Kalsel Ditantang Turunkan Angka Stunting Hingga 14 Persen


Banjarmasin, KP – Provinsi Kalimantan Selatan mendapat tantangan untuk bisa menurunkan angka stunting pada posisi 14 persen, sedangkan saat ini pada posisi 31 persen, lebih tinggi dari angka nasional yang mencapai 27,67 persen, bahkan di Kabupaten Balangan angka stuntingnya mencapai 55 persen lebih.


Stunting adalah kondisi kurang gizi yang mengakibatkan pertumbuhan anak-anak terhambat, terutama pertumbuhan otak dan fisik lainnya.


Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan, Ir.H.Ramlan, MA mengatakan hal itu dalam paparannya dalam Raat Koordinasi Pentingnya Pembangunan Keluarga dan Pembentukan SDM Unggul yang merupakan Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dengan BKKBN di Banjarmasin, Selasa (5/10/2021).


Rapat Koordinasi yang dilaksanakan di Aula Perwakilan BKKBN Provinsi Kalsel ini juga diikuti secara virtual oleh Perwakilan BKKBN lainnya se Kalimantan.


Dengan posisi 31 persen lebih angka stunting, Kalsel masuk dalam 10 besar angka stunting tertinggi secara nasional.


Pada kesempatan itu, Ramlan juga mengungkapkan permasalahan lainnya, yaitu semakin meningkatnya pernikahan usia anak-anak.


Berdasarkan BPS tahun 2020, prevallensi pernikaha  anak pada tahun2018 mencapai 11,21 persen, perempuan 20 – 24 tahun melangsungkan perkawinan pertamanya sebelum usia 15 tahun, ungkap Ramlan.


“Dampak pernikahan anak ini rentan perceraian dan rendahnya kualitas pengasuhan pada anak yang dilahirkan,” ujarnya.

Berita Lainnya
1 dari 3.729


Dikatakan juga, karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat anak berusia 1 – 10 tahun, dan ada tugas kita sebagai orang tua untuk menentukan input seperti apa yang masuk kedalam pikirannya, sehingga bisa membentuk anak yang berkualitas.


Sedangkan menghadapi tantangan yang diberikan untuk menurunkan angka stunting, menurut Ramlan, Perwakilan BKKBN Provinsi Kalsel melakukan gerak cepat dengan membentuk tim pendamping keluarga tingkat desa se Provinsi Kalsel.

“Satu tim pendamping terdiri dari bidan, kader PKK, dan petugas desa/kelurahan.  Gerak cepat harus kita lakukan, karena penting sekali untuk bisa menurunkan angka stunting di Kalsel,”  tegasnya.


Pada kesempatan itu Tenaga Ahli Kemenko PMK, Dr.Tin Herawati mengatakan, pihaknya juga beruapaya mencari masukan untuk melakukan penurunan angka stunting di Kalsel.


“Kami perlu tahu bagaimana upaya pencegahan stunting di Kalsel untuk SDM unggul di masa yang akan dating, selain itu kami juga memberikan masukan-masukan yang bisa diterapkan,” tambah Tin Herawati.

Selain paparan dari BKKBN Provinsi Kalsel, perwakilan BKKBN lainnya se Kalimantan juga menyampaikan kondisi yang dihadapi provinsinya dalam rapat kordinasi yang dilakukan secara vrtual ini. (lia/KPO-1). 


Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya