Pembangunan Eksploitasi Sebabkan Bencana Alam

Oleh : Siti Rahmah,S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial

Sebagian beberapa daerah Kalimantan Selatan masih terendam banjir. Banjir yang terjadi di awal tahun menyisakan kesedihan pada masyarakat yang terdampak banjir. Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat telah terjadi 197 bencana di seluruh Indonesia, hanya dalam 23 hari di bulan Januari 2021. Hal tersebut disampaikan BNPN dalam akun twitternya, Senin (25/1/2021).

Bencana banjir yang terjadi di Kalimantan selatan. Menurut LAPAN, sebanyak 13 Kabupaten/Kota terdampak. Akibatnya, 15 orang meninggal dan sekitar 112.709 orang mengungsi.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekedar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di Tanah Borneo. Kisworo Dwi Cahyono, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel mengatakan bahwa banjir tahun ini merupakan yang terparah dalam sejarah.

Berdasarkan laporan tahun 2020 sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahlan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah. Daya tamping daya dukung lingkungan di kalsel dalam kondisi darurat bencana ekologis, dari total luas wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.

Masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan Selatan ini. Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan selatan mencapai 64.632 hektar. Untuk jumlah perusahaan sawit, pada pekan Rawa Nasional I bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luasan lahan mencapai 201.813 hektar.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia. Untuk tambang bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada tahun 2013 ialah 54.238 hektar.

Pada 27 September 2020, Walhi Kalsel bersama Jatam, Jatam Kaltim dan Trend Asia membentuk koalisi. Mereka mendesak pemerintah melalui Kementerian Energi dan SumberDaya Mineral (ESDM) untuk membuka dokumen kontrak perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara.

Berbagai bencana atau musibah merupakan ketetapan Allah Swt (QS at-Taubah :51) Tidak mungkin ditolak atau dicegah. Sebagai ketetapanNya, musibah harus dihadapi dengan lapang dada, ridha, tawakkal dan mengembalikan semuanya kepada Allah Swt (istirja’) serta sabar (QS al- Baqarah; 155-157). Musibah yang menimpa bisa menjadi penghapus dosa-dosa. Tentu dosa-dosa yang terhapus dari orang yeng tertimpa musibah jika ia menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran.

Berita Lainnya

Kerling : Kelotok Laboratorium Keliling

1 dari 293

Kesabaran menghadapi musibah harus disertai perenungan untuk menarik pelajaran untuk membangun sikap, tindakan dan aksi kedepan demi membangun kehidupan yang lebih baik. Termasuk untuk mengurangi potensi terjadinya bencana dan meminimalkan atau meringankan dampaknya.

Dalam semua bencana, ada dua hal yang harus direnungkan. Pertama, penyebabnya. Kedua, penanganan dan pengelolaan dampak bencana rehabilitas. Terkait penyebab bencana, Allah SWT menyatakan bahwa musibah, termasuk bencana alam memang terjadi sesuai dengan kehendak dan ketentuanNya sebagai qadhaNya. (QS. At-Taubah : 51). Namun demikian, Allah SWT memperingatkan, banyak musibah yang terjadi melibatkan peran manusia. (QS. Asy-Syura:30).

Hal itu terlihat dengan jelas dalam kasus musibah banjir. Banjir terjadi ketika neraca air permukaan positif. Neraca air ditentukan dengan empat factor: curah hujan, air limpahan dari wilayah sekitar, air yang diserap tanah dan ditampung oleh penampung air dan air yang dapat dibuang atau dilimpahkan keluar.

Dari semua itu hanya curah hujan yang tidak bisa dikendalikan manusia. Tiga faktor lainnya sangat dipengaruhi perilaku manusia, termasuk kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa. Karena itu dalam bencana banjir, tidaklah bijak menjadikan curah hujan sebagai kambing hitam.

Curah hujan hanya satu dari empat faktor. Tiga faktor lainnya sangat dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan. Degradasi lingkungan., di hulu dan di hilir juga di Daerah aliran Sungai (DAS) berpengaruh besar atas terjadinya bencana banjir dan memperbesar skala dampaknya. Persoalan tutupan lahan hingga semakin berkurangnya efektivitas DAS juga menjadi factor lain yang memperburuk musibah banjir. Akibatnya memasuki musim hujan, banjir tidak bisa dihindari.

Semua itu berpangkal pada pengadopsian sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang merupakan pangkal kemaksiatan. Berbagai praktik yang menyebabkan degradasi ekologi itu sendiri merupakan kemaksiatan Adanya kolusi antara penguasa dan kekuatan oligarki. Dengan pembuatan UU baru seperti UU Minerba dan Omnibuslaw Cipta Kerja, semua itu terus berlangsung, bahkan bisa makin parah.

Aneka bencana yang terjadi menunjukkan betapa lemahnya manusia. Betapa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT. Betapa tidak layak manusia bersikap membangkang terhadap ketentuan-Nya, bermaksiat serta berani mencampakkan petunjuk dan aturanNya. Allah SWT berfirman : “Apakah kalian merasa aman terhadap hukuman Allah yang berkuasa di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap azab Allah yang berkuasa di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu”. (QS. al-Mulk : 16-17)

Semua kemaksiatan itu mengakibatkan fasad (kerusakan) dimuka bumi. Di antaranya berupa bencana alam dan dampaknya. Semua ini baru sebagian akibat yang Allah SWT timpakan kerana berbagai kemaksiatan yang terjadi ditengah-tengah manusia. Tujuannya agar manusia sadar dan kembali pada syariah-Nya. Allah berfirman : “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah SWT)”. (QS. Ar-Rum : 41)

Dengan demikian kunci untuk mengakhiri segala musibah tidak lain dengan mencampakkan akar penyebabnya, yakni sistem sekularisme kapitalisme. Berikutnya, terapkan sistem yang telah Allah turunkan itulah sistem Islam. dengan kata lain, terapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Wallah a’lam bi ash shawab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya