Harga Ayam Potong Belum Normal

Penjualan daging ayam saat ini masih belum normal seperti hari-hari sebelum adanya pandemi Covid-19. Jualan sunyi. Harga ayam belum turun, naik terus. Ukuran seperti ini, biasa dijual paling tinggi seharga Rp 32.000 kini harganya Rp 43.000,” ujar Hj Suriah

BANJARMASIN, KP – Harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin, beberapa pekan ini masih terbilang tinggi. Sebelumnya, harga sempat turun, tapi akhir-akhir ini kembali naik.

Pedagang ayam potong mengeluhkan harga yang tak kunjung turun ke harga normal. Masalah itu berdampak pada penjualan daging ayam di lapak mereka yang semakin tak menentu.

Maksud hati ingin mendapatkan keuntungan yang lebih, para pedagang justru mengalami penuruan jumlah pembeli.

Seperti disampaikan oleh seorang pedagang ayam potong, Hj Suriah (48) saat ditemui di lapaknya di kawasan Pasar Sentra Antasari, Jalan Pangetan Antasari, Kelurahan Kelayan Luar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, yang mengeluhkan harga jual ayam potong yang cukup tinggi.

“Penjualan daging ayam saat ini masih belum normal seperti hari-hari sebelum adanya pandemi Covid-19. Jualan sunyi. Harga ayam belum turun, naik terus. Ukuran seperti ini, biasa dijual paling tinggi seharga Rp 32.000 kini harganya Rp 43.000,” ujar Hj Suriah, sambil menunjukkan ayam potong berukuran sedang.

Naiknya harga ayam potong, sambungnya, membuat pembelinya berkurang. “Saat bulan Maulid biasanya ayam cepat saja lakunya. Tapi, kemarin pembeli ragu untuk beli ayam, setelah tahu harganya malah tak jadi membeli. Mereka lebih memilih telur sebagai lauk,” ucapnya.

Fitri, seorang pembeli di Pasar Hanyar mengatakan, tingginya harga ayam potong membuatnya harus pandai-pandai mengatur uang belanjanya.

Berita Lainnya
1 dari 528

“Biasa saya beli harganya Rp 50.000 itu ayamnya cukup besar. Kini, dengan harga yang sama, ukuran ayamnya justru lebih kecil,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, H Birhasani mengungkapkan, berdasarkan Permendag No 7 Tahun 2020, harga acuan ayam potong di tingkat konsumen adalah Rp 35.000 per kilogram.

“Jadi, penjualan itu standardnya adalah kilogram, bukan perekor. Jika satu ekornya lebih dari satu kilo, maka harganya disesuaikan dengan berat timbangannya,” papar H Birhasani.

Diakuinya, memang pada bulan lalu harga ayam anjlok hanya dikisaran Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per kilogram, jauh dibawah harga acuan pemerintah yang berakibat para peternak merugi.

“Namun, begitu tiba bulan Maulid, terjadi permintaan yang tinggi oleh masyarakat dan harganyapun berangsur membaik, namun masih dalam batas harga yang wajar,” jelasnya kepada Kalimantan Post, Rabu (11/11).

Ia memperkirakan, ada beberapa faktor penyebab naiknya harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin.

“Ada beberapa sebab, misalnya seperti permintaan pasar yang tinggi, apalagi saat tiba bulan Maulid. Warga ramai menggelar kegiatan maulidan maupun acara perkawinan,” sebutnya.

Tak hanya itu, lanjut H Birhasani, kegiatan pemerintah juga sudah mulai berjalan, seperti rapat-rapat, pertemuan dan yang lainnya. Demikian pula dengan kegiatan kemasyarakatan lain, juga sudah berjalan kembali, yang banyak memerlukan daging ayam sebagai lauk jamuan makan.

“Faktor lainnya, yakni ketersediaan stok yang kurang dari para peternak. Mungkin, disebabkan banyak peternak mandiri yang gulung tikar, karena merugi saat harga ayam potong anjlok kemarin-kemarin,” imbuhnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya