BANJARMASIN, kalimantanpost.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menjadi perhatian di Kota Banjarmasin, menyusul meningkatnya kemunculan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) selama musim kemarau.
Dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mulai mempersiapkan langkah antisipasi. Meski pelaksanaan di lapangan masih menunggu arahan lanjutan dari pemerintah provinsi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Husni Tambrin mengatakan salah satu upaya yang disiapkan adalah pendirian posko siaga karhutla di kawasan Kelurahan Basirih Selatan.
Menurut Husni, lokasi tersebut dipilih karena memiliki kawasan lahan yang rawan terbakar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar.
“Rencananya posko berada di sekitar depan Rumah Singgah agar penanganan bisa lebih cepat ketika terjadi kebakaran lahan,” kata Husni, Jumat (17/6/2026).
Posko itu nantinya akan diisi personel gabungan yang terdiri dari BPBD Provinsi Kalsel, BPBD Kota Banjarmasin dengan melibatkan relawan kebencanaan, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas. Seluruh operasional akan berada di bawah koordinasi BPBD Provinsi.
Husni mengungkapkan rencana berdirinya posko itu telah disampaikan kepada Wali Kota Banjarmasin dan mendapat persetujuan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla pada musim kemarau tahun ini.
Meski demikian, operasional posko belum dimulai. BPBD masih menunggu hasil koordinasi lanjutan antara pemerintah provinsi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Termasuk pembahasan dukungan penanganan berupa helikopter water bombing untuk mengatasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Setelah penetapan dan rapat selesai, baru posko akan diaktifkan. Untuk waktu operasionalnya masih menunggu keputusan lebih lanjut,” sebut Husni.
Di sisi lain, BPBD Kota Banjarmasin mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan atau meninggalkan api di lahan yang dipenuhi rumput kering.
Berkaca dari pengalaman pada 2023 yang tentunya menjadi pengingat penting. Pasalnya, saat itu tercatat 41 kejadian kebakaran lahan di Banjarmasin, yang sebagian besar dipicu oleh kelalaian manusia.
“Hal-hal seperti itu harus kita hindari agar tidak kembali terjadi. Apalagi dampaknya bisa memunculkan kabut asap,” pungkasnya. (ham/KPO-3).















