk keluarga Fahria. Selain itu, Fahria juga mendapatkan bantuan modal usaha, yang akan digunakan untuk berjualan nasi bungkus.
“Kita saat ini juga melaksanakan penggalangan dana, baik secara daring maupun luring. Harapannya, dapat meringankan perjuangan Ibu Fahria yang harus menghidupi keluarganya, terutama sejak sang suami jatuh sakit,” kata Ratih.
“Dari Ibu Fahria kita belajar. Bahwa kendati harus berjuang menafkahi keluarga, tak menyurutkan semangat Ibu Fahria untuk berbagi kepada sesama,” tutup Ratih. (Opq/KPO-1)















