Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Banjarmasin

Atasi Pampangan, PUPR Kembangkan Perangkap Sampah Di Sungai Gampa

×

Atasi Pampangan, PUPR Kembangkan Perangkap Sampah Di Sungai Gampa

Sebarkan artikel ini
PAMPANGAN- Inilah pampangan yang sampai sekarang masih menjadi sumber sampah dari hulu Sungai Martapura, sementara Kota Banjarmasin yang berada di wilayah hilir menjadi tumpukan atau terkena dampaknya. (KP/Mardianto)

Banjarmasin, KP – Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) berencana membangun perangkap sampah atau Thrash Bomb di Kawasan Sungai Gampa.

Kepala Bidang (Kabid) Sungai Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Hizbul Wathony mengatakan pengembangan alat perangkap sampah di lakukan pada tahun 2024 di Kawasan Sungai Gampa Kecamatan Banjarmasin Utara.

“Tahun ini Inysallah kita lakukan pengembangan fisik tajun ini perangkap ilung sungai gampa itu,” kata Hizbul Wathony.

Rencananya perangkap ilung ini dapat diselesaikan pada bulan depan sehingga pada bulan Juli atau Agustus sudah dapat melakukan pekerjaan fisik.

Menurutnya pengerjaan perangkap ilung ini sangat penting agar sampah yang datang dari wilayah hulu sungai Martapura sudah bisa tertangani di kawasan Sungai Gampa.

Sebab dengan mengandalkan Kapal Harvester dan Pasukan Turbo seperti saat ini, bakal terus menjadi penyebab terjadinya pampangan di Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Banjarmasin, Marzuki mengatakan sebagian besar pampangan berupa Eceng Gondok atau disebut ilung diolah DLH di TPST Sungai Gampa menjadi kompos.

Sementara, untuk yang tidak bisa diolah akan dibuang ke TPA Basirih.

Menurutnya, sebagian besar pampangan ini tidak bisa diolah atau dibuat menjadi bahan kerajinan karena semuanya merupakan sampah yang berasal dari hulu sungai Martapura.

“Kalau masalah pampangan berupa enceng gondok tidak menjadi masalah, bisa diolah menjadi kompos atau kerajinan, tapi kalo berupa sampah seperti potongan kayu, bambu dan sebagainya terpaksa kita buang ke TPA” kata Marzuki.

Persoalan pampangan ini kata Marzuki harus melibatkan segala pihak karena yang menjadi sumber berada di wilayah hulu Sungai Martapura, sementara Kota Banjarmasin yang berada di wilayah hilir menjadi tumpukan atau terkena dampaknya. (mar/K-3)

Iklan
Baca Juga:  Sukses Kelola Sampah Organik Jadi Pakan Ikan, Ternyata Terinspirasi Ibnu Sina
Iklan