Dewan Khawatirkan Memburuknya Pencemaran Sungai

Banjarmasin, KP – Anggota Komisi III DPRD Kota Banjarmasin Sukhrowardi menyatakan kekhawatirannya terhadap terus memburuknya kualitas air sungai di kota ini akibat tercemar logam berat, bakteri ecoli dan bebagai limbah berbahaya lainnya.

“Terakhir sebagaimana diungkap nya temuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin beberapa lalu adanya perusahaan penumpukan oli yang membuang oli bekas ke Sungai Martapura,” ujar Sukhrowardi kepada KP Selasa (29/6/2021).

Anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar ini berpendapat, guna mengantisipasi semakin tercemarnya air sungai dan sangat berdampak terhadap kelestarian lingkungan adalah perlunya peningkatan program penanganan sanitasi .

“Seperti melalui ketersediaan sarana layanan pengelolaan air limbah di seluruh wilayah Kota Banjarmasin,” kata Sukhrowardi yang kini selaku panitia khusus (Pansus) Raperda tentang Perumda Pengelolaan Air Limbah Domestik Kota Banjarmasin ini.

Ia mengatakan, sesuai Rencana Program Jangka Menengah (RPJM), Kota Banjarmasin minimal memiliki 15 titik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Sedangkan yang hingga kini baru dimiliki lanjutnya, baru 7 titik. Yaitu IPAL di Jalan Lambung Mangkurat tepat samping Kantor DPRD Kota Banjarmasin, IPAL Pekapuran Raya, IPAL di kawasan Jalan HKSN, IPAL Lingkar Basirih, IPAL Jalan Sultan Adam dan IPAL kawasan Sungai Andai.

Lebih jauh ia mengemukakan, pemerintah pusat sudah menginstruksikan kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia untuk meningkatkan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang meliputi 3 sasaran target skala prioritas.

Berita Lainnya
1 dari 3.205

Ketiga target itu adalah, pertama stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan buang limbah berbahaya ke sungai, kedua pengurangan timbunan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang berwawasan lingkungan dan ketiga adalah meningkatkan pembenahan drainase untuk pengurangan genangan.

Menurutnya, kerjasama antara Pemko Banjarmasin dengan Pemerintah Australia beberapa waktu untuk membangun akses sanitasi masyarakat yang terpusat melalui program AIIG (Australia Indonesia Infrastruktur Grand Phase) melalui pendanaan Ausaid (Australian Agency For International Development), seharusnya dilanjutkan.

Sebelumnya semakin menurunnya kualitas air sungai akibat tingginya pencemaran, juga menjadi kekhawatiran PDAM Bandarmasih Banjarmasin. Betapa tidak, karena PDAM dalam mengolah air bersih menjadikan sungai sumber air baku.

Sementara kualitas sungai yang menjadi sumber air baku bagi PDAM Bandarmasih terus mengalami pencemaran akibat logam berat maupun bakteri ecoli dan limbah lainnya.

“Belum lagi masalah airnya keruh pada saat musim hujan dan tingginya kadar garam pada saat musim kemarau karena masuknya intrusi air laut.,“ kata Direktur Utama PDAM Bandarmasih, Ir Yudha Achmadi.

Yudha Achmadi mengemukakan, memburuknya kualitas air sungai akibat pencemaran berbagai limbah berbahaya dan beracun sangat berdampak terhadap tingginya biaya yang harus dikeluarkan dalam mengolah air bersih.

Dijelaskannya, PDAM Bandarmasih selama ini dalam memproduksi air bersih selain yang mengandalkan tiga sumber air baku, yaitu Irigasi Riam Kanan dan Sungai Tabuk dan sebagian diambil dari Sungai Martapura. (nid/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya