Satu dari delapan korban merupakan WNA asal Malaysia.
BASARNAS menyatakan delapan penumpang termasuk pilot helikopter Airbus H130 PK-CFX yang jatuh di wilayah hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
“Semua meninggal dunia. Kru dua orang dan penumpang enam orang jadi total person on board (POB) 8 orang,” kata Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin, Jumat (17/4).
Empat dari delapan jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Dari hasil pencocokan tersebut, empat korban yang telah teridentifikasi yakni Joko Catur Prasetyo, Charles Dominson Lakidang, Patrick Kee Chuan Peng (warga negara Malaysia), dan Victor Tan Keng Liam.
Ia memastikan bahwa kedelapan jenazah tersebut siang ini sudah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan ke Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak untuk dilakukan proses identifikasi.
“Ya, sudah berhasil dievakuasi dan saat ini sudah dilakukan identifikasi di RS Bhayangkara Pontianak,” kata dia menambahkan.
Helikopter berjenis Airbus H130 tipe H-130T2 tersebut mengangkut delapan orang, yang terdiri dari Capt. Marindra W (Pilot), Harun Arasyd (Co-pilot), serta enam penumpang yakni Patrick, Victor, Charles, Joko, Fauzie, dan Sugito.
Berdasarkan data kronologi helikopter tersebut lepas landas dari helipad PT CMA di Desa Nanga Keruap, Kabupaten Melawi, pada Kamis (16/4) pukul 07.34 WIB.
Helikopter kemudian dilaporkan hilang kontak pada pukul 08.39 WIB, dalam penerbangan menuju helipad PT GAN di Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Pada pukul 15.25 WIB ditemukan serpihan yang ekor helikopter PK-CFX di wilayah hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Kantor SAR Pontianak melaporkan tim SAR gabungan berhasil melaksanakan proses evakuasi korban kecelakaan helikopter secara bertahap dan penuh kehati-hatian di wilayah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Proses evakuasi dimulai dengan pengangkatan korban dari puing-puing helikopter yang berhasil diselesaikan pukul 22.00 WIB.
Selanjutnya, tim melaksanakan penurunan korban dari lokasi puncak bukit menuju Posko Lapangan SAR gabungan yang rampung, Jumat pukul 05.00 WIB.
Setelah tiba di posko, korban kemudian dipindahkan ke ambulans pada pukul 05.52 WIB.
Sebanyak 8 unit ambulans dikerahkan untuk proses evakuasi lanjutan, yang bergerak menuju Yonif 642/Kapuas Sanggau pada pukul 06.05 WIB.
Ambulans disiapkan di Sekadau untuk membawa jenazah ke Sanggau yang kemudian dievakuasi menggunakan helikopter ke Pontianak.
Diserahkan
Jenazah korban diserahkan ke keluarga
Basarnas menyatakan seluruh jenazah korban helikopter Airbus H130 PK-CFX jatuh di wilayah hutan Sekandau, Kalimantan Barat (Kalbar), sudah berhasil dievakuasi dan mulai diserahkan kepada pihak keluarga.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso, membenarkan proses penyerahan jenazah sedang berlangsung setelah melalui tahapan identifikasi.
“Betul, saat ini sedang dalam proses penyerahan kepada pihak keluarga,” katanya.
Ketika ditanya apakah ada korban yang merupakan Warga Negara Asing (WNA), Edy mengungkapkan bahwa benar satu dari delapan korban merupakan WNA asal Malaysia.
Faktor mekanis diduga penyebab kecelakaan
Sementara itu, pengamat transportasi udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie Ah Pnb SE SSiT, mengatakan faktor mekanis atau perawatan pesawat diduga menjadi penyebab kecelakaan helikopter Airbus H130 PK-CFX di wilayah hutan Kabupaten Sekadau, Kalbar.
“Dari lima faktor, faktor cuaca bisa dikesampingkan karena berdasarkan rekaman dan kesaksian di lokasi kejadian, kondisi cuaca saat helikopter jatuh dilaporkan cerah dan tidak terjadi hujan maupun gangguan cuaca ekstrem,” kata Syarif Usmulyani.
Syarif Usmulyani merupakan Ketua Masyarakat Transportasi Udara Indonesia (MTUI) Kalimantan Barat.
Ia mengatakan, dalam dunia penerbangan terdapat lima faktor utama yang umumnya menjadi penyebab kecelakaan. Faktor tersebut meliputi faktor manusia (human factor), cuaca, gangguan atmosfer seperti pergeseran angin (windshear), kondisi landasan (runway), serta faktor mechanical maintenance (pemeliharaan mekanik).
Berdasarkan analisis awal dari rekaman visual yang beredar, Syarif Usmulyani menduga adanya gangguan pada sistem utama pesawat, khususnya pada bagian rotor utama (main rotor) yang berada di bagian tengah badan helikopter.
“Dari rekaman, posisi helikopter saat jatuh tidak langsung terjun bebas, tetapi seperti masih berusaha melakukan pendaratan. Ini mengindikasikan kemungkinan adanya masalah pada sistem mekanikal, khususnya rotor utama atau sistem penggeraknya,” katanya menjelaskan. (net/K-2)















