Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Kalteng

Tabuh ke 2 dan 3 Tiwah Palangka Raya Korbankan 15 Ekor Hewan

×

Tabuh ke 2 dan 3 Tiwah Palangka Raya Korbankan 15 Ekor Hewan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260714 WA0060

PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Puncak ke dua tiwah Keluarga Bajik R Simpei sebagai “Upun Gawi” digelar tabuh ke 2, pada hari Minggu (12/7/2026) mengorbankan 7 kerbau, dan tabuh ketiga dilaksanakan, Senin (13/7/2026), dengan jumlah hewan yang di korbankan 7 kerbau dan satu ekor sapi.

Pada tabuh ke-2 ada 7 penanggung jawab pemotongan hewan korban, yang pertama atas nama Arton SD, dan yang ditiwahkan almarhum Emae Laman. Kedua, atas nama Selot, yang ditiwahkan untuk almarhum Watel Abu.

Kalimantan Post

Ketiga atas nama Indu Yuni, untuk almahum Deli D Lendjun, keempat atas nama Yerson untuk alnaehum Dinae, kelima atas nama Indu Imob, untuk alnarhum Dibu G.S.Untung, dan Nuce, ke enam atas nama Iswanto untuk tiwah Sakuce T.Asang, dan ke tujuh Indu Indra Unel.

Ketua Panitia Berly R Simpei, pada tabuh ke-3, Senin (13/7/2026) ada 8 hewan korban. Pertama atas nama Indu Gren untuk tiwah Nuwag Awin. Kemudian atas nama Indu Koko untuk tiwah Indu Sihung, kemudian atas nama Indu Sinta untuk tiwah Billy Ali Rada.

Selanjutnya atas nama Indu Nyai untuk tiwah Lihan R.Simpei, ada atas nama Tayang untuk tiwah Bp.Tayang dan Indu Tayang, atas nama Indu Wahyu untuk tiwah Terli D.Lenjun, terakhir atas nama Indu Yuli untuk tiwah Deming S.Gasan berupa satu ekor sapi.

Pada tabuh ke-2 tersebut, yang mendapat kehormatan pertama hewan di korbankan berupa seekor kerbau jantan ukuran besar, atas nama Arton S.Dohong yang dikenal sebagai Ketua DPRD Kalteng.

Tabuh merupakan puncak acara tiwah ditandai penyembelihan hewan korban, dengan cara unik di tombak secara bergantian oleh keluarga tiwah, sampai hewan roboh baru di sembelih oleh petugas khusus.

Uniknya hewan korban diikat di sebuah kayu ulin yang sebelumnya diukir menjadi patung, yang disebut “sapundu” dan melalui prosesi ritual oleh petugas khusus dan keluarga tiwah.

Baca Juga :  Banyak Infrastruktur Rusak, Kadisdik Reza Berharap Program CSR Bantu Revitalisasi Gedung Sekolah

Penombakan hewan korban inilah menjadi pusat tontonan dan wisatawan asal Jerman bernama Hanno (66) yang memiliki putri bernama Stella. Selain acara puncak, semua ritual mulai dari persiapan hingga berakhir menurutnya sangat menarik diikuti.

Bahkan ia mengaku telah mendokumentasi tradisi ritual tiwah umat Kaharingan itu sejak 30 tahun lalu. Diakui ada perbedaan tiwah kekinian dan masa lalu.

Ia mengaku yakin, tradisi tiwah sangat kuat mengakar di kalangan umat Kaharingan dan generasi mudanya. Karena itu, Hanno percaya tiwah tak akan lekang oleh waktu dan serbuan modernusasi.

“Tradisi ini akan tetap tumbuh dan berkembang, meski harus menyesuaikan dengan perkembangan modern” ucapnya. (drt/KPO-3)

Iklan
Iklan