Dampak Isu Kebangkitan PKI di Musim Politik Terhadap Pola Pikir Kaula Muda

Banjarmasin, KP – Demam PKI memang sudah menjadi siklus tahunan. Apalagi menjelang pemilu, isu ini langsung laku keras jika dipasarkan di dunia politik. Hal tersebut menyita perhatian dari salah satu Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin, Mansyur.

Dosen Program Studi (Prodi) Sejarah di Faultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (FKIP ULM) Banjrmasin ini mengatakan sebenarnya ketakutan atas komunisme di masa kini merupakan sisa trauma di masa Orde Baru.

Menurutnya, isu tersebut diramu ulang agar layak dipakai lagi sebagai kendaraan politik masa kini. Tujuannya tidak lain
untuk merusak pola pikir masyarakat dan mengkritik pemerintah.

“Makanya, bagi generasi sekarang jagalah pola pikir dan sikap agar tak jatuh dalam pengaruh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, seperti komunisme itu,” ucapnya saat ditemui Kalimantan Post di ruang kerjanya, Selasa (29/09) petang.

Ia menekankan bahwa saat ini bukan lagi masuk zamn orde baru. “Ingat ini zaman modern, bukan zaman Orde Baru lagi. Berpikir dan bertindaklah seperti orang modern yang tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu masa lalu, tapi menjadikannya sebagai bahan pembelajaran
untuk masa depan yang lebih baik,” tukasnya.

Berita Lainnya
1 dari 1.026

Untuk menjaga hal tersebut bisa dilakukan salah satunya dengan menonton film pengkhianatan G30S/PKI. Karena dengan mengetahui peristiwa sejarah melalui film tersebut akan menjaga kesadaran kita bahwa apapun
yang terjadi di negara ini, tidak boleh ada sedikitpun ruang bagi ideologi komunis.

Disamping itu, terkait pro kontra yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini tentang pemutaran kembali film tersebut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya Kalimantan ini menerangkan
bahwa perlu dukungan penuh pada setiap institusi menggagas aktifitas nonton bersama film karya Arifin C Noer tersebut.

“Tentunya kita tidak rela jika anak-anak muda penerus generasi bangsa lupa akan sejarahnya. Anak-anak muda yang akan melanjutkan estafet bangsa ini harus terus diingatkan bahwa ancaman untuk merusak NKRI dan mengganti Pancasila akan terus ada selama republik ini berdiri,” jelasnya.

Kendati demikian, dosen Proi Sejaran yang akrab disapa Sammy ini menghimbau agar para pemuda Indonesia jangan sampai berbangga diri jika berdiskusi dan bicara komunisme
sementara nun jauh waktu silam telah terjadi kekejaman PKI di tanah air tercinta.

“Anak-anak muda harus menyerap, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai agama dan harus terus dibumikan. Peristiwa berdarah dan pembantaian yang kejam terhadap para jenderal tahun ’65 serta pemberontakan tahun ’49 di Madiun sudah cukup menjadi dasar bahwa ideologi ini harus dilarang sepanjang sejarah Indonesia selama negara ini masih berdiri tegak dalam kemerdekaan,” paparnya.

Mansyur menuturkan bahwa ada beberapa hal perlu dilakukan generasi muda saat ini. Pasalnya, dengan mempelajari sejarah memungkinkan manusia zaman sekarang mengetahui kesalahan-kesalahan manusia di masa lalu atau mengetahui kunci keberhasilan para pendahulu. Mengetahui kelemahan dan kekurangan di masa silam berguna agar generasi muda zaman sekarang tidak mengulangi lagi di masa sekarang dan masa mendatang.

“Generasi muda perlu belajar sejarah karena sejarah mengajarkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sejarah tidak hanya tentang kebaikan tetapi ada juga keburukan. Maka generasi muda zaman sekarang bisa mengambil kebaikan dan menghilangkan keburukan,” pungkasnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya