Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pemberdayaan Perempuan Mampukah Menyelesaikan Masalah Perekonomian?

×

Pemberdayaan Perempuan Mampukah Menyelesaikan Masalah Perekonomian?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ummu Arsy
Pemerhati Masalah Sosial

Bertepatan dengan puncak Peringatan Hari Ibu ke-93, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) turut melaksanakan Kick-Off Ceremonial G20 Empower dan Women20 (W20) secara virtual. Pada acara ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga menegaskan perempuan mempunyai potensi sangat besar dalam mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa, sehingga kesempatan dan potensi tersebut harus diperluas dan didukung oleh semua pihak melalui kerjasama di tingkat global yaitu G20.

Kalimantan Post

“Keterlibatan peran perempuan dan kelompok marjinal menjadi perhatian utama dalam kepemimpinan Indonesia dalam G20. Kami percaya melalui kerjasama global ini, tantangan yang dihadapi perempuan terutama dalam menghadapi dampak di masa pemulihan pasca Covid-19, dapat terfasilitasi melalui kolaborasi antara banyak pihak, yakni Pemerintah, Pemerintah Daerah, sektor swasta, lembaga internasional, CSO akademisi, dan stakeholders lainnya,” ungkap Menteri Bintang dalam Kick-Off Ceremonial G20 Empower dan Women20 (W20) yang dilaksanakan secara vitual.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyampaikan bahwa untuk mencapai dampak nyata dalam pemberdayaan perempuan, diperlukan perubahan pola pikir. Ini merupakan langkah awal yang harus didorong, melalui penciptaan lingkungan yang mendukung dan memberikan kesempatan setara bagi perempuan untuk berkontribusi. “Keketuaan Indonesia di G20 membawa semangat inklusivitas. Pemberdayaan kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak-anak, akan menjadi fokus utama bagi Indonesia di G20.

Adapun tiga tema penting yang diangkat dalam G20 Empower, yakni akuntabilitas terhadap Key Performance Indicators (KPI) dari perusahaan untuk mendorong kepemimpinan dan penguatan posisi perusahaan di dunia kerja; upaya pihak swasta dan Pemerintah untuk terus mendorong dan mendukung peran perempuan dalam SME (Small Medium Enterprises) sebagai penggerak ekonomi; dan membangun kesiapan perempuan di masa depan dalam ekonomi digital.

Baca Juga :  Haji dan Qurban, Antara Niat dan Kemampuan

Sementara itu, W20 Indonesia akan mengangkat empat agenda. Pertama, mendorong kesetaraan, keamanan, dan kesejahteraan dengan menghapus diskriminasi yang menghambat partisipasi perempuan dalam perekonomian. Kedua, mencapai inklusi ekonomi dengan mendukung UMKM yang dimiliki dan dikelola oleh perempuan. Ketiga, mengatasi kerentanan untuk meningkatkan ketahanan, dengan fokus pada perempuan penyandang disabilitas dan perempuan pedesaan. Keempat, tanggapan kesehatan yang setara gender. (Pressrelease.id, 23 desember 2021)

Women20 (W20), merupakan Engagement Group G20 yang membentuk jaringan pemberdayaan perempuan untuk mendorong pengadopsian komitmen G20 dalam isu perempuan. Tujuan utama W20 adalah untuk mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai bagian integral dari proses G20. Keanekaragaman dan partisipasi penuh sangat penting untuk mendorong ekonomi dan masyarakat yang tangguh, berkelanjutan dan layak, sedangkan sistem homogen menanggung risiko dan ketidakpastian. Pemberdayaan ekonomi perempuan dengan demikian sangat mendasar bagi dunia yang makmur dan penting untuk pertumbuhan ekonomi, ekonomi yang stabil dan pembangunan sosial

G20 EMPOWER adalah Aliansi di dalam G20 untuk Pemberdayaan dan Kemajuan Representasi Ekonomi Perempuan bertujuan untuk mempercepat kepemimpinan dan pemberdayaan perempuan di sektor swasta. G20 EMPOWER memiliki visi inklusif dan berorientasi aksi dengan model kemitraannya yang unik. G20 EMPOWER adalah satu-satunya entitas G20 yang menyatukan lebih dari 60 pemimpin bisnis dan perwakilan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama, kesetaraan gender.https://nasional.kompas.com/read/2022/01/19/07564951/membumikan-makna-dan-manfaat-presidensi-g20-indonesia-2022?page=all.

Masalah ekonomi adalah salah satu masalah yang dihadapi setiap negara selama masa pandemi Covid-19, Indonesia adalah salah satu negara kena dampak tersebut. Pemulihan ekonomi terus diupayakan diberbagai sektor, salah satunya dengan melibatkan peran perempuan.

Perempuan berdaya saing secara ekonomi diharapkan dapat mendongkrat laju pertumbuhan ekonomi dalam mengatasi kemiskinan. Dengan adanya pemberdayaan perempuan mampukah menyelesaikan masalah perekonomian saat ini dan menjamin tidak adanya diskriminasi peran antara laki-laki dan perempuan?

Baca Juga :  Kuota Cukup, Mengapa Langka?

Pemberdayaan Perempuan dalam Islam?

Kemiskinan yang terjadi saat ini apakah mampu diatasi dengan peran perempuan, apakah menjadi tanggung jawab perempuan? Menyelesaikan masalah kemiskinan tentu harus dicari penyebab akar masalah, yakni sistem yang diterapkan adalah sistem ekonomi kapitalis.

Islam adalah sebuah agama yang sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Sistem ekonomi Islam mampu mensejahterakan semua manusia, baik muslim maupun non muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Laki –laki dan Perempuan mempunyai peran masing-masing sesuai kodrat dan tanggung jawab yang telah dibebankan kepada masing-masing.

Islam memuliakan perempuan. Perempuan dalam Islam sebagai anak, ibu, istri semua mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Perempuan atau ibu sangat menentukan generasi berikutnya dalam menjalankan roda kehidupan selanjutnya. Perempuan tidak diwajibkan bekerja, laki-laki sebagai pencari nafkah untuk keluarga yang menjadi kewajibannya. Negara berkewajiban menyediakan lapang pekerjaan dan upah yang layak. Islam tidak melarang aktivitas perempuan di luar rumah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.

Sistem ekonomi Islam yang mampu diterapkan secara sempurna yang akan mensejahterakan baik laki-laki maupun perempuan. Sistem ekonomi islam tidak bisa diterapkan tanpa sistem yang lainnya, seperti sistem pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Hanya negara yang menerapkan islam secara kaffah, dipimpin oleh khalifah. Wallahu’alam.

Iklan
Iklan