Ambil Sampel Kedua di Sungai Lulut

Banjarmasin, KP – Tiga orang petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin terlihat mengambil sampel air sungai di aliran Sungai Lulut.

Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan lantaran adanya perubahan drastis yang terjadi pada warna air di sungai tersebut. Yang awalnya berwarna kuning kecoklatan, kini berubah menjadi hijau tosca.

Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan DLH Kota Banjarmasin, Wahyu Hardi Cahyono mengatakan, pengambilan sampel kali ini merupakan yang kedua kali dilakukan oleh pihaknya.

Sebelumnya, pihaknya juga mengambil sampel di aliran Sungai Martapura, tepatnya di depan Siring Piere Tendean, Banjarmasin.

Karena air sungai yang masih digunakan sebagai jalur transportasi bagi sebagian warga Banjarmasin ini juga sempat berubah warna menjadi hijau tosca. Namun kini sudah normal kembali. Sekarang giliran aliran Sungai Lulut yang berubah warna.

“Di Siring kemarin, cuma mengukur kualitas air dari kadar oksigen terlarut di air saja. Namun dalam perkembangannya, ada masukan dari ahli yang meminta kita juga mengukur parameter lain,” ucapnya saat ditemui awak media udai pengambilan sampel air di Shelter Air Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kamis (12/08) siang.

Parameter tambahan yang ia maksud tersebut adalah kandungan zat Amonia, Nitrit, Mangan, Besi dan Aluminium. Selain itu, pihaknya juga mengukur parameter PH, BOD, COD dan DO atau kadar oksigen terlarut dalam air.

Berita Lainnya

DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

1 dari 3.586

“Makanya kali ini kita mengambil sampel di Sungai Lulut, karena aliran sungai ini yang masih berwarna hijau tosca. Sampel ini kami bawa untuk diuji ke laboratorium kesehatan milik Pemprov (Pemerintah Provinsi),” ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan guna mengetahui penyebab pasti apa yang membuat warna air berubah. Apakah ada kandungan zat tertentu yang terlarut dalam air atau hanya pengaruh perubahan fitoplankton serta tumbuhan yang ada di dasar sungai.

“Makanya kita ambil sampel air di permukaan, tengah dan dasar sungai, untuk hasil pastinya akan kita ketahui setelah uji lab selesai,” ungkapnya.

“Waktu pengambilan sampel pertama kemarin itu warna airnya putih. Jadi kemungkinan warna hijau yang terlihat itu merupakan pantulan warna dasar,” tukasnya.

Mangan 0,3 mg per liter. Di tahun kemarin oksigen terlarut memang rendah di saat musim-musim seperti sekarang, yakni sekitar 1 mg sedangkan normalnya untuk air sungai adalah 6 mg per liter.

“Tahun ini lebih rendah kadar oksigen terlarutnya, karena di tahun kemarin itu 2 mg, namun kondisi ini sebenarnya fluktuatif (bisa berubah kapan saja). Sampai sekarang Kita masih belum tau penyebab pasti penurunan kadar oksigen terlarut air ini. Makanya perlu penelitian lebih lanjut,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu petugas UPT Lab Lingkungan, DLH Banjarmasin, yang mengambil sampel di aliran sungai tersebut, Nofianor Elferianto menjelaskan, pengambilan sampel ini dilakukan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Sesuai permintaan, sampel yang kita ambil tadi hanya air sungai di bagian kiri dan kanan. Tepatnya setengah dari kedalaman sungai,” ujarnya.

Menurut pengamatannya, kondisi perubahan warna air sungai yang sekarang ini terjadi masih dalam kondisi aman. Walaupun warna asalnya memang keruh dikarenakan di bagian hulu sering terjadi hujan.

“Tapi untuk memastikan kandungan air ini aman atau tidaknya untuk dikonsumsi, kita harus menunggu hasil uji labnya dulu,” tuntasnya. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya