Musim Hujan dan Covid-19 Penjual Buah Terpuruk

Dalam kondisi normal biasa bisa terjual ratusan kilo buah lokal dan impor setiap harinya sedangkan saat musim hujan dan wabah corona ini seperti ini menjual 30 kilo saja sudah sangat berat.

BANJARMASIN, KP – Musim hujan dan virus corona yang membuat penjual buah semakin sulit karena sepi pembeli.

Musim buah lokal dan nasional memasuki panen serentak dibeberapa sentral penghasil tidak membuat penjual buah eceran bisa meraup omzet lebih pasalnya musim hujan yang turun setiap harinya serta wabah corona membuat penjualan buah turun hingga 50 persenan lebih jika dibanding dengan kondisi nomal.

Hal ini diakui Amin penjual buah lokal dan impor dikawasan Sultan Adam kepada wartawan Jumat (17/4/2020). 

Sekalipun harga buah lokal dan impor sangat stabil namun penjualan sepi pembeli pasalnya musim hujan seperti ini jarang masyarakat membeli buah termasuk para penjual es jus dan buah yang mulai mengurangi pembeliannya.

“Buah lokal yang kami jual cukup terjangkau seperti kestela hawai dijual hanya Rp6000,- per kilonya, semangka Pelaihari yang terkenal manisnya dijual Rp5000,- per kilonya harganya kami turunkan Rp1000,- karena musim hujan seperti ini semangka dan kestela cepat busuk,’’jelas Amin.

Sedangkan buah impor ada anggur hitam dijual Rp70,000 per kilo dan anggur merah Rp40,000,- per kilo, buah fier Rp20,000,- per kilo, apel fuji dijual Rp30,000,- per kilo, apel madu Rp40,000,- per kilo sedangkan jeruk santang dijual Rp20,000,- per kilonya serta jeruk lemon Rp45,000,- per kilo.

Berita Lainnya
1 dari 458
Loading...

Dalam kondisi normal biasa bisa terjual ratusan kilo buah lokal dan impor setiap harinya sedangkan saat musim hujan dan wabah corona ini seperti ini menjual 30 kilo saja sudah sangat berat.

Dijelaskan Amin, yang menjual buah dengan menggunakan armada pik up biasa yang paling banyak membeli itu pelangggan para penjual es buah dan jus 1 orang bisa membeli lebih dari 20 kilo dengan berbagai buah pilihan seperti alfukat, nenas madu, apel, semangka hingga buah melon namun dengan wabah virus, semakin berkurang karena masyarakat yang belanja semakin menurun.

Untuk ibu rumah tangga biasanya lebih memilih buah semangka, pepaya, melon, alfukat hingga anggur dan buah naga merah itupun membeli hanya secukupnya saja lagi karena kondisi ekonomi.

“Saat ini buah lokal mulai kuasai pasar hingga mengalahkan buah impor yang selalu ada tanpa mengenal musim apalagi dollar US terus menguat sehingga harga buah impor melambung tinggi hanya sejumlah warga saja yang membeli buah ini,” kata Sofyan penjual buah lokal kawasan Japri Zam-Zam.

“ Saya menjual buah semangka Rp7000 per kilo turun menjadi Rp5000,-, buah lengkeng dari Rp35,000,- turun menjadi Rp25,000,- perkilo begitu juga buah naga asal Pelaihari dari Rp28,000,- turun menjadi Rp25,000,- per kilo meskipun harga turun namun sepi daya beli karena musim hujan dan virus ini,” sebutnya.

Penjualan buah lokal atau import akan naik jika pada saat musim panas pembeli paling banyak paman penjual es campur dan ibu rumah tangga,”

Ribut penjual es campur dikawasan Kayu Tangi menjelaskan, musim hujan yang tidak mengenal waktu dan wabah ini membuat ia bersama teman-teman kehilangan pelanggannya, dalam sehari kondisi normal bisa terjual es campur miliknya hingga 100 mangkok namun saat ini hilang hingga 70 persen.

“Dalam kondisi hujan seperti ini 20 mangkok saja sangat berat terjual sehingga rombong bergerak yang saya miliki ini setiap harinya lebih banyak liburnya dari pada jualannya,” keluh bapak 3 anak ini.(hif/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya