Agar Diminati, Tanggui Dibuat Lebih Menarik

Bisa membuat tanggui ini, karena sejak kecil sudah terbiasa membantu ibu. Kini, beliau sudah tua, tinggal kami anak-anaknya yang meneruskannya,” ujar warga jalan Kuin Selatan

BANJARMASIN, KP – Jemari Nurhainah terlihat begitu cekatan merekatkan helai demi helai daun nipah dengan menggunakan jarum dan tali rafia, hingga menjadi sebuah Tanggui. Alat penutup kepala tradisional khas Banjar yang biasa digunakan masyarakat untuk bertani dan pedagang apung menghindari terik matahari serta hujan.

Pekerjaan membuat Tanggui, menurut wanita berusia 55 tahun itu, sudah ditekuninya sejak kanak-kanak. Rutinitas yang dilakoninya sepulang sekolah untuk membantu ibunya yang juga pengrajin Tanggui.

“Bisa membuat tanggui ini, karena sejak kecil sudah terbiasa membantu ibu. Kini, beliau sudah tua, tinggal kami anak-anaknya yang meneruskannya,” ujar warga jalan Kuin Selatan RT 5, Kelurahan Kuin Cerucuk, Kecamatan Banjarmasin Utara itu, Selasa (6/10/2020).

Ia mengungkapkan, Tanggui merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Sebab, tradisi pembuatan Tanggui ini sudah ada sejak dulu dan diwarisi secara turun temurun oleh generasi penerusnya.

“Namun, anak-anak jaman sekarang sepertinya tak begitu tertarik untuk menggeluti kerajinan membuat Tanggui. Padahal, harus ada regenerasi agar kerajinan Tanggui ini tetap terjaga kelestariannya,” ucapnya, ketika disambangi di rumahnya, yang sekaligus ia jadikan kios cinderamata yang menjual berbagai kerajinan khas Banjar.

Dikatakannya, pengrajin Tanggui di Banjarmasin kebanyakan merupakan penduduk asli di kawasan Kampung Alalak dan Kampung Kuin, serta didominasi oleh kaum hawa yang sudah berkeluarga dan perempuan paruh baya.

Berita Lainnya

Pemprov Bangun Industri Wisata Berbasis Hutan

Jadi Binaan Honda, SMK Ma’arif NU Martapura

1 dari 480

Agar lebih luas dalam hal pemasaran, Nurhainah mulai berinovasi. Agar Tanggui semakin dikenal luas dengan penampilan yang menarik. Ia pun mulai berkreasi dengan memberikan hiasan-hiasan pada Tanggui buatannya.

“Kalau yang saya buat sekarang ini adalah Tanggui Hias. Yang dipercantik dengan diberi payet airguci, kain planel, dan di cat berbagai motif dan warna agar tampilannya semakin menarik,” tuturnya.

Tanggui Hias, lanjut Nurhainah, biasanya digunakan berkelompok untuk sebuah kegiatan pentas seni atau sebuah acara agar terlihat seragam. Kebanyakan yang membeli dari sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan instansi pemerintahan. Selain itu, banyak juga yang menjadikan Tanggui Hias sebagai cinderamata yang dibeli oleh wisatawan yang datang ke Banjarmasin sebagai oleh-oleh.

“Harganya dijual bervariasi, mulai Rp 25.000 hingga Rp 40.000. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya,” ujar Nurhaniah, yang telah menekuni membuat Tanggui Hias sejak tahun 2014.

Selama ini, Nurhainah bekerjasama dengan beberapa orang kenalannya untuk memasarkan Tanggui Hias buatannya, baik melalui pameran-pameran yang sering digelar di Kalimantan Selatan maupun lewat media sosial.

Sebagai salah satu kearifan lokal, tradisi pembuatan Tanggui ini sejatinya tak tergerus oleh jaman yang semakin modern dan kemajuan teknologi yang terus berkembang.

Seiring itu, baru-baru ini, pemerintah kota Banjarmasin pun telah menetapkan kawasan Kampung Kuin sebagai salah satu destinasi wisata Kota Banjarmasin dengan menjadikannya Kampung Tanggui. Perlu dukungan berbagai pihak untuk menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari, tak lekang oleh waktu. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya