Angkat Disertasi Paparan Debu Batubara, Siti Wasilah Jadi Istri Kepala Daerah Pertama di Kalsel Bergelar Doktor

Banjarmasin, KP – Rona bahagia jelas terlihat dari raut wajah Hj Siti Wasilah, saat dijumpai Kalimantan Post di kediamannya.

Bahkan tawa dan canda khas yang biasa dilontarkan oleh istri H Ibnu Sina yang tidak lain adalah Wali Kota Banjarmasin ini seakan tak henti-hentinya menghiasi rumah dinas yang didiaminya, Selasa (02/02) sore.

Senyum manis tanda bahagia pun sesekali ia lontarkan saat berbincang dengan para tamu yang sengaja datang untuk memberikan bingkisan kepada wanita pendamping orang nomor satu di Kota Banjarmasin ini.

Suasana sejuk dan ceria itu tercipta dikarenakan gelar Doktor yang ia raih setelah menyelesaikan program Strata 3 (S3) di Program Studi (Prodi) Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya, Malang, pada Senin (01/02) kemarin.

Kerenanya, gelar Doktor pun akhirnya melekat pada nama Hj Siti Wasilah yang dikenal masyarakat Banjarmasin sebagai istri yang sholehah ini.

Kini gelar yang tertera mengiringi nama ibu empat anak itu resmi bertuliskan Dr. dr. Hj. Siti Wasilah, M.Si., Med.

Ia mengaku, memang tidak mudah untuk menyelesaikan Disertasi yang berjudul “EFEK PAPARAN DEBU BATUBARA PM10 TERHADAP LUARAN KEHAMILAN MELALUI KETERLIBATAN STRES DAN INFLAMASI PADA TIKUS (Ratus Norwegicus) STRAIN WISTAR BUNTING. Tinjauan Terhadap Proses Remodelling Arteri Spiralis Plasenta dan Deteksi Partikulat Batubara” miliknya itu.

Pasalnya, untuk menyelesaikan program S3 tersebut, ia harus menempuh waktu pendidikan yang cukup lama. Yakni selama 6 tahun 6 bulan agar bisa meraih gelar Doktor.

Wanita yang akrab disapa Wasilah ini menceritakan, waktu yang lama tersebut terjadi karena beberapa faktor yang menjadi kendala.

Ia mendaftar dalam ke salah satu universitas favorit di Provinsi Jawa Timur itu pada semester genap tahun 2013. Kemudian di tahun 2016, saat suami tercintanya Ibnu Sina dilantik menjadi Wali Kota Banjarmasin. Pendidikan yang ia jalani tersebut sempat tertunda selama dua tahun.

Bahkan ia sendiri mengakui bahwa untuk menyelesaikan Disertasi miliknya itu tidaklah semudah membalik telapak tangan.

Pasalnya, Wasilah harus bisa membagi waktu antara menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan istri Wali Kota. Ditambah harus menggali berbagai macam bahan yang ia perlukan dalam proses penelitian

“Yaa susahnya itu keterbatasan waktu yang sangat sempit. Memang mencari sumber belajarnya banyak, tapi kesempatan untuk mengolah, menganalisis dan mensintesa pengetahuan yang jadi bahan penelitian saya,” ungkapnya.

Menurutnya hal itu dikarenakan tuntutan dalam program Doktor yang mewajibkan membangun keilmuan baru yang disebut dengan novelty.

Tentu ini tidak mudah diselesaikan, tetapi bagi Wasilah, setiap proses yang ia jalani setiap menggali sebuah ilmu pengetahuan baru akan mampu didapat dengan penuh kesabaran.

“Sesuatu yang sederhana bagi kita, bisa jadi itu adalah hal baru bagi studi ilmu pengetahuan dan bisa menjadi pendorong bagi kita untuk menggali lebih jauh lagi,” tuturnya.

Gelar Doktor yang didapatnya ternyata tidak membuat Wasilah menjadi jumawa akan tingginya jenjang pendidikan yang ia tuntaskan.

Ia masih berpegang teguh dengan prinsip tawadhu yang sudah ia tanamkan kepada setiap anggota keluarganya. Baginya, lulus dari program S3 tidak membuat ia merasa pintar dan tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Berita Lainnya

Satu Maret Vaksinasi Tahap II Dimulai

1 dari 2.382

“Karena semakin kita gali lebih jauh, keilmuan itu membuat kita seakan tidak tahu apa-apa dan mendapat tantangan-tantangan baru untuk dikembangkan lebih jauh,” ujarnya.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dijalani seorang istri dari orang penting di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan ini dalam menyelesaikan masa pendidikan S3.

Sehingga Wasilah memiliki pemicu semangat agar tetap bisa menyelesaikan disertasi miliknya dengan hasil yang memuaskan.

“Pemicu semangat kami untuk menyelesaikan S3 ini salah satunya adalah kesadaran bersama dari pihak Fakultas Kedokteran ULM yang menjadi kewajiban untuk meningkatkan akreditasi,” jelasnya.

Lanjutnya, pemicu semangat yang kedua adalah kepuasan batin yang dirasakan ketika bisa menyelesaikan jenjang pendidikan S3.

Disamping itu, ia juga tidak melupakan jasa para guru yang senantiasa memberi semangat dirinya agar tetap melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan yang sudah dijalani.

Wasilah pun mengakui, bahwa dalam 6 tahun proses pendidikan yang ia jalani itu sempat ada terbesit di pikirannya untuk menyudahi atau putus ditengah jalan.

Tetapi karena mengingat adanya perhatian yang ia dapatkan baik itu dari pihak keluarga maupun guru-guru yang ada di Universitas Brawijaya. Niat itupun akhirnya sirna dan akhirnya bisa diselesaikan dengan Nilai IPK 3,98.

Bahkan, dorongan yang paling membekas di hidupnya datang dari Ibnu Sina, yang tidak lain adalah suami sekaligus Wali Kota Banjarmasin.

“Kalau Bapak (Ibnu Sina) itu prinsipnya tetap No Way To Back. Jadi apapun halangannya, program Doktor yang dijalani harus selesai,” ucapnya.

Sempat terlontar kalimat canda dari mulut Ibnu Sina yang menyuruh Wasilah untuk mengambil cuti sebagai Ketua PKK di Kota Baiman ini.

“Saya ingat di tahun 2019, Bapak pernah bercanda menyuruh untuk cuti saja dari jabatan Ketua PKK di tahun itu. Tapi itu dengan maksud memotivasi agar cepat selesai,” ujarnya sembari melempar tawa.

Pasalnya, bahan yang ia ambil sebagai penelitian Disertasinya sendiripun tergolong sulit untuk diteliti. Karena inti dari penelitian Wasilah sendiri adalah tentang toksisitas atau bahan dari polusi lingkungan, dalam hal ini adalah memakai debu batubara. Yang diamati pun adalah sesuatu yang jauh dari saluran nafas.

“Apakah benar bahan kimia yang masuk ke saluran pernafasan ini memang berdampak pada ibu hamil bahkan berdampak pada anak yang akan dilahirkan. Itu yang kita teliti,” katanya.

Ia menambahkan, jalur yang ia teliti dalam penelitian tersebut sangat panjang, mulai dari saluran pernapasan, darah dan berakhir di rahim wanita.

“Sehingga dinamika yang cukup besar dan luas ini memerlukan waktu yang cukup panjang,” tuturnya.

Atas capaian yang ia raih tersebut, Wasilah berpesan kepada seluruh wanita, khususnya kaum hawa di Kota Banjarmasin untuk jangan pernah memandang seseorang dari gelar di depan atau belakang tulisan namanya.

Gelar bukan segala-galanya. Karena banyak orang yang tanpa gelar namun pola berpikir dan mempunyai talenta yang luar biasa.

“Buat semua ibu-ibu, tidak ada kata rugi kalau kita memiliki niat dan kemauan untuk belajar, karena menuntut ilmunya yang penting. Bukan gelar dan prestasi yang diraih,” tutupnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya