Pengaruh PPKM, Pedagang Ayam Potong Sepi Pembeli

Situasi dan kondisi saat ini, sambung Hj Suriah, membuat pembelinya jauh berkurang. Sulitnya perekonomian, semakin menurunkan daya beli masyarakat.

BANJARMASIN, KP – Harga ayam potong di pasar tradisional di Banjarmasin masih belum stabil. Kondisi ini dikeluhkan pedagang, lantaran berdampak pada penjualan daging ayam di lapak mereka yang semakin tak menentu.

Apalagi, di tengah masa pandemi Covid-19 berkepanjangan, ditambah aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Kemasyarakatan (PPKM) Level 4 di Banjarmasin yang kembali diperpanjang pemerintah pusat mulai 7 hingga 20 September 2021.

Maksud hati ingin mendapatkan untung yang lebih, para pedagang justru mengalami penuruan jumlah pembeli. Seperti disampaikan oleh seorang pedagang ayam potong, Hj Suriah, di Pasar Sentra Antasari, Banjarmasin Tengah.

“Penjualan daging ayam saat ini masih belum normal. Harganya juga lebih mahal dibandingkan sebelum adanya pandemi. Minggu lalu sempat Rp 20 ribu per kilonya, hari ini Rp 25 ribu per kilogram. Ukuran seperti ini, dulu paling tinggi seharga Rp 32 ribu per ekor kini harganya Rp 43 ribu per ekor,” ujar Hj Suriah, sambil menunjuk ayam potong berukuran sedang, Rabu (8/9).

Situasi dan kondisi saat ini, sambung Hj Suriah, membuat pembelinya jauh berkurang. Sulitnya perekonomian, semakin menurunkan daya beli masyarakat.

“Sepi pembelinya. Dulu, bila datang bulan Maulid, ayam cepat lakunya. Tapi, saat ini pembeli harus mikir-mikir. Ragu untuk beli ayam. Sebagian konsumen lebih memilih telur sebagai lauk saat ada hajatan. Kalaupun ada, beli ayam secukupnya aja,” bebernya.

Berita Lainnya
1 dari 937

Untungnya, Hj Suriah, masih memiliki beberapa pelanggan tetap yang masih rutin membeli di lapaknya.

“Kalau mengharapkan pengunjung pasar saja tidak bisa saat ini. Lihat saja, pasar sepi begini. Tidak seperti dulu lagi,” imbuhnya.

Belum lagi, pengusaha yang bergerak di bidang kuliner, yang juga terdampak dengan adanya pembatasan jam operasional saat penerapan PPKM Level 4.

“Iya, itu juga sangat memengaruhi penjualan daging ayam. Pelanggan saya kan banyak yang pedagang makanan,” timpal Hj Suriah, yang sudah 18 tahun berdagang daging ayam potong.

Sementara, Dewi, seorang ibu rumah tangga mengatakan, ketika harga ayam potong mahal, membuatnya harus pandai-pandai mengatur uang belanja. Jika tak tepat mengalokasikannya, sudah pasti uang tidak akan cukup untuk pengeluarannya sehari-hari.

“Biasa, kalau saya beli ayam yang harganya Rp 40 ribu sampai 50 ribu per ekor, ukuran ayamnya cukup besar. Sekarang, dengan harga yang sama, ukuran ayamnya lebih kecil,” ucapnya.

Bila sudah begitu, katanya, dirinya harus lebih berhemat lagi dalam pengeluaran uang belanja, agar tak menggangu pos-pos pengeluaran lainnya.

“Mungkin, beli daging ayamnya bisa setengahnya aja. Sisanya bisa beli telur ayam. Zaman serba susah seperti ini, mau tak mau harus menyesuaikan. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan,” pungkasnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya