Oleh : AHMAD BARJIE B
Idul Fitri sering disebut Lebaran. Istilah ini secara budaya dan bahasa erat sekali dengan kata “lebar”. Artinya di momentum hari raya, katakanlah 15 hari pertama di bulan Syawwal, orang harus membuka pintunya lebar-lebar, dalam hubungannya dengan sesama manusia.
Pertama, membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk meminta dan memberi maaf. Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, sengaja atau tidak sengaja. Ada ungkapan: al-Insan mahalul khata’ wan-nisyan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Perkataan, sikap dan perbuatannya tidak jarang tidak sesuai dengan etika dan tata kesopanan, melukai hati orang, bahkan ada yang melanggar hukum dan berdosa dalam pandangan agama. Oleh karena bagi orang yang sadar ia harus mau meminta maaf dan sebaliknya memberi maaf kepada orang lain. Di dalam Alquran surah Ali Imran ayat 133-135 menekankan, bahwa di antara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang bersedia menahan marah memaafkan kesalahan orang lain.
Diceritakan bahwa ada orang yang dijamin Rasulullah termasuk penghuni sorga. Para sahabat penasaran, karena menurut mereka tidak ada yang istimewa pada orang itu. Lalu ada sahabat mencoba menamu, untuk melacak apakah ada amalan khusus di rumahnya. Tiga hari berturut-turut ternyata tidak ada juga yang istimewa. Setelah dibujuk dan dirayu, akhirnya ia mengatakan, kalau itu dianggap kelebihannya, adalah selalu memaafkan kesalahan orang sebelum orang minta maaf, dan kalau ia yang bersalah ia yang lebih dahulu minta maaf sebelum beranjak dari tempat. Setiap mau tidur hatinya dikosongkan dari rasa kesal dan kecewa, apapun keadaannya.
Kedua, membuka pintu rumahnya lebar-lebar (open house), untuk menerima tamu siapa pun, tanpa pandang bulu, tidak hanya kalangan elit (orang atas), tapi juga kalangan menengah dan bawah. Menyuguhkan makan minum, sekalipun sekadar minuman ringan sebagai tanda penghormatan, adalah sikap yang terpuji. Lebih baik lagi jika dapat membantu uang atau materi bagi kalangan yang membutuhkan, meskipun ia sendiri juga kekurangan, apalagi bagi kalangan yang memang berkelebihan. Ada juga kebiasaan memberi parsel atau paket lebaran, itu sangat bagus dalam rangka mempererat tali silaturahim. Dan apa yang sudah diberikan, tidak pernah dihitung, diomongkan dan diingatnya lagi. Dalam ayat di atas diterangkan pula bahwa di antara ciri-ciri orang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Ada hadits mengatakan, orang yang awam dalam soal agama (tidak alim) tapi dermawan lebih dicintai Allah, daripada orang yang alim tapi pelit atau kikir. Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Sedangkan orang pelit, jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.
Diceritakan, di akhirat kelak ada segolongan orang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga tanpa hisab. Orang-orang penghuni surga lainnya serta para malaikat heran, mengapa mereka begitu istimewa. Ternyata orang itu suka memberi, dan tidak pernah berhitung ketika memberi. Maka Allah pun malu untuk menghitung (menghisabnya) dan langsung memasukkannya ke dalam surga.
Ketiga, membuka pintu pikirannya lebar-lebar untuk menerima orang yang tidak seide atau berbeda pendapat dengan kita. Semua manusia kepalanya hitam, namun isi otak dan pikirannya beda-beda. Berbeda pendapat dan pandangan tentang sesuatu hal adalah hal yang lumrah, bahkan dalam beberapa hal mengandung rahmat. Ada riwayat mengatakan, bahwa perbedaan di kalangan umat itu rahmat, ikhtilafu ummati rahmah. Sebenarnya sepanjang suatu pendapat didasari oleh dalil dan argumentasi yang kuat tidak mengapa berbeda-beda, tidak harus satu. Namun kenyataannya banyak di antara kita sulit untuk menerima perbedaan pendapat ini. Tidak lapang terhadap keragaman pendapat, dan memaksakan pendapat sendiri. keras kepala dan tidak mau menerima pendapat orang (dungu) termasuk sifat tercela. Wallahu A’lam.














