Kronologis Kasus Penipuan Masuk Akpol Ditangani Dit Reskrimum Polda Kalsel

Banjarmasin, KP Pada Januari 2019 silam tersangka IQ ada menemui korban PS, warga Kota Banjarbaru.

Kebetulan ada dari pihak keluarga sudah lama kenal dan korban pernah satu sekolah waktu SMP dengan dengan tersangka IQ.

Namun sekian lama sudah menghilang dari pelacakan WhatsApp, kembali ada terkonek hingga bicarakan soal penerimaan Akpol dan menyuruh anak korban mendaftar. 

IQ mengaku ada teman yaki tersangka IL, yang disebut kenal Karo Dalpers SSDM, Brigjen Sudarsono yang punya 2 Slot untuk Taruna Akpol.

Setelah pertemuan itu, kemudian beberapa kali tersangka IQ kirimkan foto-fotonya bersama pejabat tinggi Polri (salah satunya Irwasum).

Merasa yakin, kemudian korban daftarkan anaknya bernama I Putu Putra Aditya Wardana, seleksi Rim Akpol TA 2019 di Polda Kalsel.

Tetapi gugur seleksi Akademik, lalu korban telpon tersangka IL, dapat jawaban agar menunggu beberapa jam untuk mengurus supaya bisa ikut seleksi berikutnya.

Disampaikan tersangka IL bahwa anak korban bisa dibantu ikut seleksi berikutnya tapi ada “pelurunya”, Rp1 M, dan korban minta waktu berunding dengan Keluarga.

Kemudian tersangka IQ kirim No Rek IL ke Hp korban dan akhirnya sisetuju dengan uang transfer Rp1 M

21 Mei 2019 Setelah dikirim tersangka IQ menelpon korban agar anaknya berangkat ke Semarang, ikut seleksi berikutnya.

Diceritakan, akhir Mei 2019, korban, anaknya dan orang tuanya berangkat ke Semarang bertemu dengan IQ, tetapi tidak ada kepastian dan korban pulang.

“Anak dan orang tuanya menunggu di Semarang selama 1 bulan, komunikasi korban dengan tersangka IQ jalan terus,” papar Kombes Pol Sugeng.

Awal Juli 2019, tersangka IQ datang ke Banjarmasin dan bermalam di hotel G,Sign dan memanggil korban, dalam pertemuan IQ mengatakan mau mengambill berkas anak korban di Polda Kalsel.

Berita Lainnya
1 dari 960
Loading...

Dengan penjelasan bahwa anak korban masih bisa masuk Pendidikan walau Dik Taruna Akpol sudah dibuka.

Lagi-lagi, tersangka IQ minta uang Rp200 juta dengan sebukan untuk memberi SSDM supaya bisa langsung masuk Pendidikan.

Besoknya korban jemput tersangka di Hotel G.Sign untuk diantar ke Bandara sekaligus menyerahkan uang Rp200 juta.

Dalam perjalanan ke Bandara, IQ berkata agar bulan Agustus nanti langsung ikut pendidikan.

Dan Tanggal 4 Agustus 2019 Korban, anaknya berangkat ke Semarang, bertemu tsk IQ dan mengatakan agar ditunggu, nanti ada orang Mabes yang akan menjemput anaknya untuk diantar ke Akpol, ikut Pendidikan.

Korban menunggu 6 hari, tidak ada kepastian dan mereka pulang. Kemudian antara bulan Agustus sampai Oktober 2019, komunikasi korban dengan tersangka 1Q masih berjalan.

Kemudian pada akhir Oktober IQ meminta agar anak korban ke Semarang, lagi.

Maka awal November 2019 korban dan anaknya berangkat ke Semarang dan bertemu tersangka IL di KFC dekat Akpol.

Tersnagka IL sebut akan bertemu Gubernur Akpol, tunggu saja perkembangannya nanti dikabari, dan oleh korban ditunggu 5 hari tak ada kabar. Tersangka IL malah ke Jakarta dan korban pulang.

Pada awal November 2019 tersnagka  IQ telpon korban, mengatakan sudah ada kepastian dari SSDM bahwa ada 14 orang yang bisa masuk Pendidikan Akpol untuk bergabung dengan Taruna lain yang sudah ikut Dik, tapi SSDM minta uang perkepala Rp150 juta dan agar secepatnya berangkat Semarang.

Tanggal 7 November 2019 Korban transfer uang Rp150 juta ke Rek tersangkla IL.

Dan korban dan anak berangkat ke Semarang, bertemu tersnagka IQ dan berkata tunggu

jemputan dari Mabes dan Akpol, namun setelah ditunggu 3 hari tidak ada lagi jemputan, korban pun kesal lantas pulang.

Atas kejadian tersebut, korban mengalami kerugian sejumlah Rp1.350.000.000 (satu miliar tiga ratus lima puluh juta) rupiah dan melaporkannya ke Polda Kalsel . (K-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya