Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Maturidi dan Renaisans Ketiga: Menjawab Radikalisme dengan Akal dan Toleransi

×

Maturidi dan Renaisans Ketiga: Menjawab Radikalisme dengan Akal dan Toleransi

Sebarkan artikel ini
IMG 20260731 WA0035

Oleh: Dr. Komiljon Shermukhamedov
PhD dalam Sejarah, Associate Professor, Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Maturidi di bawah Kabinet Menteri Republik Uzbekistan

Dunia hari ini sedang kehausan akan dialog. Konfrontasi ideologi merajalela, ruang untuk saling mendengar menyempit, dan atas nama agama, tak sedikit yang justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah kegelapan itulah, Uzbekistan mencoba menyalakan lentera.

Kalimantan Post


Forum Peradaban Islam Internasional Pertama yang digelar di Tashkent, Samarkand, dan Termez pada 7-11 Juli 2026 bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah pernyataan tegas: Islam adalah peradaban ilmu, toleransi, dan pencerahan. Dan yang lebih penting, forum ini membuktikan bahwa warisan ulama klasik seperti Imam al-Maturidi masih relevan—bahkan mungkin lebih relevan dari sebelumnya—dalam menjawab tantangan zaman.


Forum ini lahir dari inisiatif Presiden Shavkat Mirziyoyev pada Sidang Majelis Umum PBB pada 2017. Beliau ingin dunia melihat Islam yang sebenarnya: agama yang menghargai akal, mengutamakan ilmu, dan menjunjung tinggi kedamaian. Bukan Islam yang dibajak oleh ekstremisme atau dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan. Inisiatif ini kemudian diwujudkan melalui forum bergengsi yang menjadi platform bagi hampir 300 delegasi dari 50 negara, termasuk para menteri, mufti, ilmuwan, tokoh agama dan masyarakat, serta pimpinan organisasi internasional.


Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dunia Islam haus akan narasi alternatif—narasi yang mencerahkan, bukan menyesatkan. Forum ini berkembang menjadi platform dialog internasional yang unik, mendorong keterbukaan dialog, kerja sama ilmiah, dan penguatan saling percaya di antara para peserta. Ini bukan sekadar pertemuan tahunan biasa, melainkan momen bersejarah yang menegaskan kembali posisi Uzbekistan sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan pusat bagi inisiatif-inisiatif global.


Indonesia dan Hubungan Sejarah yang Terlupakan
Saya secara khusus menyoroti partisipasi Indonesia. Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah Islamiyah, peneliti Isra Miraj, dan awak Garuda TV turut menjadi bagian penting forum ini. Dalam konferensi ilmiah internasional bertajuk “Termez Hadith School: Heritage of Scholars and Modern Research” yang diselenggarakan dalam rangkaian forum, Dr. Zaitun mengingatkan kita pada fakta yang jarang dibicarakan: Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara, berasal dari Samarkand, Uzbekistan.
Ini bukan sekadar trivia sejarah. Ini adalah pengingat bahwa hubungan Indonesia-Uzbekistan sudah berlangsung berabad-abad. Dan hubungan itu harus diperkuat lagi—baik melalui pendidikan, wisata religi, riset keislaman, hingga ekonomi halal. Dr. Zaitun dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penelitian ilmiah yang dilakukan di Uzbekistan, serta upaya pelestarian warisan sejarah dan spiritual serta promosinya di kancah internasional.


Beliau menyampaikan dengan penuh kekaguman: “Saya sangat bahagia dapat berpartisipasi dalam konferensi yang diadakan di tanah yang diberkahi ini, Uzbekistan, khususnya di kota kuno Termez. Konferensi ini diselenggarakan dengan slogan mulia ‘Peradaban Islam, Jalan Menuju Perdamaian, Toleransi, dan Pencerahan,’ yang sangat penting bagi dunia saat ini. Imam al-Tirmidhi adalah pemimpin sejati dalam ilmu hadis, dan melalui karyanya yang terkenal di dunia, ‘Sunan,’ beliau memberikan jasa yang tak tertandingi dalam mengumpulkan warisan suci Rasulullah SAW.”
Dr. Zaitun juga menyampaikan kekagumannya terhadap Imam al-Tirmidhi, ulama besar kelahiran Termez. Beliau menekankan bahwa al-Tirmidhi bukan sekadar perawi hadis, tetapi juga analis hukum dan pembaharu metodologi.

Keahlian ilmiah yang unik dari ulama besar ini terletak pada kenyataan bahwa ia tidak terbatas pada meriwayatkan hadis, tetapi juga secara mendalam menganalisis makna yurisprudensi dari setiap hadis dan fatwa para ulama mengenai hal tersebut. Istilah hasan sahih dan hasan gharib yang diperkenalkannya merevolusi studi hadis hingga hari ini, mengantarkan era baru dalam bidang ini. Lebih jauh lagi, dalam karya-karyanya, Imam al-Tirmidhi memberikan perhatian besar pada solidaritas, keharmonisan, dan persatuan umat Islam.


Kehadiran Indonesia dalam forum ini bukanlah kebetulan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam mempromosikan Islam moderat dan toleran. Dan di sinilah relevansi Imam al-Maturidi menjadi sangat penting bagi Indonesia.


Indonesia selama ini dikenal sebagai contoh sukses harmoni antara Islam dan budaya lokal, antara agama dan negara, serta antara moderasi dan keberagaman. Nilai-nilai yang diajarkan oleh Imam al-Maturidi—toleransi, keseimbangan akal dan wahyu, serta penolakan terhadap ekstremisme—sangat sejalan dengan karakter Islam Nusantara yang telah terbukti mampu menciptakan kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.


Dr. Zaitun dalam pidatonya juga menyoroti bahwa ajaran Imam al-Maturidi tentang moderasi dan toleransi sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Beliau menekankan bahwa di tengah meningkatnya paham radikal dan intoleransi di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia Tenggara, teologi Maturidi menawarkan alternatif yang mencerahkan. Indonesia, dengan pengalamannya dalam mengelola keberagaman, dapat belajar dari warisan intelektual al-Maturidi untuk semakin memperkuat fondasi moderasi beragama.


Selain itu, hubungan historis antara Indonesia dan Uzbekistan melalui Maulana Malik Ibrahim As-Samarkandi menunjukkan bahwa kedua negara memiliki ikatan spiritual yang kuat. Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal sebagai salah satu Wali Songo, adalah bukti nyata bahwa dakwah Islam di Nusantara tidak lepas dari peran ulama-ulama besar dari Asia Tengah. Ini menjadi modal penting bagi penguatan kerja sama bilateral, terutama dalam bidang pendidikan keislaman, pertukaran ulama, dan pengembangan wisata religi.

Baca Juga :  PLN Saatnya Dievaluasi Total


Saya melihat bahwa Indonesia dan Uzbekistan dapat bekerja sama dalam berbagai inisiatif, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama tentang teologi Maturidi dan hadis, serta pengembangan pusat-pusat kajian Islam moderat. Uzbekistan, dengan kekayaan warisan intelektualnya, dan Indonesia, dengan pengalaman praktisnya dalam mengelola moderasi beragama, adalah pasangan yang ideal untuk memimpin gerakan pencerahan Islam di tingkat global.


Imam al-Maturidi dan Relevansinya bagi Dunia Modern
Namun, puncak forum adalah konferensi tentang Imam al-Maturidi di Samarkand. Mengapa al-Maturidi begitu penting? Karena di tengah arus ekstremisme dan takfirisme, teologi Maturidi menawarkan jalan tengah: keseimbangan antara akal dan wahyu, antara doktrin dan realitas sosial.


Dalam realitas global saat ini, ekstremisme agama, radikalisme, fanatisme, serangan informasi, dan ancaman ideologis tetap menjadi tantangan paling mendesak yang dihadapi umat manusia. Dalam situasi seperti ini, mengkaji secara mendalam dan mempromosikan secara luas esensi kemanusiaan Islam yang sejati—beserta ajarannya yang berdasarkan akal, ilmu pengetahuan, keadilan, dan toleransi—menjadi lebih penting dari sebelumnya. Dari sudut pandang ini, warisan ilmiah Imam al-Maturidi bukan sekadar doktrin agama yang bernilai historis. Saat ini, ia tetap menjadi aliran pemikiran universal yang mampu memberikan respons pencerahan terhadap berbagai ancaman ideologis dan berfungsi untuk memperkuat toleransi beragama serta stabilitas sosial di masyarakat.


Al-Maturidi mengajarkan bahwa iman bukan hanya soal pengakuan lisan, tetapi juga keyakinan hati dan amal perbuatan. Ia menolak sikap ekstrem dalam mengkafirkan orang lain. Ia membuka ruang bagi perbedaan pendapat. Ini adalah antitesis dari kelompok-kelompok radikal yang mengklaim kebenaran tunggal dan menghalalkan darah atas nama Tuhan. Teologi Maturidi yang didasarkan pada harmoni akal dan wahyu (aql dan naql), moderasi, toleransi, keadilan, dan pencerahan, berfungsi sebagai salah satu respons intelektual paling efektif terhadap ekstremisme, radikalisme, dan fanatisme saat ini.


Konferensi ini dihadiri oleh para pemikir Maturidi terkemuka: Mufti Agung Mesir Syekh Nazir Muhammad Ayyad, penasihat pimpinan kompleks Al-Azhar Dr. Muhammad Abdulrahman al-Duwaini, Wakil Direktur Pusat Imam al-Ash’ari Dr. Muhammad Mish’al, Menteri Urusan Agama Malaysia Zulkifli Hasan, Direktur Pusat Studi Islam Turki (ISAM) Murtaza Bedir, Presiden Masyarakat Islam Finlandia Gyulten Bedrettin, Profesor di Akademi Islam Bulgaria Syekh Sayful Asri, Profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia Shukran Abdulrahman, serta para profesor dari Turki dan Rusia seperti Sönmez Kutlu, Hülya Alper, dan Rashid Akpinar.
Mereka sepakat: teologi Maturidi adalah benteng intelektual melawan radikalisme. Secara khusus, Mufti Agung Mesir, Syekh Nazir Ayyad, dalam pidatonya menekankan bahwa teologi Maturidi telah memberikan kontribusi yang tak tertandingi dalam melindungi masyarakat dari radikalisasi dan takfirisme, serta memperkuat budaya dialog.


Sementara itu, Dr. Muhammad al-Duwaini, penasihat pimpinan kompleks Al-Azhar, menyampaikan kesannya selama forum dengan penuh penghargaan:
“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Yang Mulia Presiden Republik Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, atas dukungan tingkat tinggi dalam menyelenggarakan Forum Peradaban Islam Internasional Pertama dan mengubah konferensi bergengsi ini menjadi platform internasional penting yang menyatukan umat Islam di sekitar gagasan pencerahan, toleransi, dan solidaritas. Inisiatif dan upaya visioner Yang Mulia Presiden Shavkat Mirziyoyev untuk mengubah Pusat Peradaban Islam menjadi tempat suci ilmiah dan pendidikan global yang bergengsi, untuk memulihkan warisan keilmuan para ulama Muslim, dan mewariskannya kepada generasi mendatang, memiliki signifikansi yang tak tertandingi dan sangat diakui di seluruh dunia Islam.”


Salah satu momen paling menggembirakan adalah pengumuman pemenang kompetisi internasional tentang warisan Imam al-Maturidi. Kompetisi ini diselenggarakan untuk memastikan implementasi tugas-tugas yang didefinisikan dalam resolusi Presiden Republik Uzbekistan No. PQ-102 “Tentang peringatan 1155 tahun kelahiran Imam al-Maturidi” tertanggal 14 Maret 2025.


Pemenangnya berasal dari Kirgistan, Rusia, dan Malaysia. Shokhimardon Orinbekov, dosen di Universitas Manas Kirgistan, dinobatkan sebagai juara pertama; Syekh Sayful Asri, dosen di Departemen Teologi Akademi Islam Bulgaria, Rusia, meraih juara kedua; dan Profesor Shukran Abdulrahman dari Universitas Islam Internasional Malaysia meraih juara ketiga. Para pemenang secara resmi menerima piagam khusus dan cinderamata berharga.


