BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mulai merumuskan langkah serius dalam menekan kenakalan remaja. Upaya ini dibahas dalam pertemuan yang digelar di Aula Sekretariat Bersama Khatib Dayyan, Rabu (6/5/2026), dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda. Hadir pula Kepala Kesbangpol Ahmad Muzaiyin, unsur Forkopimda, jajaran SKPD, serta para kepala sekolah dari tingkat SD hingga SMA/SMK se-Kota Banjarmasin.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya perilaku negatif di kalangan remaja yang belakangan menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah beredarnya video aksi kekerasan yang melibatkan kelompok remaja bersenjata tajam.
Ananda menyampaikan pemerintah kota bergerak cepat menindaklanjuti persoalan tersebut sesuai arahan Wali Kota H.Muhammad Yamin HR. Namun, ia menegaskan penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan secara instan.
“Beberapa waktu terakhir kita melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan, pemerintah sudah bergerak, tapi harus dipahami bahwa ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat,” ujarnya.
Ia menekankan persoalan kenakalan remaja sudah cukup kompleks dan memerlukan pendekatan jangka panjang yang melibatkan banyak pihak.
“Pemko tidak bisa bekerja sendiri, kita butuh keterlibatan semua pihak, mulai dari Forkopimda hingga institusi pendidikan, karena mayoritas pelaku masih usia sekolah,” jelasnya.
Karena itu, para kepala sekolah dilibatkan langsung dalam forum tersebut untuk ikut merumuskan solusi yang berkelanjutan. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam pembinaan karakter anak.
Pemerintah Kota Banjarmasin sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah konkret sebagai tindak lanjut. Salah satunya dengan mengkaji berbagai metode pembinaan yang dinilai efektif diterapkan di daerah lain.
“Salah satu opsi yang sedang kami pelajari adalah pola pembinaan kedisiplinan seperti di Jawa Barat, ini dinilai cukup efektif dalam menekan perilaku kekerasan remaja,” ungkapnya.
Meski begitu, Ananda menegaskan bahwa pendekatan persuasif tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan awal. Pembinaan berbasis nilai agama dan penguatan karakter akan terus diutamakan.
“Pendekatan awal tetap persuasif, melalui pembinaan religius dan karakter, tapi kalau sudah tidak memadai, tentu harus ada langkah tegas demi keselamatan bersama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kendala yang dihadapi dalam penanganan kasus remaja, terutama karena banyak pelaku masih berstatus di bawah umur sehingga proses hukum memiliki keterbatasan.
“Ini tantangan kita, mereka tahu konsekuensinya tidak terlalu berat, sehingga perlu pendekatan lain yang lebih efektif,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Ahmad Muzaiyin menyebut forum ini sebagai langkah awal untuk menyusun strategi penanganan yang lebih komprehensif.
“Kami ingin mencari solusi bersama melalui sinergi lintas sektor, masalah ini tidak bisa dilihat dari satu sisi saja,” ujarnya.
Terkait wacana pembinaan melalui pelatihan kedisiplinan di lingkungan semi-militer, Muzaiyin menjelaskan bahwa hal tersebut masih dalam tahap kajian.
“Konsepnya bukan hukuman, tapi pembinaan, misalnya melalui pelatihan disiplin dan bela negara di tempat seperti Rindam atau fasilitas serupa,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa semua opsi akan dipertimbangkan secara matang, termasuk aspek hukum, psikologis anak, serta efektivitas di lapangan.
Pemerintah ingin memastikan setiap kebijakan yang diambil tidak hanya tegas, tetapi juga tepat sasaran dan tetap memperhatikan hak-hak anak.
Melalui forum ini, diharapkan lahir langkah strategis yang mampu menekan kenakalan remaja secara berkelanjutan.
Pemerintah Kota Banjarmasin menargetkan terciptanya lingkungan yang lebih aman dan kondusif, sekaligus membentuk generasi muda yang disiplin, berkarakter, dan memiliki masa depan yang lebih baik. (nug/KPO-3)















