ADA hal-hal sederhana dalam hidup yang sering baru kita sadari nilainya ketika mulai sulit didapat. Air adalah salah satunya.
Selama ini, warga Banjarmasin mungkin terbiasa membuka keran dan melihat air mengalir. Untuk mandi, memasak, mencuci hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air begitu dekat, seolah selalu tersedia.
Tetapi kemarau panjang mulai mengubah kebiasaan itu. Intrusi air laut membuat kadar garam air baku di Intake Sungai Bilu mencapai 2.119 PPM. Kondisi ini memaksa PT Air Minum Bandarmasih menghentikan sementara operasional intake tersebut. Dampaknya, distribusi air leding ke sejumlah kawasan ikut menurun.
Bagi sebagian warga, air yang mengalir lebih kecil mungkin terlihat sebagai gangguan biasa. Namun bagi keluarga yang setiap hari bergantung pada air leding, persoalannya jauh lebih besar. Ketika air berkurang, aktivitas rumah tangga ikut terganggu. Bahkan, kebutuhan paling mendasar pun harus diperhitungkan.
Di sinilah kita perlu melihat persoalan ini lebih jauh. Kemarau dan intrusi air laut bukan sekadar persoalan teknis perusahaan air minum. Ini adalah peringatan bahwa ketahanan air Banjarmasin membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan.
Upaya PT Air Minum Bandarmasih mengoptimalkan transfer air dari IPA 2 Pramuka ke IPA 1, menyiapkan armada mobil tangki dan mencari alternatif pemanfaatan air untuk kebutuhan MCK tentu patut diapresiasi. Tetapi langkah darurat tidak boleh menjadi solusi permanen.
Banjarmasin membutuhkan strategi jangka panjang. Sumber air baku harus dijaga dan diperkuat. Infrastruktur pengolahan serta distribusi harus terus ditingkatkan. Pemantauan intrusi air laut perlu dilakukan lebih cepat. Lingkungan dan sungai sebagai bagian penting dari kehidupan kota juga harus mendapat perhatian.
Pemerintah dan pengelola air tidak mungkin bekerja sendiri. Masyarakat pun harus ikut mengambil bagian. Menghemat air, menampung air secukupnya, memperbaiki kebocoran dan tidak menggunakan air secara berlebihan adalah langkah kecil yang jika dilakukan bersama akan memiliki arti besar.
Kemarau sesungguhnya sedang mengajarkan kita tentang arti sebuah tetes air. Jangan sampai kita baru menghargai air ketika keran berhenti mengalir.
Pemerintah daerah, PT Air Minum Bandarmasih, dunia usaha dan masyarakat perlu duduk bersama menyusun peta jalan ketahanan air Banjarmasin. Bukan hanya untuk menghadapi kemarau hari ini, tetapi untuk memastikan anak cucu kelak tetap bisa menikmati air bersih.
Banjarmasin adalah kota sungai. Ironis jika kota yang hidup berdampingan dengan air justru harus cemas ketika air mulai menjauh dari rumah.
Air bukan sekadar kebutuhan. Air adalah kehidupan. Dan menjaga air berarti menjaga masa depan Banjarmasin.














