Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Dari Pena ke Algoritma: Warisan Kartini di Zaman AI

×

Dari Pena ke Algoritma: Warisan Kartini di Zaman AI

Sebarkan artikel ini

(Refleksi Hari Kartini 2026)

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April, publik diingatkan pada sosok perempuan yang melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya, Raden Ajeng Kartini menyuarakan kegelisahan, harapan, dan gagasan tentang kesetaraan serta pentingnya pendidikan. Pena menjadi alat perjuangannya sebagai media untuk menembus keterbatasan ruang dan budaya. Namun hari ini, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, pena itu seolah telah bertransformasi menjadi algoritma. Pertanyaannya, bagaimana kita memaknai warisan Kartini di zaman kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)?

Kalimantan Post

Perubahan zaman membawa perubahan cara manusia berkomunikasi dan mengakses pengetahuan. Jika dahulu ide-ide besar dituliskan dalam surat dan buku, kini ia mengalir melalui jaringan digital, media sosial, dan sistem berbasis AI. Informasi tidak lagi bergerak secara linear, tetapi dikurasi, disaring, dan bahkan “diprediksi” oleh algoritma. Dalam konteks ini, perjuangan Kartini tidak kehilangan relevansinya, melainkan justru menemukan tantangan baru.

Kartini memperjuangkan akses terhadap pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan berpikir. Ia meyakini bahwa pengetahuan adalah kunci untuk keluar dari ketertinggalan. Di era AI, akses terhadap informasi memang semakin terbuka, tetapi akses saja tidak cukup. Tantangan utama saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan kemampuan untuk memahami, memilah, dan menggunakan informasi secara bijak. Di sinilah letak pergeseran makna emansipasi: dari sekadar akses menuju kecakapan.

Algoritma, sebagai “mesin tak terlihat” di balik berbagai platform digital, memiliki peran besar dalam membentuk cara kita melihat dunia. Apa yang muncul di layar ponsel kita, baik berita, opini, bahkan iklan, tidak hadir secara acak, melainkan hasil dari proses komputasi yang mempertimbangkan preferensi, perilaku, dan data pengguna. Tanpa disadari, algoritma dapat membentuk persepsi, memperkuat keyakinan, bahkan membatasi sudut pandang kita.

Di sinilah pentingnya membaca ulang warisan Kartini. Jika dahulu ia mengajak masyarakat untuk berpikir kritis melalui tulisan, maka di era AI, semangat itu harus diwujudkan dalam kemampuan memahami cara kerja teknologi. Literasi digital dan literasi AI menjadi bentuk baru dari “membaca dan menulis” di zaman modern. Bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca pola; bukan hanya menulis kata, tetapi juga memahami bagaimana data diproduksi dan digunakan.

Baca Juga :  Pentingnya Computer Vision dalam Mewujudkan IKN sebagai Kota Pintar

Namun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan tersebut. Kesenjangan digital masih menjadi persoalan serius, baik dari sisi akses maupun keterampilan. Di banyak tempat, teknologi masih dipahami sebatas alat hiburan, bukan sebagai sarana pengembangan diri. Dalam situasi ini, semangat Kartini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus terus diperjuangkan, dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Perempuan, sebagai kelompok yang secara historis menghadapi berbagai bentuk ketimpangan, memiliki posisi strategis sekaligus rentan dalam ekosistem digital. Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkarya, belajar, dan berjejaring tanpa batas. Di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan tantangan seperti kekerasan berbasis gender online, stereotip digital, hingga bias algoritma yang dapat memperkuat ketidakadilan.

Bias algoritma, misalnya, bukan sekadar isu teknis, tetapi juga persoalan sosial. Sistem AI belajar dari data, dan data mencerminkan realitas yang tidak selalu adil. Jika tidak disadari, teknologi justru dapat mereproduksi bias yang sudah ada. Dalam konteks ini, semangat Kartini untuk melawan ketidakadilan perlu diterjemahkan ke dalam upaya memastikan bahwa teknologi dikembangkan dan digunakan secara inklusif.

Lalu, bagaimana mewujudkan warisan Kartini di zaman AI? Jawabannya terletak pada penguatan literasi dan kesadaran kritis. Pendidikan, baik formal maupun nonformal, perlu mengintegrasikan pemahaman tentang teknologi digital secara lebih komprehensif. Tidak hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi bekerja dan apa dampaknya terhadap kehidupan sosial.

Peran institusi seperti sekolah, perguruan tinggi, dan perpustakaan menjadi sangat penting. Perpustakaan, khususnya, memiliki peluang besar untuk menjadi ruang belajar yang inklusif di era digital. Ia tidak lagi hanya menyediakan buku, tetapi juga menjadi pusat literasi informasi dan teknologi. Pustakawan dapat berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan dunia digital, membantu pengguna memahami informasi secara kritis.

Baca Juga :  Pengesahan Hukuman Mati bagi Warga Palestina: Simbol Eskalasi Kezaliman Israel

Di sisi lain, masyarakat juga perlu didorong untuk lebih aktif dalam memanfaatkan teknologi secara produktif. Media sosial, misalnya, tidak hanya menjadi ruang konsumsi, tetapi juga dapat menjadi ruang produksi pengetahuan. Semangat Kartini dapat hidup kembali dalam bentuk konten-konten edukatif, diskusi publik, dan gerakan literasi yang memanfaatkan platform digital.

Lebih jauh, penting untuk menanamkan nilai etika dalam penggunaan teknologi. AI bukan sekadar alat netral, melainkan sistem yang membawa konsekuensi sosial. Oleh karena itu, penggunaannya perlu dilandasi oleh prinsip keadilan, transparansi, dan tanggung jawab. Dalam hal ini, warisan Kartini tidak hanya tentang keberanian bersuara, tetapi juga tentang integritas dalam bertindak.

Momentum Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni simbolik. Ia perlu menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana kita telah melanjutkan perjuangannya. Apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pengetahuan? Apakah kita sudah cukup kritis dalam menyikapi informasi? Ataukah kita justru terjebak dalam arus informasi tanpa kendali?

“Dari pena ke algoritma” bukan sekadar metafora, melainkan gambaran tentang transformasi cara manusia berjuang dan berkomunikasi. Jika dahulu pena menjadi alat untuk menyuarakan perubahan, maka hari ini algoritma menjadi ruang baru yang perlu dipahami dan, jika perlu, dikritisi. Warisan Kartini tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada semangatnya yaitu keberanian untuk berpikir, belajar, dan melawan ketidakadilan.

Pada akhirnya, zaman boleh berubah, tetapi nilai-nilai dasar perjuangan tetap relevan. Di tengah kompleksitas era AI, kita membutuhkan lebih banyak “Kartini digital”, sebagai individu yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran kritis dan komitmen terhadap keadilan sosial. Dengan cara itulah, warisan Kartini tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali dalam konteks yang lebih luas dan bermakna.

Kartini pernah menulis untuk masa depan yang lebih baik. Kini, tanggung jawab itu ada di tangan kita, untuk memastikan bahwa di balik setiap algoritma, tetap ada nilai kemanusiaan yang dijaga.

Iklan
Iklan