Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Ekonomi

Hilirisasi Sawit dan Komoditas Lokal Jadi Kunci Nilai Tambah Ekonomi Kalimantan

×

Hilirisasi Sawit dan Komoditas Lokal Jadi Kunci Nilai Tambah Ekonomi Kalimantan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260506 WA0044 e1778068380381

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Ketergantungan pada ekspor bahan mentah dinilai menjadi salah satu penyebab nilai tambah ekonomi Kalimantan belum optimal.

Komoditas seperti kelapa sawit, yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk crude palm oil (CPO), disebut masih memiliki potensi turunan industri yang jauh lebih luas.

Kalimantan Post

Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof Gunawan Prayitno, SP, MT, Ph.D mengatakan hal tersebut pada acara Capacity Buiilding Opinion Maker Wilayah Kalimantan di Hotel Santika Malang, Rabu (06/05/2026).

Pada disikusi dengan para Pimpinan Redaksi se Kalimantan, bersama akademisi dan pemangku kebijakan, Gunawan mengatakan CPO sejatinya dapat diolah menjadi lebih dari 10 produk turunan, mulai dari bahan baku oleokimia, kosmetik, sabun, asam lemak, hingga produk pangan olahan.

Namun praktik di lapangan masih didominasi penjualan bahan mentah atau sebatas minyak goreng.

“Kalau hanya berhenti di CPO, nilai tambahnya terbatas. Padahal rantai nilainya panjang, dari bahan mentah, produk antara, produk akhir, sampai ke pasar,” ujarnya lagi.

Konsep hilirisasi, lanjutnya, tidak sekadar membangun pabrik pengolahan. Tantangan mendasar justru pada kesiapan sumber daya manusia (SDM). Tanpa SDM yang mampu mengoperasikan teknologi industri, pembangunan pabrik berisiko kembali bergantung pada tenaga kerja atau teknologi impor.

“Kalau pabrik dibangun tapi SDM tidak siap, akhirnya kita impor lagi. Itu artinya nilai tambahnya tetap lari keluar,” katanya.

Karena itu, penguatan pendidikan vokasi, riset, dan pengembangan (R&D) dinilai menjadi fondasi industrialisasi. Ia mencontohkan bagaimana negara seperti China mampu melompat jauh dalam dua dekade terakhir karena konsisten membangun kapasitas teknologi dan SDM.

Perkembangan industri kendaraan listrik menjadi ilustrasi nyata. Dalam kurun waktu relatif singkat, produsen mobil listrik asal China mampu menekan harga sekaligus meningkatkan daya saing global, berkat penguasaan rantai produksi dari hulu hingga hilir, termasuk baterai.

Baca Juga :  Perlu Kepastian Kerja Bagi Peserta Magang Nasional Sangat Penting

Hal serupa, menurutnya, dapat diterapkan di Kalimantan. Selain sawit, komoditas unggulan seperti kopi, jagung, padi, hingga durian memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Sebagai contoh, harga kopi di tingkat petani relatif rendah, namun setelah diolah dan dikemas menjadi produk siap konsumsi, nilainya bisa berlipat.

Begitu pula dengan durian, yang selama ini lebih banyak dijual sebagai buah segar. Dengan inovasi pengolahan—mulai dari daging beku, pasta durian, hingga produk turunan lain—nilai jualnya dapat meningkat signifikan dan memperluas pasar ekspor.

Industrialisasi juga dinilai berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja. Pabrik pengolahan dan industri turunan akan menyerap tenaga kerja lokal, sehingga mengurangi urbanisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa.

Pendekatan pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan desa pun mulai diperkenalkan di lingkungan akademik. Mahasiswa didorong mengidentifikasi potensi lokal untuk dikembangkan melalui hilirisasi dan inovasi produk.

“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan nilai tambah domestik dan memperkuat daya saing. Tanpa itu, kita akan terus menjual bahan mentah dan membeli kembali dalam bentuk produk jadi dengan harga lebih mahal,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan industrialisasi bukan hanya soal infrastruktur, melainkan konsistensi membangun ekosistem: SDM unggul, riset kuat, kebijakan berpihak pada industri, serta dukungan pasar.

Bagi Kalimantan, momentum ini dinilai krusial. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, daerah ini memiliki modal besar untuk bertransformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pusat industri berbasis nilai tambah.(nau/KPO-1)

Iklan
Iklan