Aplikasi Pengelolaan Dini bagi Pemimpin Pengawas

Oleh : Dr Hj Ratna Rosana MPd
Widyaiswara pada MPSDMD Provinsi Kalsel

Pernahkah anda mendengar sebuah proyek bangunan milik pemerintah atau swasta sudah hancur atau roboh sebelum diresmikan? Atau hancur sebelum berlangsungnya masa pakai yang semestinya? Tentu saja pernah mendengar atau menyaksikannya, baik yang terjadi di daerah atau daerah yang jauh, yang mungkin diketahui melalui pemberitaan media massa cetak, elektronik atau digital yang saat ini begitu cepat menyebarkan informasi tentang suatu peristiwa.

Penulis sendiri pernah mendengar dan menyaksikan, ada sebuah rumah gedung bertingkat yang roboh sebelum ditempati, untunglah tidak memakan korban jiwa, karena belum dihuni. Kemudian datanglah seorang paranormal, entah datang sendiri atau dipanggil oleh pemborong. Paranormal itu mengatakan, rumah gedung itu roboh karena tiangnya melewati sungai naga atau jalan orang gaib di bawahnya dan tidak dilakukan upacara ritual untuk minta izin kepada makhluk gaib tersebut, sehingga mereka “marah” lalu menggoyang bangunan tersebut sampai roboh.

Penulis sangat ragu dengan keterangan berbau mistik tersebut, karena penulis yakin, tiang fondasi bangunan tersebut memang tidak kuat, sehingga tidak mampu menyangga bangunan bertingkat berbahan semen yang tentunya berat, apalagi dibangun di tanah rawa, yang anatomi tanahnya tentu berbeda dibanding bangunan di tanah berdataran tinggi, keras dan berbatu. Terbukti kemudian, setelah pemborong yang berbeda membangun dengan fondasi yang lebih kuat, bangunan di atasnya ternyata kuat dan mampu bertahan hingga sekarang.

Ilustrasi faktual di atas menunjukkan bahwa ada kalanya kelemahan pada tingkat perencanaan suatu bangunan dialihkan kepada hal-hal yang bersifat mistik dan irasional. Misalnya dulu orang sering menanam kepala kambing atau kerbau pada fondasi. Padahal sekiranya dari awal sudah direncanakan dasar bangunan yang kuat, tentu tidak akan terjadi bangunan yang roboh, rusak dan retak di tengah jalan, yang tentunya sangat merugikan dari segi finansial, nama baik, waktu, tenaga kerja dan sebagainya.

Antisipasi Dini

Kerusakan yang terjadi pada suatu bangunan, biasanya disebabkan karena pengawasan oleh pemimpin proyek tidak dilakukan secara optimal, sejak dini dan dari awal. Begitu juga halnya dengan jenis-jenis pekerjaan lainnya. Sekiranya pengawasan dilakukan sejak awal, maka hal-hal yang merugikan dapat diantisipasi. Tetapi karena dibiarkan, tanpa dilakukan teguran dan perbaikan, maka tinggal menunggu kerugian yang lebih besar.

Seorang paramedis mengimbaratkan pengawasan dini ini dengan suatu penyakit. Kalau rajin memeriksakan kesehatan sejak dini, maka penyakit-penyakit yang kecil dapat dihindari. Memang pikiran kadang agak terganggu dan tidak bebas. Kita terpaksa menjaga pola makan, pola kerja, pola tidur dan sebagainya, juga berobat.

Berita Lainnya

Ironi di Balik Pekerja Pinjol Ilegal

Hati-hati Jebakan Pinjol Ilegal

1 dari 352

Namun sikap ini positif dan menolong. Ketika penyakit baru mulai, belum membesar, maka antisipasi begini dapat menolong dan lebih bermakna. Seperti halnya ban dalam yang bocor, kalau kebocorannya masih sangat kecil, sekecil lubang jarum, maka masih bisa ditambah. Tetapi kalau kebocorannya besar, maka tak bisa ditambal lagi, bahkan ketika meledak, ban luarnya sering juga ikut robek. Begitu pula kita manusia, kalau penyakit kecil dibiarkan ia akan membesar dan akhirnya semakin parah, sehingga sering mengantar kepada kematian. Kalau penyakit sudah demikian parah dan komplikasi maka upaya pengobatan sudah tipis hasilnya, sebab organ-organ tubuh tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Suatu penyakit yang sudah parah biasanya tidak hanya menghantam satu organ, tetapi juga mempengaruhi organ vital lainnya, sehingga terjadi yang namanya komplikasi.

