Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Perpustakaan sebagai Kompas di Era AI

×

Perpustakaan sebagai Kompas di Era AI

Sebarkan artikel ini

(Refleksi Hari Remaja Internasional 2026)

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi. Dalam hitungan detik, AI mampu menyusun artikel, menerjemahkan bahasa, membuat ilustrasi, merangkum buku, bahkan menjawab berbagai persoalan yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam untuk diselesaikan. Bagi generasi muda yang lahir di era digital, AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kalimantan Post

Di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan penting: ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas dan AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan, apakah perpustakaan masih relevan?

Jawabannya justru semakin relevan. Di era AI, perpustakaan tidak kehilangan perannya. Sebaliknya, ia memiliki fungsi yang semakin strategis sebagai kompas yang membantu masyarakat, khususnya remaja, menentukan arah di tengah lautan informasi digital.

Tema Hari Remaja Internasional “Different Contexts, Common Aspirations (Konteks yang Berbeda, Aspirasi yang Sama)”, yang diperingati 12 Agustus 2026, menjadi refleksi bahwa remaja di seluruh dunia hidup dalam kondisi yang berbeda-beda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh kesempatan belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka memerlukan akses terhadap informasi yang benar, berkualitas, dan dapat dipercaya.

Persoalannya, era AI bukan hanya menghadirkan banjir informasi, tetapi juga banjir jawaban. Tidak semua jawaban yang dihasilkan AI sepenuhnya akurat. AI dapat keliru, menghasilkan informasi yang tidak memiliki sumber jelas, bahkan menciptakan fakta yang sebenarnya tidak pernah ada. Fenomena ini dikenal sebagai AI hallucination, yakni ketika sistem menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

Di sinilah tantangan terbesar generasi muda saat ini. Mereka bukan lagi mengalami kesulitan mencari informasi, melainkan kesulitan memastikan apakah informasi tersebut benar. Kemampuan berpikir kritis menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mencari jawaban.

Sayangnya, budaya digital saat ini cenderung mendorong kecepatan dibandingkan ketelitian. Banyak orang lebih suka memperoleh jawaban instan daripada membaca sumber asli. Judul berita sering kali dibaca tanpa memahami isi. Potongan video dipercaya tanpa melihat konteksnya. Informasi dibagikan sebelum diverifikasi. Akibatnya, ruang digital dipenuhi hoaks, disinformasi, manipulasi visual, hingga konten yang sengaja dirancang untuk memengaruhi opini publik.

Baca Juga :  Warisan Imam Bukhari Jembatan Spiritual Pemersatu Dua Bangsa

Remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap situasi tersebut. Mereka adalah pengguna internet dan media sosial yang sangat aktif, sekaligus kelompok yang paling banyak memanfaatkan AI untuk belajar. Jika tidak dibekali kemampuan literasi informasi, AI justru dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi yang bergantung pada teknologi tanpa memahami proses berpikir di baliknya.

Karena itu, perpustakaan perlu dipandang dari perspektif yang lebih luas. Perpustakaan bukan sekadar ruang yang dipenuhi rak buku. Ia merupakan pusat pembelajaran, pusat literasi, dan ruang bertemunya informasi yang telah melalui proses seleksi, pengelolaan, serta verifikasi. Nilai utama perpustakaan bukan terletak pada banyaknya koleksi, melainkan pada kualitas informasi yang disediakan dan kemampuan membantu masyarakat memanfaatkannya secara tepat.

Peran pustakawan pun mengalami transformasi yang signifikan. Dahulu pustakawan lebih dikenal sebagai pengelola koleksi. Kini mereka dituntut menjadi pendamping literasi digital, fasilitator pembelajaran, sekaligus navigator informasi. Pustakawan membantu pengguna menemukan sumber yang kredibel, mengajarkan teknik penelusuran informasi ilmiah, mengenalkan etika penggunaan AI, hingga membangun budaya berpikir kritis.

Perubahan tersebut sangat penting mengingat AI tidak memiliki kemampuan moral untuk membedakan mana informasi yang layak dijadikan rujukan dan mana yang tidak. AI hanya menghasilkan respons berdasarkan data yang dipelajari. Sebaliknya, perpustakaan memiliki prinsip seleksi, validasi, dan tanggung jawab akademik. Kombinasi antara kecanggihan AI dan nilai-nilai kepustakawanan inilah yang seharusnya menjadi fondasi pengelolaan pengetahuan pada masa depan.

Oleh sebab itu, perpustakaan tidak perlu takut terhadap perkembangan AI. Justru perpustakaan perlu memanfaatkannya sebagai mitra untuk meningkatkan kualitas layanan. AI dapat digunakan untuk membantu penelusuran koleksi, memberikan rekomendasi bacaan yang sesuai dengan minat pengguna, mempercepat layanan referensi, menerjemahkan dokumen, hingga mendukung akses bagi penyandang disabilitas. Teknologi bukan ancaman apabila dikelola dengan bijaksana.

Baca Juga :  RAKYAT

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai AI menggantikan kemampuan berpikir manusia. Teknologi seharusnya memperkuat proses belajar, bukan membuat manusia berhenti belajar. Remaja tetap harus diajak membaca sumber primer, berdiskusi, melakukan verifikasi, dan menyusun argumen berdasarkan bukti. Perpustakaan menjadi ruang yang memungkinkan semua proses tersebut berlangsung secara sehat.

Dalam konteks Indonesia, transformasi perpustakaan menuju pusat literasi digital juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila diisi oleh generasi yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki integritas dalam menggunakan informasi. Sebaliknya, jika generasi muda hanya menjadi konsumen AI tanpa kemampuan mengevaluasi informasi, bonus demografi dapat berubah menjadi tantangan baru.

Karena itu, kolaborasi menjadi kunci. Sekolah, perguruan tinggi, keluarga, pemerintah, komunitas, dan perpustakaan perlu bersama-sama membangun budaya literasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Program pelatihan literasi AI, kelas cek fakta, diskusi buku, lokakarya penelusuran informasi, hingga pendampingan etika digital perlu diperluas agar menjadi bagian dari keseharian remaja.

Perpustakaan juga harus hadir di ruang yang akrab dengan generasi muda. Kehadiran di media sosial, layanan digital yang mudah diakses, podcast literasi, video edukasi, hingga chatbot berbasis AI yang terhubung dengan sumber informasi tepercaya merupakan langkah nyata agar perpustakaan tetap menjadi pilihan utama dalam mencari pengetahuan.

Pada akhirnya, AI akan terus berkembang. Teknologi akan semakin pintar, semakin cepat, dan semakin mudah digunakan. Namun, secanggih apa pun AI, ia tidak dapat menggantikan kebijaksanaan manusia dalam menilai kebenaran. Di sinilah perpustakaan menemukan relevansinya yang baru. Ia bukan lagi sekadar tempat mencari informasi, melainkan kompas yang membantu generasi muda tetap berada di jalur yang benar. Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu bertanya kepada AI, tetapi juga manusia yang mampu menilai apakah jawaban AI layak dipercaya. Dan kemampuan itulah yang sejak lama menjadi ruh perpustakaan: membimbing masyarakat menuju pengetahuan yang benar, etis, dan mencerahkan.

Iklan
Iklan