Ini membuktikan bahwa studi Maturidi bukan milik Uzbekistan semata. Ia adalah milik seluruh umat Islam, bahkan milik dunia. Kompetisi ini sekali lagi menunjukkan bahwa kajian dan promosi warisan ilmiah Imam al-Maturidi menjadi bagian dari agenda intelektual bersama komunitas ilmiah internasional. Partisipasi para ilmuwan dari berbagai negara dalam kompetisi ini merupakan ekspresi nyata dari meluasnya geografi mazhab Maturidi, dan fakta bahwa gagasan-gagasan dari doktrin ini yang berbasis pada akal, moderasi, toleransi, dan pencerahan tetap relevan dalam diskusi-diskusi global saat ini. Dalam hal ini, kompetisi ini mendorong penelitian ilmiah baru dalam studi Maturidi, mendukung para peneliti muda, memperkuat kerja sama akademik internasional, dan semakin mengangkat posisi Uzbekistan sebagai pusat ilmiah terkemuka di bidang ini.


Deklarasi Samarkand yang dihasilkan dari konferensi ini menegaskan pentingnya mempromosikan ajaran Maturidi sebagai bagian dari perjuangan melawan ekstremisme. Deklarasi tersebut dibacakan oleh Profesor Hülya Alper dari Universitas Marmara, Turki. Dalam deklarasi tersebut, secara khusus diakui bahwa ajaran Maturidi adalah fondasi kokoh dari Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berdasarkan pada perdamaian, toleransi, moderasi, akal, dan pencerahan.

Baca Juga :  PERBAIKAN SISTEM


Selanjutnya, dokumen tersebut menetapkan tugas-tugas prioritas, yang mencakup promosi luas ajaran ini sebagai faktor penting dalam perjuangan pencerahan melawan ekstremisme, radikalisme, dan fanatisme; pengkajian mendalam tentang landasan ilmiahnya; pendirian Museum Inovasi Imam al-Maturidi; penguatan ilmu filsafat, logika, psikologi, dan kalam dalam pendidikan agama; peningkatan minat generasi muda terhadap sains; serta perluasan kerja sama ilmiah dan pendidikan untuk mewujudkan gagasan Renaisans Ketiga. Ini langkah maju yang sangat berani.


Pada saat yang sama, para peserta konferensi menyatakan dukungan mereka terhadap reformasi keagamaan dan pendidikan serta gagasan “Renaisans Ketiga” yang diimplementasikan oleh Presiden Republik Uzbekistan. Mereka menyerukan kepada seluruh komunitas global untuk lebih memperkuat kerja sama dalam mengkaji warisan ilmiah Imam al-Maturidi yang kaya dan berdasarkan pada humanisme, keadilan, toleransi, dan akal serta mewariskannya kepada generasi mendatang.

Semua ini tidak terlepas dari visi besar Presiden Mirziyoyev: Renaisans Ketiga. Bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi kebangkitan intelektual. Gagasan ini tidak terbatas pada pertumbuhan ekonomi atau pembaruan infrastruktur. Esensinya terletak pada peningkatan potensi intelektual masyarakat, pengembangan sains dan pendidikan, penguatan spiritualitas nasional, serta harmonisasi warisan sejarah yang agung dengan tuntutan pembangunan modern.


Kami ingin menghidupkan kembali semangat keemasan peradaban Islam, ketika ulama dan ilmuwan bekerja berdampingan, ketika agama dan sains saling menguatkan. Gagasan Renaisans Ketiga yang diprakarsai oleh Presiden Shavkat Mirziyoyev memiliki arti penting tersendiri karena bertujuan untuk menyelaraskan warisan intelektual yang ditinggalkan oleh para leluhur kita yang agung—seperti Imam al-Maturidi, Imam al-Bukhari, Hakim al-Tirmidhi, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Ulugh Beg—dengan sains modern, inovasi, dan pendidikan.


Forum ini adalah bukti bahwa Uzbekistan serius. Kami tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Dalam beberapa tahun terakhir, Uzbekistan secara konsisten menjalankan kebijakan negara dalam melestarikan warisan sejarah, mengkaji warisan ilmiah dan spiritual yang kaya dari para leluhur kita, serta mempromosikannya secara luas. Sebagai hasil dari reformasi komprehensif yang diimplementasikan di bawah kepemimpinan Presiden Shavkat Mirziyoyev, telah didirikan sekolah-sekolah ilmiah baru dan pusat-pusat internasional yang bertujuan untuk mengkaji secara mendalam warisan para ulama besar tersebut.


Forum ini juga menegaskan kembali status historis Uzbekistan sebagai salah satu pusat peradaban Islam dan mencitrakan dirinya sebagai pusat bagi inisiatif-inisiatif global. Kebijakan ini sejalan dengan inisiatif yang telah disampaikan oleh Presiden Uzbekistan di berbagai platform internasional tingkat tinggi seperti Majelis Umum PBB, UNESCO, Organisasi Kerja Sama Islam, dan Organisasi Negara-negara Turki.


Indonesia dan Uzbekistan: Kemitraan untuk Masa Depan
Kembali ke Indonesia, saya melihat adanya peluang besar bagi kedua negara untuk bekerja sama dalam mempromosikan Islam moderat dan pencerahan peradaban. Indonesia telah membuktikan bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan. Uzbekistan, dengan warisan intelektualnya yang kaya, memiliki modal besar untuk menjadi pusat studi Islam moderat di Asia Tengah.


Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Pertama, pertukaran akademik dan penelitian bersama tentang teologi Maturidi, hadis, dan filsafat Islam. Kedua, pengembangan program wisata religi yang menghubungkan situs-situs bersejarah di Uzbekistan dengan destinasi wisata religi di Indonesia. Ketiga, penguatan kerja sama di bidang ekonomi halal dan keuangan syariah. Keempat, pertukaran pengalaman dalam mengelola moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Dr. Zaitun dalam pidatonya juga menyampaikan harapannya agar hubungan Indonesia-Uzbekistan terus diperkuat. Beliau menekankan bahwa kedua negara memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi mercusuar pencerahan di tengah dunia yang dilanda konflik dan ekstremisme. Dan saya sangat setuju dengan pandangan beliau.


Forum ini adalah bukti bahwa Uzbekistan serius. Kami tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Dan kami mengajak seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk bersama-sama menegakkan peradaban yang damai, toleran, dan berilmu. Forum Peradaban Islam Internasional Pertama dan konferensi tentang teologi Maturidi yang diselenggarakan di dalamnya diakui sebagai peristiwa internasional yang signifikan, yang menghubungkan ingatan sejarah dengan masa depan, warisan nasional dengan pembangunan global, dan sains dengan spiritualitas. Hasil forum, Deklarasi Samarkand yang diadopsi, dan inisiatif ilmiah yang baru diluncurkan tidak diragukan lagi akan berfungsi untuk memperkuat posisi terdepan Uzbekistan dalam kerja sama kemanusiaan internasional, diplomasi pencerahan, dan studi Maturidi.


Warisan Imam al-Maturidi adalah milik kita semua. Mari kita jaga, kaji, dan sebarkan. Karena di sinilah jawaban atas radikalisme, fanatisme, dan kebodohan yang masih merundung umat manusia. Bagaimanapun, warisan Imam al-Maturidi bukan hanya harta masa lalu yang tak ternilai, tetapi juga pilar spiritual dan intelektual dari Renaisans Ketiga yang sedang dibangun oleh Uzbekistan Baru, serta sumber nilai-nilai universal yang melayani masa depan yang damai, stabil, dan tercerahkan bagi umat manusia.


Saya mengajak seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia, untuk bersama-sama menggali kembali khazanah intelektual kita. Karena di dalamnya terdapat jawaban atas tantangan zaman. Dan saya yakin, dengan semangat kebersamaan dan komitmen pada nilai-nilai pencerahan, kita dapat membangun peradaban yang lebih baik bagi anak cucu kita.

Iklan
Iklan