Ironi Impor TKA : Covid Varian Baru Menghadang, Nasib Rakyat Makin Meradang

Oleh : Nor Faizah Rahmi, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Remaja

Pada tanggal 23 Januari 2021 ada sekitar 153 orang WNA Cina yang masuk ke wilayah Indonesia melalui bandara Soekarno-Hatta. Padahal, di saat ini telah diberlakukan pembatasan WNA yang masuk kecuali memiliki persyaratan khusus. Ratusan WNA tersebut diperbolehkan datang karena dinilai memenuhi persyaratan. (Kompas.com, 25/01/21). Sejumlah pengetatan pembatasan pun diterapkan untuk menekan laju peningkatan kasus penularan Covid-19. Ratusan TKA China itu masuk Indonesia di tengah pandemi yang kini melanda negeri. Kedatangan pekerja asal China tersebut menjadi sorotan masyarakat lantaran saat ini pemerintah tengah menerapkan PPKM Darurat Jawa-Bali untuk menekan laju penyebaran Covid-19.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad meminta pemerintah melarang warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia selama penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3 hingga 20 Juli 2021. “Selama pemberlakuan PPKM Darurat saya meminta kepada pemerintah agar mengambil langkah tegas dengan melarang WNA masuk ke Indonesia, dengan alasan berwisata maupun bekerja,” kata Dasco kepada wartawan, Minggu (4/7).

Lebih lanjut, Dasco mengingatkan tentang keselamatan masyarakat dengan mengambil langkah antisipasi bertambahnya varian virus baru yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, kebijakan larangan WNA masuk Indonesia selama penerapan PPKM Darurat bisa menjadi langkah antisipasi varian virus baru dari luar negeri masuk Indonesia. Pemerintah mulai menerapkan PPKM Darurat mulai 3 Juli sampai 20 Juli 2021.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, turut mengamati. Menurutnya, masuknya TKA ini adalah konsekuensi dari pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker). Sejak Omnibus Law UU Ciptaker No. 11/2020 itu diberlakukan, TKA tak perlu izin tertulis dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) untuk dapat masuk Indonesia. Mereka cukup mengisi form Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) yang diserahkan ke Kemenaker.

Padahal saat ini, rakyat Indonesia justru lebih membutuhkan pekerjaan karena banyak yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. “Itulah sesungguhnya tujuan omnibus law UU Cipta Kerja. Tadinya TKA yang masuk ke Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari Menteri Tenaga Kerja, sehingga TKA tidak mungkin bisa masuk ke Indonesia kalau belum mendapat surat izin tertulis,” ungkapnya.

Seperti diketahui, keberadaan dari UU Cipta Kerja membuat TKA yang masuk ke Indonesia tidak perlu menunggu memegang surat izin tertulis dari Menaker. Perusahaan pengguna TKA tersebut hanya perlu melaporkan rencana kedatangan TKA (RPTKA). Padahal, dia mengemukakan bisa jadi TKA China dan India yang masuk ke Indonesia tersebut adalah buruh kasar yang bekerja di industri-industri konstruksi, perdagangan, baja, tekstil, pertambangan nikel, dan industri-industri lain, yang semestinya bisa merekrut buruh lokal Indonesia.

Hal ini berbeda dengan aturan sebelumnya. Dalam UU Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003, pekerja asing harus mengantongi surat izin dulu. Meskipun RPTKA sudah ada, tapi kalau surat izinnya belum didapat, tetap tak boleh masuk Indonesia. Kebijakan yang diteken beberapa waktu lalu telah membuat mereka kebal dari pelarangan masuk ke Indonesia, karena alasan yang mereka pakai adalah untuk bekerja, bukan berwisata.

Said juga mengungkapkan keheranannya terhadap pejabat pemerintah yang selalu membantah dan membela keberadaan para TKA tersebut, terutama yang berasal dari China. Menurutnya, sudah seharusnya yang melakukan pembelaan adalah perusahaan pengguna TKA tersebut. Selain itu, pihaknya juga mempertanyakan perusahaan mana saja yang mempekerjakan TKA tersebut. Pasalnya, pemerintah sampai saat ini seakan menutupi nama perusahaan dan lokasi dimana mereka dipekerjakan.

