Dua Terdakwa Penganiayaan di Kalsel Termaafkan

Banjarmasin, KP – Dua terdakwa dalam perkara penganiayaan di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) termaafkan dan dihentikan penuntutannya.

Itu setelah adanya mediasi dan saling memaafkan kedua belah pihak yang berperkara.

Selanjutnya, Jum’at (20/5)  DR. Fadil Zumhana selaku Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum, telah menyetujui penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restorative di lingkungan Kejaksaan Tinggi Kalsel.

Ini hasil ekspose dihadiri Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalsel  Dr. Mukri  S.H., M.H dan Wakajati, Ahmad Yani HMAD  SH.MH serta Indah Laila S.H.,M.H. selaku Aspidum, yang berlangsung secara virtual.

Pertama perkara atas nama terdakwa Mas’at  alias Aat, yang kesandung pasal 351 Ayat (1) KUHP berasal dari Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah.

Peristiwa 14 Maret 2022 di Desa Tungkup Rt. 006/003 tepatnya di rumah didesa Tungkup Kecamatan Labuan Amas Utara pada saat saksi korban, Halidah, tak lain istri Aat, sedang ingin menidurkan anaknya.

Berita Lainnya

Mandi, Duda Ditemukan Mengambang di Sungai

Seorang Kakek Ditemukan Membusuk Dalam Rumah

1 dari 2.237
loading...

Tidak lama kemudian, Aat mendekati ingin minta pijet , namun tidak lama karena tangan sang istri pegal lalu berhenti memijit.

Lalu  marah – marah terjadi pemukulan hingga mencekik leher hingga mengalami luka lebam di bagian mata dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Labuan Amas Utara.

Namun akhirnya dengan telah ada kesepakatan perdamaian serta berbagai persyaratan lainnya, akhirnya disetujui penghentian penuntutan tersebut.

Kemudian kedua  perkara atas nama terdakwa Margono alias Goni, juga Pasal 351 Ayat (1) KUHP dari Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Utara.

Kejadian bermula tersangka marah akibat pertanyaan korban Sukadi alias Uwa terkait uang yang hilang dari dalam celengan.

Tersangka dengan senjata tajam mendatangi rumah  Uwa sembari mengatakan “aku kada mengambil duit, kutimpas ikam” (saya tidak mengambil, aku bacok kamu,red) seraya mengayunkan golok dan melukai tangan korban.

Dari perkaranya telah memenuhi kerangka pikir keadilan restoratif hingga juga dihentikan penuntutannya. (K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya