Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

ANAK USIA DINI

×

ANAK USIA DINI

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Rabu 24 Juni 2026 lalu diadakan acara syukuran 20 tahun usia Yayasan Suaka Ananda BPost sejak kelahirannya 20 Juni 2006 yang lalu. Acara yang bertempat di kantor yayasan Komp. Bun Yamin Asri Jalan Dharma Budi Dhama Praja tersebut diisi sambutan Ketua Yayasan Aida Muslimah, dan dirangkai pula dengan Talk Show mengangkat tema “Bermain, Belajar dan Bertumbuh: Memaksimalkan Potensi Anak Usia Dini Melalui Pendekatan Montessori dan Psikologi”, dengan mengadirkan narasumber Ceria Hermina MPsi Psikolog dosen Universitas Muhammadiyah sekaligus Direktur Arceria Human Development, dan Pravita Rosa Novriyanti SPd. MPd, Dipl. Montessori, Leader of Mentari Cerdas Banjarmasin.

Kalimantan Post

Banyak hal yang dipaparkan dalam talk show tersebut yang sangat menarik, karena disampaikan oleh para praktisi dan ahlinya. Kita sebagai orangtua, ayah, ibu, kakek atau nenek, umumnya sangat sayang dengan anak dan cucu kita. Rasa sayang itu tentu manusiawi dan wajar adanya. Bahkan patut dipertanyakan normalitasnya, kalau ada orangtua atau kakek nenek yang tidak sayang kepada si kecil. Namun rasa sayang itu sering masih salah cara dalam menyikapi anak yang masih berusia dini. Ada yang memanjakannya berlebihan, sehingga segalanya dikerjakan oleh orangtuanya, misalnya anak yang sudah bisa makan sendiri masih saja disuapi, sudah bisa berpakaian sendiri, masih saya serba dilayani. Padahal anak tersebut sudah bisa melayani dirinya sendiri. Ada juga yang serba melarang, tidak boleh ini itu, sehingga akhirnya anak tidak berani melakukan sesuatu. Anak juga takut salah, sehingga mereka tidak kreatif dan tidak berani mencoba hal-hal baru. Ada juga anak yang berbuat salah, berdusta dan sebagainya dibiarkan saja. Akhirnya terbiasa.

Memang umumnya anak senang dan perlu dipuji, karena itu menurut pendekatan psikologi, apa yang dilakukan anak memang perlu diapresiasi. Bahkan perbandingannya, lima apresiasi dan satu koreksi. Artinya kita lebih banyak memuji, menghargai, daripada mengoreksi, sepanjang tidak ada kesalahan yang mereka lakukan. Anak yang memori ingatan kuat, sesungguhnya merupakan usia emas (golden age) untuk menanamkan hal-hal baik, hal-hal yang berkenaan dengan kognitif, apektif dan psikomotoriknya perlu dikelola secara benar, sehingga bertumbuh kembang dengan sehat. Karena itu para orangtua harus memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mendidik mereka, dengan pendekatan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan teori ilmu pengetahuan dan etika yang berlaku selama ini. Untuk itu para orangtua dituntut lebih melek terhadap pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mendidik anak, baik yang diperoleh melalui media online, mendengarkan seminar dan sejenisnya, maupun berguru pada ahlinya.

Baca Juga :  Indonesia Menggugat dan Relevansi Kekinian

Selama ini banyak orang tua yang tidak berdaya melihat perkembangan kepribadian anak-anaknya, yang tidak sesuai dengan yang dicita-citakannya. Untuk mendidik dan membentuk sedemikian rupa tidak berhasil lagi, karena anak itu sudah berangsur dewasa. Karena itu sejak usia dini orangtua harus memiliki konsep untuk mendidik anak-anaknya. Jangan dibiarkan “satayuhnya”, dengan dalih “kina kalau sudah ganal baakal haja”.

Anak itu ibarat kertas putih, ia memerlukan dan terpengaruh lingkungan yang akan mewarnainya. Apabila lingkungannya positif maka kertas putih tadi akan berwarna baik, dan sebaliknya jika lingkungan negatif maka ia akan berwarna buruk. Lingkungan terdekat anak adalah orangtuanya sendiri, lebih khusus lagi ibunya. Karena itu benar agama mengajarkan, al-umm madrasatul ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak.

Iklan
Iklan