Cerita Kolektor Ikan Pemangsa di Banjarmasin, Makin Besar dan Cerah, Harganya Makin Mahal

Banjarmasin, KP – Ikan hias yang belakangan digandrungi masyarakat di Kota Banjarmasin rupanya tidak hanya yang kalem, cantik, dan mungil saja. Saat ini Ikan pemangsa atau predator pun cukup banyak peminatnya.

Salah seorang kolektor ikan predator di Kota Banjarmasin, Muhamad Khairani mengatakan, salah satu daya tarik dari ikan tersebut adalah makannya yang lahap.

Selain itu, ukuran, corak dan warna yang ada di tubuh ikan predator tersebut juga menjadi nilai tambah bagi para pencintanya.

“Makin besar, cerah dan banyak corak dari seekor ikan, maka harganya semakin mahal,” ungkapnya pada Kalimantan Post, Minggu (20/12) sore.

Ia membeberkan, untuk anakan ikan jenis leopard dan red tail catfish, saja harganya ditaksir antara puluhan hingga ratusan ribu.

Kemudian, ada pula pari berjenis black diamond, yang ukurannya masih sebesar telapak tangan. Yang harganya mencapai Rp3,5 juta.

“Peminatnya cukup banyak. Tidak hanya dari Kota Banjarmasin saja. Tapi juga dari luar daerah,” bebernya.

Di sisi lain, cara perawatannya pun cukup mudah. Karena tidak perlu diberi makan setiap hari. Melainkan bisa dua hari sekali atau sekali dalam sepekan.

Lebih lanjut. Menilik dari berbagai jenis ikan dipajang, Khairani juga membeberkan bahwa ikan-ikan yang dikoleksi, didatangkan dari berbagai daerah. Tapi kebanyakan, dari Pulau Jawa. Kendati demikian, bukan berarti yang dikoleksi keduanya tidak ada yang berasal dari kalsel.

“Tiger fish, ini contohnya. Kami beli dari nelayan. Ditangkap di Sungai Barito. Harganya kini mencapai Rp1,6 juta,” tutupnya, seraya tersenyum.

Berita Lainnya
1 dari 2.108

Hal senada juga diutarakan oleh ibnu Subroto, pemilik berbagai ikan yang dipajang di salah satu gerai ikan hias di kawasan Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur,

Yang dipajang di sana bukanlah ikan biasa. Rata-rata, adalah ikan pemangsa. Sebagai contoh, ada tiger fish, piranha, hingga pari.

Tentu bukan tanpa alasan ikan-ikan itu, disebut ikan pemangsa. Melainkan, karena sifat makannya yang rakus dan kerap memangsa ikan-ikan atau hewan lainnya.

“Jadi, makanannya bukan pelet ikan yang diolah dari berbagai macam bahan dan dicetak kecil-kecil itu,” ucap sang owner, sekaligus pehobi ikan pemangsa itu.

Sudah empat tahun terakhir, lelaki 29 tahun itu menggeluti hobinya. Mengoleksi belasan hingga puluhan ikan pemangsa.

Di gerainya, selain ada piranha, tiger fish dan pari yang cukup mencolok, ada dua kerumunan jenis lele yang paling menggemaskan dan tak kalah mencolok di situ. Yakni, leopard dan red tail catfish.

Bentuknya yang mungil, dan coraknya yang indah membuat siapa pun lupa, atau bahkan tidak menyangka bahwa dua lele ini juga termasuk dari jenis ikan pemangsa.

Leopard misalnya, memiliki corak layaknya macan tutul. Bedanya, coraknya ada pada tubuh ikan. Sedangkan red tail catfish, memiliki corak berwarna putih yang memanjang dan teratur.

“Kalau besar, coraknya akan semakin timbul dan indah. Ekornya pun bisa berubah warna menjadi merah. Keduanya juga rakus. Bahkan, andai saja tidak seukuran, teman sendiri pun bisa dimakan,” ucapnya, kemudian tergelak.

Lantas, apa yang membuatnya tertarik memelihara ikan pemangsa? Lelaki 29 tahun itu menyebut, bahwa ikan-ikan pemangsa diklaim mampu berumur panjang. Umumnya, di atas lebih dari 10 tahun.

Pertumbuhannya pun bisa kian meningkat seiring waktu dan tergantung tempat peliharaannya.

“Dan yang paling menguntungkan, semakin besar ukuran ikan pemangsa, semakin tinggi harga jualnya,” pungkasnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya