BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan, Firman Yusi, mengusulkan agar program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Kalsel diarahkan untuk membangun ekosistem eksportir muda di Banua.
Usulan tersebut disampaikan seiring langkah Bank Kalsel yang tengah mempersiapkan diri meningkatkan status menjadi bank devisa.
Menurut Firman, perubahan status itu tidak hanya berorientasi pada peningkatan layanan perbankan, tetapi juga harus memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Status Bank Devisa ini harus membawa dampak instan dan nyata bagi perekonomian masyarakat bawah. Salah satu cara paling efektif adalah memanfaatkan dana CSR untuk melahirkan eksportir-eksportir baru dari kalangan generasi muda,” ujarnya.
Politisi dari Daerah Pemilihan Kalsel V yang meliputi Kabupaten Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong itu menilai Kalimantan Selatan memiliki potensi besar di berbagai sektor ekonomi.
Tidak hanya pertambangan, tetapi juga sektor pertanian, perkebunan, perikanan hingga produk kerajinan daerah yang memiliki peluang bersaing di pasar internasional.
Namun demikian, Firman menilai potensi tersebut belum tergarap maksimal karena masih minimnya pelaku usaha lokal yang memahami tata cara ekspor serta memiliki akses ke jaringan perdagangan global.
“Permintaan dari negara lain terhadap komoditas non-tambang kita sebenarnya terus mengalir. Masalahnya ada pada pemenuhan standar, kontinuitas produk, dan literasi ekspor,” katanya.
Karena itu, ia menilai Bank Kalsel dapat mengambil peran strategis melalui program CSR dengan membiayai pelatihan, pendampingan mutu produk hingga membuka akses pasar bagi generasi muda yang ingin menjadi eksportir.
Firman juga mendorong adanya kolaborasi antara Bank Kalsel dan Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan untuk memperkuat ekosistem ekspor daerah.
Menurutnya, Dinas Perdagangan memiliki data pasar, pemahaman regulasi ekspor serta jaringan yang dapat disinergikan dengan kekuatan finansial dan layanan perbankan yang dimiliki Bank Kalsel.
Sebagai langkah konkret, Firman mengusulkan pembentukan Export Academy, yakni program inkubasi yang memberikan pelatihan kepada generasi muda mengenai regulasi ekspor, kepabeanan, strategi pemasaran internasional hingga pencarian pembeli dari luar negeri.
Selain itu, ia juga mengusulkan bantuan standardisasi produk melalui pendampingan sertifikasi internasional, seperti sertifikasi organik, halal global dan berbagai standar mutu yang dibutuhkan pasar ekspor.
Tak kalah penting, Bank Kalsel juga diharapkan memfasilitasi business matching yang mempertemukan produk unggulan UMKM Kalimantan Selatan dengan calon pembeli dari berbagai negara.
“Jika ekosistem ini terbentuk, Bank Kalsel tidak hanya sukses bertransformasi menjadi Bank Devisa secara transaksional, tetapi juga menjadi pahlawan pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif di Kalimantan Selatan,” pungkas Firman. (fin/KPO-1)















