Bambu Produk Hasil Hutan Bukan Kayu yang Menjanjikan

Sejauh ini melalui Dinas Kehutanan ada sekitar 16 jenis HHBK yang telah dikembangkan seperti berbagai jenis madu, olahan bambu (tusuk sate), kayu manis, kopi dan lainnya.

BANJARMASIN, KP – Program Revolusi Hijau yang digalakkan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir ini tidak hanya memfokuskan pada kegiatan penanaman pohon untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, tetapi juga upaya mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat sekitar kawasan hutan.

Upaya ini berupa pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Hutan Kalsel seluas 1,7 juta hektar memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah sangat potensial untuk dikembangkan.

“Inti dari program Revolusi Hijau selain menanam untuk perbaikan kerusakan lingkungan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutur Pejabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Roy Rizali Anwar, Minggu (1/11). Sejauh ini melalui Dinas Kehutanan ada sekitar 16 jenis HHBK yang telah dikembangkan seperti berbagai jenis madu, olahan bambu (tusuk sate), kayu manis, kopi dan lainnya.

HHBK ini juga dikelola oleh masyarakat sekitar hutan melalui program perhutanan sosial yang tersebar di sembilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di wilayah Kalsel.

“Program perhutanan sosial adalah upaya mensejahterakan masyarakat tanpa melakukan penebangan pohon,” tambah Roy.

Berita Lainnya
1 dari 521

Salah satu HHBK di Kalsel yang cukup menjanjikan adalah produk olahan bambu berupa tusuk sate, tusuk pentol dan tusuk gigi. Bahkan kini pemasaran produk olahan tidak hanya di Kalsel tetapi juga sampai Kalimantan Timur.

“Permintaan tusuk sate terus meningkat. Di pabrik pengolahan tusuk sate yang dikelola KTH Surya Muda Hulu Sungai Selatan produksi perbulannya mencapai 3-4 ton,” kata Kepala KPH Hulu Sungai Rudiono Herlambang.

Tanaman bambu selain mempunyai fungsi ekonomi juga fungsi ekologis melindungi kawasan daerah aliran sungai (DAS). Fungsi ekologis bambu bisa  menahan butiran hujan dan mencegah erosi di sepanjang DAS.

 Sejauh ini tanaman bambu belum dibudidayakan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Sebagian besar tanaman bambu di Kalsel tumbuh secara liar di sepanjang DAS beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Tapin. Belum ada budidaya tanaman bambu skala luas. Selama ini tanaman bambu baru dimanfaatkan sebatas untuk rakit bambu, rumah lanting dan sedikit untuk kerajinan.

Luas tanaman bambu di Kalsel diperkirakan seluas 4.000 hektar. Sementara untuk mendukung sebuah industri seperti pabrik tisu diperlukan 15 ribu hektar. Oleh karena itu Kalsel menargetkan penanaman bambu 11 ribu hektar sebagai bagian rehabilitasi DAS dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Selain itu Kalsel juga membangun Arboretum bambu di kawasan Tahura Sultan Adam dengan mengoleksi 24 jenis tanaman bambu yang diambil dari sejumlah negara termasuk China. Di Kalsel ada 14 jenis tanaman bambu dengan kegunaan yang berbeda-beda.  (lia/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya