BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Hilirisasi komoditas di Kalimantan dinilai tidak boleh berhenti pada pembangunan pabrik semata. Tanpa kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir, industrialisasi berisiko hanya memindahkan ketergantungan dari bahan mentah ke impor tenaga dan teknologi.
Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, Prof Gunawan Prayitno, SP, MT, Ph.D mengatakan hal tersebut pada acara Capacity Buiilding Opinion Maker Wilayah Kalimantan di Hotel Santika Malang, Rabu (06/05/2026).
Pada disikusi dengan para Pimpinan Redaksi se Kalimantan Gunawan mencontohkan komoditas sawit yang selama ini sebagian besar masih berhenti pada crude palm oil (CPO) atau minyak goreng, padahal CPO memiliki lebih dari 10 turunan produk bernilai tambah tinggi, mulai dari oleokimia, asam lemak, gliserin, hingga bahan baku kosmetik dan farmasi.
“Kalau hanya berhenti di CPO atau minyak goreng, nilai tambahnya kecil. Padahal turunannya sangat banyak,” ujarnya.
Menurutnya, hilirisasi harus dipahami sebagai pengembangan rantai nilai: dari bahan mentah, produk antara, produk akhir, hingga akses pasar. Tanpa itu, daerah penghasil komoditas seperti Kalimantan hanya menjadi pemasok bahan baku.
Ia menekankan, tantangan terbesar justru pada kesiapan SDM. Jika pabrik dibangun tetapi tenaga terampil tidak tersedia, maka kebutuhan operator dan teknologi tetap diimpor. Akibatnya, manfaat ekonomi lokal menjadi terbatas.
Contoh lain yang diangkat adalah komoditas seperti kopi, jagung, padi, hingga durian yang melimpah di Kalimantan. Tanpa pengolahan, harga di tingkat petani rendah. Namun ketika diolah menjadi produk jadi, nilainya bisa berlipat.
“Proses produksi itulah yang menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan menahan urbanisasi,” katanya.
Ia membandingkan dengan pengalaman sejumlah negara di Asia yang menempatkan riset dan pengembangan (R dan D) sebagai fondasi industrialisasi. Negara seperti China dan Jepang disebut berhasil meningkatkan daya saing karena konsisten membangun budaya riset, disiplin SDM, dan efisiensi biaya produksi sejak dini.
Menurutnya, perubahan dari bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi membutuhkan investasi besar pada pendidikan vokasi, laboratorium, dan budaya inovasi. Tanpa itu, hilirisasi hanya menjadi slogan pembangunan fisik.
Ia juga menyinggung peluang hilirisasi pada sektor pangan dan perkebunan yang dekat dengan masyarakat desa. Melalui pendekatan pengembangan potensi unggulan desa, komoditas lokal dapat diolah menjadi produk ekspor yang memperkuat daya saing ekonomi daerah.
“Tujuan akhirnya adalah peningkatan nilai tambah domestik. Dari situ ekonomi daerah naik, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, Kalimantan memiliki semua prasyarat bahan baku untuk hilirisasi, tetapi pekerjaan rumah terbesarnya adalah menyiapkan manusia yang mampu mengolahnya serta membangun ekosistem industri dari desa hingga pasar.(nau/KPO-1)















