Oleh : AHMAD BARJIE B
Vulnerable country dapat dimaknai negeri yang merasa akan diserang oleh negara tetangga atau negara lain yang kurang bersahabat dengannya. Dengan posisinya itu, maka negara bersangkutan dihantui rasa takut kemudian mempersiapkan diri dengan kekuatan ekonomi, militer, politik, atau menjalin aliansi dengan negara lain yang lebih kuat, yang sekiranya dapat membantunya kalau diserang.
Di dunia ini ada beberapa negara yang boleh dikategorikan sebagai vulnerable countries, yaitu: Pertama, Israel, ia dikelilingi oleh negara-negara Arab, yang sebagian bermusuhan dengannya, sebagian menjalin hubungan diplomatik, dan sebagian tidak mengakui keberadaannya. Kedua, Korea Utara, sejak berakhirnya Perang Korea di tahun 1950-an, negeri ini putus hubungan bahkan sering bersitegang dengan saudaranya Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat. Karena itu Korea Utara sejak dipimpin oleh Kim Il Sung, Kim Yung Il, sampai dengan cucunya Kim Jung-un sekarang selalu memperkuat negaranya dengan kemampuan militer, termasuk pemilikan senjata nuklir. Korea Utara juga menjalin aliansi dengan negara seideologi, yaitu Cina dan Rusia.
Ketiga, Singapura, oleh sementara pihak dianggap sebagai vulnerable country juga. Sebab, ia dikelilingi oleh negara-negara tetangga mayoritas Melayu, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Karena itu, meskipun sangat kecil, namun Singapura berusaha memperkuat dirinya secara ekonomi, politik dan juga militer, dan punya haluan politik yang berbeda dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya, sehingga ia tetap diperhitungkan.
Indonesia, menurut Prof Salim Said (alm), tidak dalam status negeri yang rentan diserang. Seolah tidak ada yang ditakuti dan akan menyerangnya. Garis politik Indonesia yang bebas aktif, menjadikannya tidak tegas, supaya tetap bersahabat dengan semua, tidak berjarak dan bersitegang dengan negara lain, meskipun kadang terasa menyakitkan dan berlawanan dengan kehendak rakyat. Karena tidak ada “yang ditakuti”, maka Indonesia tidak maju-maju dan kurang mandiri. Di Indonesia Tuhan pun tidak ditakuti, karenanya banyak pejabat berani korupsi dan melanggar hukum, ujarnya.
Iran yang sekarang tengah berperang dengan Israel dibantu Amerika, juga dikategorikan sebagai vulnerable country. Hubungannya dengan negara-negara Arab tetangga dalam beberapa dekade diwarnai panas dingin, putus, nyambung, dan putus lagi. Walaupun sama-sama muslim, hanya berbeda mazhab dan aliran, namun Iran dan negara-negara Arab seolah saling mencurigai, dan belum menampakkan hubungan mesra sebagaimana mestinya.
Memang keadaan ini tidak sekonyong-konyong terjadi. Republik Islam Iran sejak berdiri 1979, sudah mendeklarasikan anti-Zionis Israel dan Amerika. Amerika mengajak negara-negara Eropa mengembargo Iran dan sejumlah uang Iran di bank-bank Amerika juga dibekukan. Sejak Ayatollah Ruhollah Khomeiny sampai Ayatollah Ali Khameney negeri para mullah tersebut putus hubungan dengan Israel dan Amerika. Berbeda ketika Iran dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlevi (Dinasti Pahlevi) yang sangat mesra dengan Israel dan Amerika.
Negara-negara Arab juga khawatir kalau-kalau Iran mengekspor revolusi. Sebab sejak revolusi 1979 itu, Iran telah berubah menjadi negara theokrasi-demokrasi, sementara negara-negara Arab masih memberlakukan dinasti-monarki, dan mereka sangat khawatir apa yang terjadi di Iran saat itu menjalar pula ke negeri mereka. Kekhawatiran itu diwujudkan dengan kesediaan negara-negara Arab membuka negaranya sebagai pangkalan militer Amerika, dengan harapan dapat melindungi dari serangan Iran. Aliansi negara-negara Arab Teluk dengan Amerika juga dengan harapan Israel tidak menyerangnya, karena sudah bersahabat dengan Amerika.
Merasa “dicurigai dan dimusuhi” oleh Amerika, Eropa, Israel dan beberapa negara Arab, serta embargo sejak 1979 sampai sekarang, akhirnya Iran membangun negaranya secara mandiri dengan kekuatan sendiri. Perang Iran versus Israel dan Amerika 2025 lalu dan yang sekarang, menunjukkan ternyata teknologi persenjataan Iran sangat kuat, tangguh dan di luar prediksi banyak pihak. Berarti Iran mampu mengerahkan otak rakyatnya untuk maju dan menggunakan potensinya untuk mandiri dan diperhitungkan. Tidak itu saja, mereka juga mampu menjadikan kehidupan 90 juta rakyatnya relatif sejahtera. Menurut Dian Wirengjurit, mantan Dubes RI di Iran 2012-16, ia sudah berkeliling di 30 provinsi dari 31 provinsi di Iran, tidak ada rumah kumuh dan orang miskin di sana. Kebutuhan dasar pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan terpenuhi. Semua terjangkau, dan harga BBM hanya sekitar Rp 500 per liter, sehingga kegiatan ekonomi produksi dan sektor jasa berkembang karena berbiaya rendah.
Hal ini diperkuat dengan integritas para pemimpin Iran dari level atas hingga bawah. Ayatollah Ali Khameney dan anak-anaknya, serta semua pejabat hidup sederhana. Sekelas Presiden Mahmoud Pereshkian saja jam tangannya hanya berharga jutaan rupiah. Semua pejabat tak ada yang tampil mewah, semua potensi dan kekayaan negara didedikasikan untuk negara dan rakyat. Sekiranya Iran tidak membelanjakan hartanya untuk persenjataan, tentu mereka lebih maju dan sejatera lagi. Tapi itu hak mereka, karena itu tadi, merasa sebagai vulnerable country. Iran tidak pernah menyerang lebih dahulu, tapi ketika diserang mereka terpaksa membela diri.












