BANJARMASIN, Kalimantanpost.com -Perekonomian Kalimantan Selatan (Kalsel) terus menunjukkan resiliensi yang solid hingga penghujung
Triwulan I 2026. Neraca Perdagangan Kalsel pada Maret 2026 konsisten mencatatkan
surplus yang signifikan sebesar US$929,42 juta. Berbeda dengan tren kontraksi bulan sebelumnya,
angka ini justru menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 12,56 persen (yoy).
Kinerja impresif ini ditopang
oleh nilai ekspor yang mencapai US$1.102,74 juta, tumbuh 15,8 persen didorong oleh peningkatan volume ekspor batubara sebagai komoditas penopang utama (>50 persen),” papar Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo dalam acara Asset and Liability Committee (ALCo), Senin (11/5/2025).
Di sisi lain, lanjut dia, nilai impor juga naik tajam sebesar 36,3 persen menjadi US$173,32 juta, terutama akibat tingginya permintaan minyak petroleum
serta mesin pengolahan hasil tambang.
“Dari sisi harga, meskipun masih berada di atas rata-rata nasional, tekanan inflasi di Kalimantan
Selatan mulai menunjukkan tren melandai pada Maret 2026. Inflasi tahunan tercatat sebesar 4,83 persen (yoy),” ucapnya.
Lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,80, turun jika dibandingkan posisi Februari yang sempat menyentuh 5,97 persen. Meski demikian, angka ini masih melampaui inflasi nasional yang berada
di level 3,48 persen (yoy).
Secara bulanan (mtm), Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 0,50 persen,
dengan Kabupaten Tanjung sebagai wilayah dengan tekanan inflasi tertinggi di regional mencapai 5,18 persen (yoy).
Tekanan inflasi tahunan (yoy) masih didominasi oleh komoditas emas perhiasan, tarif listrik, dan beras. Namun secara bulanan (mtm), terjadi pergeseran komoditas penyumbang utama yakni ikan
nila, telur ayam ras, serta cabai merah.
Sebagai langkah mitigasi, kata Catur, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalsel terus memperkuat sinergi melalui Operasi Pasar Murah yang hingga Maret 2026 telah menyalurkan 810 ribu ton beras SPHP.
Selain itu, langkah strategis seperti pemberian bantuan Fasilitasi Distribusi Pangan dan penyediaan voucher pada Pasar Raya TPID VI menjadi
instrumen kunci untuk menjaga daya beli masyarakat di Bumi Lambung Mangkurat. (ful/KPO-3)