Negara ibarat seorang ibu dan rakyat adalah anaknya. Secara fitrah, seorang ibu memiliki rasa cinta kepada anaknya. Maka, ibu akan melakukan berbagai cara untuk melindungi anaknya. Begitu pun negara, jika rakyatnya dalam bahaya, ia akan berusaha melindungi. Bahkan rela mengorbankan dirinya demi kemaslahatan dan keamanan rakyatnya.

Berita Lainnya
1 dari 292

Fenomena ini kembali menyadarkan kita bahwa ada yang tidak beres dengan kebijakan yang ada. Inilah akibat diterapkannya sistem aturan berbasis akal manusia. Akal hanya mempertimbangkan untung dan rugi, tanpa melihat kemaslahatan negeri. Kelemahan akal yang tak dapat mengakomodir semua keinginan, membuat mendahulukan kepentingan.

Namun, sepertinya berbeda dengan negeri yang mayoritas muslim ini. Sejak wabah pertama kali bertandang, perlindungan kepada rakyat seakan minim. Mulai dari karantina total yang tak dilakukan. Hingga kebijakan “new normal” yang diberlakukan. Hasilnya, rakyat yang menjadi korbannya. Mereka yang dihantui rasa was-was akan membuat imun turun. Ketika imun turun, tubuh akan mudah terinfeksi virus. Kalau sudah begini, kesehatan rakyat seperti dinomor duakan jika dibanding pertumbuhan ekonomi.

Menghadapi Covid-19 saja sudah banyak yang tumbang, karena mereka harus menghadapi virus ini sendirian. Kalau pun ada vaksinasi belum memperlihatkan keberhasilan karena hanya salah satu upaya saja, ditambah adanya kebijakan TKA masih boleh masuk. Walaupun di awal sudah dipastikan bebas Covid-19, tidak menutup kemungkinan keberadaan virus itu belum terdeteksi. Bisa saja mereka yang datang dari luar negeri tanpa disadari membawa virus lagi.

Setahun berlalu, kebijakan pun tak kunjung berujung. Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dimaksudkan untuk menekan laju penularan Covid-19 nyatanya tak dapat diharapkan. Orang nomor satu di negeri ini menyatakan kalau pemberlakuan PPKM ternyata tak efektif. Terbukti dengan kasus terinfeksi Covid-19 setiap harinya yang mencapai ribuan.

Sangat ironis jika dampak covid saat ini dimana ribuan orang kehilangan pekerjaan, rakyat diminta untuk diam di rumah dan jika membandel akan ada denda serta sanksi penjara, namun justru pemerintah memberi peluang dengan memberi izin TKA Cina masuk ke Indonesia. Dalam kondisi pandemi seperti ini, seharusnya pemerintah sekuat tenaga melindungi dan menjaga rakyatnya.

Melindungi dengan melarang orang asing ke Indonesia agar tidak terjadi penularan yang berlanjut. Serta menjaga rakyatnya agar bisa tetap survive dengan memberikan jaminan kebutuhan pokoknya supaya bisa tenang diam di rumah. Hal yang terjadi justru sebaliknya, rakyat dilarang keluar rumah namun mempersilakan orang asing untuk masuk dan bekerja.

Terlihat ada upaya yang kurang serius yang dipertontonkan di depan rakyat, sehingga ketua DPRD dan bupati harus mengancam pemerintah dengan rencana aksi menolak kedatangan TKA tersebut. Demikianlah jika kebijakan berpihak kepada kepentingan segelintir orang dan tidak berpihak pada kemaslahatan masyarakat banyak.

Jika sebelumnya negara diibaratkan seorang ibu dan rakyat adalah seorang anak. Maka Islam menggambarkan bahwa negara (pemimpin) sebagai penggembala dan rakyat adalah yang digembalakan. Seorang penggembala punya tanggung jawab atas gembalanya. Mulai dari memberi makan, menjaga kesehatan, menyediakan tempat tinggal, mengobatinya jika sakit hingga melindunginya dari para pemangsa.

Begitulah negara (pemimpin) seharusnya. Para pemimpin sepantasnya menjadi perisai bagi rakyat. Rakyat yang terjamin kebutuhan hidupnya, terjaga kesehatannya, tersedia tempat tinggalnya, dan terlindungi dari musuh yang nyata maupun tidak, akan merasa tenang dan nyaman. Mereka tidak akan mudah stres. Mereka akan mempercayai dan mencintai pemimpinnya. Cukup dengan kembali pada seruan Allah dan menjadikan tujuan hidupnya hanya meraih rida Allah, akan menjadikannya pemimpin yang taat.

“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR Muslim)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya