PEMBANGUNAN Jembatan Pulau Bromo sejak dibangun lima tahun lalu kembali menjadi keluhan warga. Kemiringan yang dinilai terlalu curam membuat pengendara kerap kehilangan kendali, terutama saat hujan ketika permukaan aspal berubah licin. Keluhan ini bukan baru, namun berulang—dan kini mendapat sorotan serius dari legislatif.
Halim, warga setempat, menyebut hampir selalu ada pengendara yang kesulitan mengerem saat melintasi turunan. “Turunannya terlalu curam. Ini membahayakan, apalagi kalau hujan,” ujarnya.
Kondisi itu mendorong Komisi III DPRD Kota Banjarmasin melakukan inspeksi mendadak. Dipimpin Ketua Komisi III, Muhammad Ridho Akbar, rombongan dewan menilai langsung geometri turunan yang tajam dan berisiko.
“Setelah dilihat di lapangan, kemiringannya memang cukup ekstrem untuk ukuran jalan lingkungan yang padat aktivitas warga,” kata Ridho di sela sidak.
Dari pengamatan lapangan dan keluhan warga, setidaknya ada tiga titik persoalan utama:
- Sudut kemiringan terlalu tajam untuk lalu lintas campuran (motor, mobil, pejalan kaki) di kawasan permukiman.
- Permukaan aspal licin saat hujan, memperpanjang jarak pengereman.
- Minim peringatan dini, sehingga pengendara kerap terlambat mengurangi kecepatan sebelum memasuki turunan.
Kombinasi tiga faktor ini menciptakan situasi berulang: pengendara panik, rem mendadak, dan risiko tergelincir atau menabrak pembatas.
Rambu dan Pengaman Sementara
Sebagai langkah awal, dewan mendorong Dinas PUPR menambah rambu peringatan beberapa meter sebelum turunan agar pengendara bisa mengurangi laju lebih dini. Usulan lain adalah pemasangan ban pengaman di titik rawan untuk meminimalkan dampak benturan bila terjadi kecelakaan.
Namun, Komisi III menilai langkah ini hanya solusi sementara. Dan solusi Teknis yang Didorong: Tinjau Ulang Desain
Komisi III berencana memanggil Dinas PUPR dan konsultan perencana dalam rapat dengar pendapat. Fokusnya bukan sekadar rambu, melainkan evaluasi desain turunan. Sejumlah solusi teknis yang mengemuka.
- Rekayasa ulang kemiringan (regrading) agar sudut turunan lebih landai.
- Pelapisan ulang dengan aspal bertekstur kasar (anti-skid) untuk meningkatkan daya cengkeram ban.
- Pemasangan marka kejut (rumble strip) sebelum turunan sebagai peringatan taktis.
- Penerangan tambahan di malam hari untuk visibilitas maksimal.
- Guardrail/pembatas pengaman permanen di sisi rawan.
Langkah ini dinilai lebih menyentuh akar masalah: geometri jalan yang tak ramah keselamatan.
Keselamatan Parameter Utama
Sidak tersebut menegaskan satu pesan penting: desain infrastruktur tak boleh berhenti pada fungsi, tetapi wajib menempatkan keselamatan sebagai parameter utama. Terlebih, Jembatan Pulau Bromo berada di kawasan hunian dengan mobilitas warga yang tinggi setiap hari.
Komisi III menilai, bila keluhan ini terus berulang tanpa perbaikan desain, maka potensi kecelakaan hanya tinggal menunggu waktu.
“Keselamatan pengguna jalan harus diutamakan. Desain perlu ditinjau ulang, bukan hanya ditambal rambu,” tegas Ridho.
Warga berharap evaluasi ini benar-benar berujung pada perbaikan permanen, bukan sekadar respons sesaat. Sebab bagi mereka, turunan itu dilalui setiap hari—oleh anak sekolah, pekerja, hingga lansia.
Perbaikan Jembatan Pulau Bromo kini menjadi ujian: apakah pemerintah kota berani mengoreksi desain demi keselamatan, atau membiarkan risiko itu terus mengintai di turunan yang sama.(ADV/K-5)