Manajemen Kinerja

Para pakar sering menyebutkan sejumlah fungsi manajemen. Di antara mereka, George Terry mengistilahkannya dengan POAC, yaitu planning, organizing, actuating dan controlling. Pakar lain seperti Luther Gullick mengistilahkannya dengan POSDCORD, yang mencakup planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan budgeting. Pakar lain semisal Lindal F Urwick menyebutnya dengan FPOCCC, terdiri dari forecasting, planning, organizing, commanding, coordinating dan controlling.

Apapun sebutannya yang jelasnya semuanya penting dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Kelebihan teori ini, manajemen atau pengelolaan kerja terarah dan terbagi sedemikian rupa sehingga terlihat ada proses dan tahapan yang dilakukan. Ada daya dukung sumber daya kebijakan, materi, manusia, keuangan dan sebagainya yang menangani sesuai dengan fungsinya.

Kelemahannya, kebanyakan teori ini menempatkan pengawasan di belakang atau di akhir proses. Artinya setelah semuanya direncanakan dan dilaksanakan, barulah dilakukan pengawasan atau kontrol, sehingga terlihat apakah suatu suatu pekerjaan bagus atau tidak. Yang bagus diterima atau terus ditingkatkan dan yang tidak bagus harus diperbaiki. Apabila berkaitan dengan hukum, maka hal-hal yang tidak bagus akan dikenakan sanksi, baik sanksi administratif, pidana maupun perdata.

Pengawasan di akhir pekerjaan ini sebenarnya tidak efisien dan efektif. Meskipun pihak yang mengerjakannya dapat dikenakan sanksi, tetapi sumber daya dan dana sudah terlanjur dikeluarkan, yang juga bersumber dari negara (uang rakyat) berarti Negara dan rakyat dirugikan. Pihak pelaksana tidak akan sanggup membayar ganti rugi, sebab hakikatnya mereka juga menanggung kerugikan kalau sekiranya suatu pekerjaan harus diulang dan diperbaiki lebih lanjut. Apalagi dana bangunan sudah mereka terima sesuai termen yang ditentukan, yang mustahil dapat dikembalikan. Lagi pula perbaikan ulang ini tidak akan pernah memberikan hasil yang optimal. Seperti halnya menambal semen yang retak, seberapa pun tambalannya, pasti keretakannya masih terlihat dan bergeser. Belum lagi merusak keindahan.

Pengawasan dini oleh pemimpin di era sekarang ini menjadi penting, dalam arti pengawasan hendaknya tidak dilakukan setelah pekerjaan selesai saja. Pengawasan dapat dilakukan secara dini, sehingga hal-hal yang berpotensi merugikan dan membahayakan dapat dicegah dan diperbaiki. Pemborong atau pelaksan bangunan bisa saja mengurangi, mungkin karena ingin untung banyak, memanfaatkan kelengahan atau toleransi pengawas. Tetapi Pemimpin proyek yang benar, harus melakukan pencegahan dini, ia harus menuntut pekerjaan sesuai dengan ketentuan, sesuai bestek dan sebagainya. Artinya meskipun pekerjaan baru akan dimulai, pengawasan sudah dilakukan, dan cepat ditegur kalau terjadi penyimpangan supaya jangan berlanjut. Sebab kalau berlanjut, risikonya jauh lebih besar. Hakikat dan fungsi pengawasan yang sebenarnya bukanlah mencari-cari kesalahan dan/atau menghukum ketika pekerjaan bermasalah, tetapi yang lebih penting adalah memastikan suatu pekerjaan dikerjakan dengan baik, secara kualitas dan kuantitas. Kualifikasi demikian
hanya dapat dilakukan oleh pemimpin pengawas apabila manajemen pekerjaan dilakukan secara dini.

Di era pasar bebas sekarang, persaingan merebut pasar semakin ketat. Kualitas pekerjaan, baik berkaitan dengan barang dan jasa, harus lebih diperhatikan. Kalau lemah dalam hal ini, maka akan kalah dengan pesaing (kompetitor) dari luar, yang mungkin lebih menjaga mutu produknya. Kejujuran, profesionalitas dan kecermatan semakin diperlukan.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya