Pandemi Berujung Resesi Ekonomi, Islam Punya Solusi

Oleh : Abibah
Aktivitis Muslimah Banjarbaru

Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (5/8/2020), merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2020 sebesar minus 5,32 persen dibandingkan triwulan II-2019, atau year on year (yoy). Dibandingkan dengan triwulan I-2020, atau quarter to quarter (qtq), angkanya minus 4,19 persen. Dengan kontraksi ekonomi sebesar itu, saya sarankan untuk kesekian kalinya, tolong atasi pandemi Covid-19 ini terlebih dulu. Minimal, agar transmisi penyakitnya bisa dikendalikan selama vaksin dan obat belum ditemukan. Demikian seperti dirilis dari https://money.kompas.com

Merosotnya ekonomi Indonesia ini berbanding lurus dengan situasi ekonomi di negara lain, khususnya mereka yang menjadi mitra dagang negara. Hal ini tidak lain karena disebabkan oleh pandemi virus Corona. “Pandemi menimbulkan efek domino dari kesehatan menjadi masalah sosial dan ekonomi. Dampaknya menghantam lapisan masyarakat di rumah tangga sampai korporasi,” tutur Suhariyanto. (https://jakpusnews.pikiran-rakyat.com)

Efek lanjutannya, kini harga komoditas minyak dan gas (migas) serta hasil tambang di pasar internasional turun secara kuartal dan tahunan. Sementara, harga komoditas makanan turun secara kuartal, tetapi naik secara tahunan.

Kapitalisme Gagal Atasi Pandemi

Tuntutan para pakar baik kesehatan maupun ekonomi merujuk pada satu hal yaitu pemerintah harus segera mungkin mengatasi pandemi covid 19. Kebijakan yang terlalu prematur dan dibangun dengan paradigma untung rugi, bukan demi menyelamatkan jiwa manusia, wajar saja pandemi tak junjung usai.

Ketika awal pandemi terjadi di Indonesia, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dengan harapan masyarakat mau tetap beraktivitas di rumah, dan pemerintah tidak terkena kewajiban menyediakan semua kebutuhan pokok rakyat. Wajar akhirnya masyarakat yang tidak dapat makan bila tidak keluar rumah, tabungan yang sudah habis, mau tak mau keluar rumah menjadi keharusan dari pada kelaparan. Penyebaran virus pun tak bisa terhenti.

Lahirlah berbagai masalah sosial-ekonomi akibat pandemi. Perusahaan banyak yang merumahkan karyawannya bahkan PHK. Korbannya tentu keluarga yang harus mengencangkan ikat pinggang. Dan yang tak kuat berujung pada perceraian dan kehancuran keluarga tak terelakkan.

Kemudian lahir pula kebijakan New Normal, yang semakin menambah jumlah kasus positif Covid-19. Bermunculan cluster-cluster baru termasuk di instansi pemerintahan dan perusahaan swasta dan BUMN. Jumlah kasus positif semakin tak terbendung, bahkan yang paling menyedihkan banyaknya juga tenaga kesehatan yang juga terpapar, padahal merekalah ujung tombak dalam penanggulangan Covid-19 ini.

Akar Penyebab Resesi Ekonomi

Dapat dikatakan bahwa pemicu resesi ekonomi saat ini salah satunya adalah pandemi Covid-19 selain krisis minyak dunia. Namun sejatinya pertumbuhan ekonomi dunia sudah melambat, sebelum adanya pandemi. Justru dengan pandemi ini semakin menunjukkan penyebab dari resesi ini yaitu sistem ekonomi kapitalis.

Berita Lainnya
1 dari 155
Loading...

Akar penyebab krisis ekonomi kapitalisme yang utama adalah riba dengan berbagai bentuknya. Terutama dalam bentuk perbankan ribawi, mata uang berbasis dolar/fiat money, pasar saham dan sektor ekonomi non riil.

Riba dapat menghambat investasi. Ketika suku bunga tinggi, masyarakat cenderung menyimpan uangnya di bank. Dengan tanpa usaha keuntungan tiap bulan dapat diraih. Sebaliknya bunga menjadi biaya produksi bagi pelaku usaha yang modalnya dari pinjaman berbunga. Biaya produksi tinggi, maka harga jual produk pun tinggi. Ujungnya terjadi inflasi akibat lemahnya daya beli konsumen.

Seperti di masa pandemi sekarang konsumsi restoran dan hotel serta transportasi dan komunikasi mengalami minus 16,5 persen dan minus 15,5 persen. Efeknya, semua penjualan eceran terkontraksi. Mulai dari makanan, pakaian, hingga budaya dan rekreasi. Bahkan, penjualan rokok yang biasanya tahan banting pun anjlok. Penjualan wholesale untuk mobil dan motor terkontraksi. (https://money.kompas.com)

Islam Punya Solusi

Dalam kepanikan dan tuntutan perut, bukan tidak mungkin terkecoh mengambil tawaran solusi tambal sulam dari kapitalisme dengan peningkatan pemasukan dari ekonomi kreatif dan mengabaikan perampokan aset ekonomi strategis dari umat sebagai pemilik sahnya.

Karenanya menjadi mendesak bagi negeri ini untuk mengambil solusi Islam yang diadopsi negara untuk menghadapi dampak wabah yang mengancam nyawa dan menghantam kehidupan ekonomi. Kita harus memahami bagaimana modal yang Allah anugerahkan bagi negeri ini sangat berlimpah dan mampu memberikan kehidupan sejahtera hanya bila dikelola dengan sistem ekonomi Islam.

Sistem ekonomi yang lahir dari Alquran dan Sunnah, semua berbasis ekonomi riil dan tentunya pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang telah dikaruniakan Allah dikelola sedemikian rupa oleh negara untuk seluruh rakyat. Sehingga ketika terjadi krisis, Islam tetap bertahan dan bangkit.

Dalam buku The Great Leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa pada tahun 18 H, orang-orang di Jazirah Arab tertimpa kelaparan hebat dan kemarau. Kelaparan kian menghebat hingga binatang-binatang buas mendatangi orang. Binatang-binatang ternak mati kelaparan.

Hal pertama yang dilakukan Khalifah Umar adalah menjadi teladan terbaik bagi rakyatnya dalam menghadapi krisis ekonomi ini. Ia mengambil langkah untuk tidak bergaya hidup mewah. Makanan ia seadanya. Bahkan kadarnya sama dengan rakyat yang paling miskin atau bahkan lebih rendah lagi.

Kedua, Khalifah Umar langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Inilah teladan kepemimpinannya dalam pemerintahan Islam yang sangat peduli dengan penderitaan rakyatnya. Khalifah Umar tidak hanya memberlakukan aturan dan teladan tersebut bagi dirinya sendiri. Ia juga memberlakukan hal itu kepada keluarganya. Mereka juga harus lebih menderita dari derita yang dirasakan oleh rakyat.

Adakah teladan seperti itu kita temukan saat ini, khususnya Indonesia, pemimpin yang bersikap seperti ini ketika ada krisis? Wajar bila tidak ada, karena sistem yang diterapkan bukan Islam.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya