Tuntutan Pembubaran MUI, Ada Apa Ini?

Oleh : Ummu Azka
Pemerhati Masalah Sosial

Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Nasrullah Larada, menegaskan merupakan ide dan gagasan konyol jika muncul keinginan untuk membubarkan MUI. Bahkan, kemunculan ide ini sangat terkesan berasal dari kelompok yang tidak senang kepada umat Muslim karena dendam masa lalu.

“Imbasnya akan lebih tragis lagi, nanti akan muncul kegelisahan bagi sebagian kelompok umat Islam atas peran mereka melalui MUI di dalam ikut berperan aktif membangun persatuan bangsa,” kata Nasrullah, di Jakarta, Ahad (21/11).

Isu pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) makin marak beredar usai penangkapan salah satu anggotanya yang diduga terlibat jaringan terorisme oleh Densus 88.

Munculnya isu pembubaran MUI membuat sejumlah pihak geram hingga membuat pernyataan.

Ketua MUI Cholil Nafis bahkan menyebut pihak yang mengeluarkan isu soal pembubaran MUI adalah orang yang tidak bisa membedakan urusan personal dan lembaga.

Perlu Diwaspadai

Tentu bukan tanpa alasan tagar #bubarkanMUI ini muncul. Apalagi munculnya isu ini beredar tidak lama setelah terjadinya penangkapan salah satu anggotanya yang diduga terlibat jaringan terorisme oleh Densus 88.

Selalu saja ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk kembali memojokkan umat Islam. Isu terorisme lagi-lagi menjadi pembenar dalam menyuarakan pembubaran MUI. Bak gayung bersambut, penangkapan ulama terduga teroris menjadi ajang para pembenci Islam mengayunkan isu terorisme secara terus-menerus.

Bagai memancing di air keruh, para pembenci Islam melihat kesempatan ini sebagai peluang untuk membungkam ulama kritis dan lurus. Entah kebetulan atau tidak, pasca ijtima ulama MUI yang menyatakan jihad dan khilafah adalah ajaran Islam, terorisme kembali menggoyahkan umat. Sebagaimana kita ketahui, jihad dan khilafah selalu terstigma sebagai ajaran radikal yang memicu terorisme.

Akhirnya, MUI seakan terpojok karena narasi negatif terhadap Islam. Buntut dari penangkapan Ahmad Zain An-Najah, MUI berencana menelusuri identitas calon pengurus ketika melakukan rekrutmen anggota ke depannya. Anggota Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET MUI) Makmun Rasyid mengatakan hal ini guna mencegah pengurus MUI terafiliasi dengan jaringan terorisme sekaligus upaya pembersihan internal dari terorisme.

Berita Lainnya
1 dari 504
loading...

Ada satu hal yang mendasari di balik tuntutan pembubaran MUI, yaitu narasi radikalisme-terorisme. Narasi ini sukses memengaruhi pandangan masyarakat tentang Islam. Tudingan ustaz atau penceramah radikal pada akhirnya mampu membungkam kekritisan para ulama dalam melakukan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa. Tidak ayal, setiap ada peristiwa terorisme atau narasi radikalisme, umat seakan ditakut-takuti bahwa jika terlalu fanatik terhadap agama akan menyemai benih terorisme.

Begitu pun ulama. Ulama yang kritis dalam mengoreksi kebijakan penguasa akan terstigma sebagai ulama radikal, ceramahnya berbahaya, tidak sejuk, dan cenderung memprovokasi atau memecah belah. Kriminalisasi terhadap ulama yang tegas menyuarakan kebenaran berulang terjadi. Selama rezim ini berkuasa, banyak penangkapan terhadap ulama dan aktivis Islam yang kerap berseberangan pendapat dengan penguasa. Mereka yang lantang melawan kezaliman buru-buru mendapat cap radikal atau pemecah belah bangsa.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Umat mestinya cermat menyikapi peristiwa ini. Jangan sampai kita terjebak dengan narasi radikalisme-terorisme yang sengaja terembuskan untuk mencitraburukkan Islam dan kaum muslim. Pun dengan ulama jangan sampai isu ini malah membuat mereka goyah menyatakan yang haq.

Karena sesungguhnya kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dan kewajiban mengoreksi penguasa adalah kewajiban yang datangnya dari Allah, bukan karena legalitas dari penguasa.

Selain itu, sejatinya peran MUI sebagai lembaga yang membimbing, mengayomi, dan membina kaum muslimin di Indonesia sangat penting. Sebagai lembaga yang mewadahi para ulama, kehadiran MUI penting dalam merealisasikan amar makruf nahi mungkar. Sebab, tugas ulama ialah memandu umat agar memahami Islam secara kaffah, benar sesuai syariat, dan melawan kebatilan. Untuk itulah ulama disebut sebagai pewaris Nabi.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban)

Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, frasa “ulama pewaris nabi” adalah orang yang mewarisi menempati kedudukan yang diwarisi berserta hukum pada posisi yang ia gantikan. Artinya, ulama menggantikan peran dan tugas para nabi, yakni mengemban misi penyampaian dan penyebaran risalah Islam.

Selain itu, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban setiap muslim, tidak terbatas pada ulama saja. Hanya saja, aktivitas ini juga membutuhkan ilmu sehingga lumrah saja bila para ulama yang terdepan mengemban tugas mulia ini. Apalagi ulama hakikatnya adalah orang yang paling takut kepada Allah SWT sangat wajar pula bila mereka konsisten dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar, terutama menasihati dan mengoreksi kebijakan penguasa.

Aktivitas ini pernah dicontohkan para sahabat, tabiin, dan salaf saleh, seperti Asma’ binti Abu Bakar kepada Muawiyah, Zubair bin Awwam kepada Yazid bin Muawiyah, Said bin Jubair kepada Hajaj bin Yusuf, Imam Ahmad bin Hanbal kepada Khalifah al-Ma’mun, dan Buya Hamka kepada Soekarno. Mereka semua melakukan tugas amar makruf nahi mungkar kepada penguasa yang berkuasa kala itu.

Oleh karenanya, tuntutan pembubaran MUI memang harus dilawan bersama oleh umat dan para ulama. Kehadiran MUI sudah semestinya makin menyuarakan kepentingan Islam dan kaum muslimin, membela kepentingan umat Islam, dan menjaga pemahaman umat dari bahaya pemikiran menyimpang. MUI tidak boleh mencukupkan diri sebagai menjadi lembaga fatwa yang mengakomodasi program rezim yang bertentangan dengan syariat Islam. Hal ini karena ulama adalah pelita umat yang akan mengantarkan mereka ke jalan kebenaran Islam. Wallahu a’lam bis shawwab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya