Teknologi TMC Mampu Tekan Karhutla


Jakarta, KP – Upaya pencegahan kebarakan hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan oleh pemerintah, baik pada tingkat pusat terlebih lagi daerah. Salah satunya dengan cara Teknologi Modifiaksi Cuaca (TMC) yang dianggap efektif mengurangi karhutla.


Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT), Yudi Anantasena, mengungkapkan saat ini 78 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau dan antisipasi karhutla harus sesegeranya dilakukan.


“Dari 78 persen itu, 70 % nya sudah lebih dari 21 hari memasuki musim kemarau, maka ini sudah pada posisi siaga,” ujarnya saat menjadi narasumber pada media breifing secara online dengan tema “ Upaya Teknologi Modifikasi Cuaca dalam Penanggulangan Karhutla” yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jum’at (14/8) siang.
Menurutnya, berdasarkan arahan Presiden, Jokowi di rapat koordinasi terbatas (Rakortas) Karhutla 22 Juni yang lalu dan berkaca pada pengalaman sejak 2015 hingga 2019, maka perlu adanya pencegahan karhutla secara permanen.


“Seperti yang kita ketahui karhutla ini merupakan musibah tahun yang pada setiap musim kemarau pasti akan terjadi di beberapa wilayah Kalimantan dan Sumatera, oleh karena itu perlu adanya pencegahan secara permanen yang salah satunya teknologi TMC,” katanya.

Berita Lainnya
1 dari 1.423
Loading...


Dijelaskannya, teknologi TMC ini berfungsi untuk meningkatkan curah hujan di wilayah-wilayah yang dianggap rawan karhutla, yakni Kalimantan, Sumatera dan Papua.


Teknologi ini dulunya lebih dikenal dengan sebutan hujan buatan dan BPPT yang ada sejak tahun 1979 sudah sering melakukan ini untuk mengisi waduk saat sawah para petani kekeringan. Tapi sekarang teknologi ini juga akan kita aplikasikan guna mencegah karhutla,” papar Yudi.


Dikatakannya, meskipun curah hujan tinggi masih terjadi sebagaian Sumatera dan Kalimantan seperti Aceh, Sumut, Riau dan Kalbar, Kasel bagian timur, Kalteng bagian barat serta Kaltim bagian selatan, sebaliknya curah hujan rendah sudah terjadi di Jakarta, Banten, Jateng, NTT, sebagian besar Sulawesi hingga Papua.
Melihat kondisi ini, sambung Yudi pihak sudah menyiapkan berbagai upaya pencegahan, monitoring cuaca dan analisa wilayah. “ Kami sudah siap melakukan modifikasi cuaca guna mencegah
Berdasarkan data ini, ia mengajak semua elemen terkait untuk melakukan pencegahan. “ Teknologi TMC perlu kita dukung, selain itu upaya sosialisasi kepada masyarakat juga perlu ditingkatkan,” tambahnya.


Ia juga berharap luas karhutla pada tahun ini dapat diminimalisir dan dicegah dengan teknologi TMC. “ Pada tahun 2019 yang lalu total karhutla se Indonesia 942.485 hektar, terdiri dari 269.777 hektar lahan gambut dan 672.708 hektar lahan mineral. Kita berharap tahun ini tidak sebesar itu dan bisa dilakukan pencegahan terlebih dahulu,” tutupnya.(vin/KPO-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya